Bandung

0
7 views

Garut News ( Ahad, 26/04 – 2015 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Pada umur 12 ia sudah tahu banyak tentang kemarahan. Dengan masa lalu seperti itulah ia datang ke Bandung, 1955. Richard Wright: saksi yang sejak kecil ditindas, seperti penghuni Afrika dan Asia di masa penjajahan, dan pada akhirnya memerdekakan diri.

Di hari itu, di jalan yang dulu disebut Grote Postweg, sastrawan kulit hitam itu melihat sesuatu yang penting dalam sejarah hidup orang semacam dia: “Yang dibenci, yang dihina, yang dilukai, yang dimiskinkan sedang bertemu.”

Ia menuliskan frasa itu dalam The Color Curtain, 1956. Dari tiap alineanya terasa Wright yang berharap, merenung, tergerak, dan di sana-sini salah sangka.

Dengan mobil kami melalui gedung konferensi itu dan melihat bendera 29 negeri Asia dan Afrika berkibar pelan ditiup angin yang lemah; jalan sudah penuh kerumunan, dan wajah mereka yang hitam dan kuning dan cokelat menatap bersemangat ke setiap sedan yang lewat mata mereka yang sipit mengintip dengan penuh minat untuk bisa melihat seorang U Nu, seorang Zhou Enlai, atau seorang Nehru.

Di Indonesia, apalagi 60 tahun kemudian, kita tertegun membaca betapa warna kulit begitu mencolok bagi Wright. Tapi tak cuma kita.

Seorang wartawan Amerika yang pernah lama di Tiongkok menulis sebuah resensi di The New York Times, 18 Maret 1956: ia menilai The Color Curtain melebih-lebihkan warna kulit sebagai pengikat persatuan bangsa-bangsa Asia-Afrika: “Mr. Wright overplays the color angle.”

Mochtar Lubis, yang bertemu dan berdiskusi dengannya di Tugu, menyimpulkan: Wright memang melihat segala sesuatu dengan “kacamata berwarna”, menelaah banyak hal sebagai persoalan rasial.

Tapi penulis Black Boy itu mungkin tak bisa mengelak dari warna. Baginya, seperti tertera dalam karya otobiografis itu, warna kulit adalah sejarah politik.

Ia anak negro dari Amerika bagian selatan, di Mississippi, di awal abad ke-20, di zaman ketika kulit hitam sama dengan kodrat keledai yang berkudis. Dihina, diperah, disisihkan. Ia anak yang ditinggalkan bapaknya. Ibunya tak punya uang untuk sewa tempat tinggal, tak cukup menyediakan makan.

Lapar, seperti tergambar dalam Black Boy, seakan-akan hadir mengikuti Richard kecil. Pada suatu saat, lapar terasa duduk di dipan tempat ia tidur, menatapnya dengan muka kuyu.

“Tiap kali aku minta makan, Ibu akan menuangkan secangkir teh.” Tak ada roti.

Pada umur 12, aku telah punya sikap hidup yang melekat terus, semangat yang membuatku mengerti lebih dalam kesengsaraan orang lain.

Ia pindah ke Chicago, bekerja di kantor pos, kemudian menganggur. Ia mulai dekat dengan Partai Komunis yang membentuk solidaritas orang-orang yang terhina dan kosong perut. Ia merasa tak sendiri.

Tapi satu dasawarsa kemudian partai itu ditinggalkannya. Wright, seperti banyak penulis komunis masa itu, menentang tindakan Stalin menghukum mati tokoh-tokoh Partai yang jadi pesaingnya.

Tapi komunisme membuat dirinya jadi bagian sebuah subyek tanpa batas nasional.

Ia meninggalkan Amerika. Ia sudah jadi pengarang yang dikenal dan hidupnya sangat membaik di Kota New York, tapi ia memilih hidup di Paris, seorang migrĀ  yang berteman dengan Sartre dan Albert Camus. Ia jadi warga negara Prancis pada 1947.

“Kekuatan sejarah yang lebih perkasa membentuk aku jadi seorang Barat,” katanya dalam sebuah ceramah.

Tapi tak jelas apa arti “seorang Barat”. Wright sadar akan warna kulit dan sejarah hidupnya yang pahit karena warna itu. Ia ikut mendirikan Prsence Africaine, sebuah organisasi untuk memperkenalkan karya sastra dan pemikiran para penulis asal Afrika yang hidup di Eropa.

Tapi ia tahu, ia orang yang “tak berakar”-dan tak merasa risau dengan keadaan itu.

Itu sebabnya ia menampik pertalian dengan khazanah nenek moyang. Ia menolak semangat para penulis keturunan Afrika yang menyuarakan ide negritude. Ketika ia mengunjungi Ghana dan kemudian menulis Black Power, 1954, ia tak hendak mencari akar.

Ia seperti para penulis Indonesia yang membuat “Surat Kepercayaan Gelanggang”: tak ingin “mengelap-elap” hasil kebudayaan lama. Dalam salah satu ceramahnya ia menohok Afrika dengan pertanyaan yang menggugat:

Sanggupkah Afrika mencopot Afrikanisme dari Afrika? Sanggupkah orang Afrika mengatasi sikap sendiri yang memuja nenek moyang?

Seperti Takdir Alisjahbana di pertengahan pertama abad ke-20, Wright penganjur sikap rasional Eropa: ia tantang orang Afrika untuk meniru Descartes yang meragukan semua yang dilihat dan didengar dan dengan itu “mengembangkan semangat obyektivitas” dan “menguasai teknik ilmu”.

Tentu saja ini suara seseorang yang berjarak dari orang yang diajak berbicara, tapi juga suara orang yang sadar dirinya lebih piawai.

Mungkin itu sebabnya para intelektual Indonesia yang ditemuinya selama di Indonesia memandangnya dengan negatif, meskipun mereka orang yang sebenarnya sepaham dengannya.

Di majalah Siasat Asrul Sani mencemooh Wright yang tak paham bahwa orang Indonesia-berbeda dengan orang “Barat”-tak biasa memakai kertas toilet untuk cebok.

Tapi bukan saja kepada Afrika dan Asia Wright menganjurkan rasionalisme “Barat”. Ia berkunjung ke Spanyol setahun sebelum Bandung: baginya negeri ini mandek di masa lalu.

Dalam Pagan Spain, ia melihat kemandekan itu pada 1492, ketika orang Yahudi dan muslim dibasmi dan pemikiran yang bebas dibumihanguskan. Kini yang tersisa hanyalah “ampas berlumpur paganisme yang irasional”.

Tapi yang menarik, di sini Wright tak mengenakan “kacamata berwarna”. Di Spanyol yang putih, bukan cuma si kulit berwarna yang dinistakan, tapi juga perempuan-perempuan Protestan.

Ia kemudian ke Bandung. Saya kira ia bisa mengerti: arti antithesis Asia-Afrika yang sebenarnya adalah penindasan di mana saja.

Goenawan Mohamad/Tempo.co