Bandul Harga Minyak Dunia

0
49 views

A. Rinto Pudyantoro, Penulis Buku Dialog: Tanya Jawab Migas

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Selasa, 26/01 – 2016 ).

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Walau sudah diprediksi, tampaknya harga minyak dunia WTI (West Texas Intermediate) pada awal 2016 yang menembus US$ 30 per barel membuat gundah pelaku bisnis hulu migas. Apalagi International Monetary Fund (IMF) memprediksi harga minyak dunia rata-rata tahun ini hanya US$ 5-20 per barel.

Apakah benar harga minyak akan sedemikian rendah, lebih murah dibandingkan air mineral sekalipun?

Harga minyak dunia memang sulit diprediksi karena tidak melulu mengikuti kaidah penetapan harga berdasarkan ongkos ditambah margin. Harga minyak lebih banyak dipengaruhi oleh pasar. Keseimbangan antara pasokan dan permintaan memiliki peran dominan.

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Kecenderungan peningkatan pasokan minyak, tapi diikuti oleh penurunan permintaan, akan memaksa harga minyak turun. Proses penurunan harga tersebut dipercayai akan menggerakkan kenaikan jumlah barang yang diminta dan, sebaliknya, menurunkan keinginan penjual untuk menawarkan barangnya.

Proses penyesuaian tersebut akan berhenti di satu titik harga tertentu ketika terjadi keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Proses yang sama akan terjadi jika yang terjadi hal sebaliknya. Sesederhana itu teorinya. Namun, harga minyak menjadi tidak sederhana ketika mengidentifikasi berbagai hal yang mempengaruhi pasokan dan permintaan.

Harga minyak terjadi di dua pasar, yaitu pasar spot dan pasar future atau pasar turunan. Pasar spot berarti harga terbentuk bersamaan dengan serah-terima barang. Namun ternyata pasar spot minyak tidak seperti itu. Pasar spot minyak masih mengandung unsur spekulasi yang dipengaruhi oleh ekspektasi penjual dan pembeli.

Tidak terlalu berbeda jika dibandingkan dengan pasar turunan. Jual-beli minyak di pasar mana pun tetap saja mengandung unsur spekulasi.

Harga minyak di pasar spot lebih dimaknai kesepakatan harga minyak saat ini untuk delivery atau pengiriman barang beberapa waktu kemudian. Bisa dalam hitungan minggu, satu bulan, dua bulan, atau lebih, bergantung pada kesepakatan.

Artinya, ketika penjual dan pembeli hendak bersepakat dengan harga saat ini, pada saat yang sama sejatinya mereka “menyimpan” ekspektasi terhadap harga minyak saat penyerahan nanti.

Ilustrasi. Penduduk Garut Masih Banyak Gunakan Minyak Tanah.
Ilustrasi. Penduduk Garut Masih Banyak Gunakan Minyak Tanah.

Sebagai contoh. Anggap saat ini harga minyak satu barel US$ 30. Jika transaksi spot dilakukan saat ini, harga jual-beli yang akan disepakati saat ini tidak harus sebesar US$ 30. Mengapa? Karena minyak tidak akan diserahterimakan sekarang juga.

Berdasarkan pengalaman pada 2015, analis pasar minyak Nick Cunningham menyimpulkan bahwa ekspektasi pelaku bisnis perminyakan dipengaruhi oleh lima faktor utama, yaitu perekonomian Republik Rakyat Cina, pengembangan shale oil di Amerika, elastisitas permintaan minyak, kesepakatan OPEC, dan geopolitik di wilayah Timur Tengah.

Cina adalah negara pengkonsumsi minyak terbesar di dunia setelah Amerika. Lebih dari 12 persen minyak dunia dikonsumsi oleh Cina. Akibatnya, pembentukan harga minyak dunia sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan perekonomian Cina. Penurunan perekonomian Cina pada 2015 menekan sangat kuat harga minyak dunia.

Demikian juga dengan pertumbuhan shale oil (tentu termasuk juga shale gas) di Amerika akan mengancam harga untuk turun. Shale oil adalah metode baru pengambilan hidrokarbon dengan mengekstraksi langsung dari batuan sumber (resources rock). Teknologinya sangat kompleks, namun ditengarai Amerika mampu melakukannya.

Kemudian persoalan elastisitas permintaan. Normalnya, ketika harga minyak ditetapkan pada harga yang relatif rendah, akan direspons dengan kenaikan permintaan minyak. Tapi, seberapa cepat dan seberapa besar kenaikan permintaan minyak tersebut relatif terhadap penurunan harga?

Faktanya, pada 2015 jumlah permintaan minyak tidak bergerak naik terlalu cepat dan terlalu banyak ketika harga turun. Salah satu penyebabnya adalah perekonomian global yang tengah lesu.

Faktor berikutnya adalah peran OPEC yang hingga saat ini masih diperhitungkan, karena kartel pengekspor minyak ini masih mendominasi pemenuhan kebutuhan minyak dunia. Paling tidak, 41 persen dari total kebutuhan minyak dunia pada saat ini diproduksi oleh negara-negara anggota OPEC.

Terakhir, terkait dengan isu geopolitik. Kericuhan dan mungkin perang yang terjadi di kawasan Timur Tengah biasanya mendorong kenaikan harga minyak. Tapi rupanya kericuhan saat ini, yang salah satunya berkaitan dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), justru berdampak sebaliknya.

Arab Saudi rupanya rela menerima harga minyak rendah dengan tetap memutuskan untuk memproduksi minyak berlebih. Tujuannya adalah mengurangi “isi kantong dolar” ISIS. Mereka mengantisipasi bahwa ISIS mengandalkan hasil minyak untuk membiayai “perang”.

Untuk memprediksi harga minyak 2016 dapat dilakukan dengan memperkirakan “perilaku” lima faktor tersebut. Mereka yang pesimistis berpendapat bahwa pada 2016 kondisinya tidak akan jauh berbeda dengan tahun lalu, bahkan cenderung lebih buruk.

IMF adalah salah satunya. Sedangkan US Energy Information Administration lebih optimistis dan memprediksi harga minyak dunia rata-rata 2016 sebesar US$ 37 per barel.

*******

Kolom/Artikel Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here