Bahaya Laten Tuberkulosis Masih Mengepung Penduduk Garut

0
103 views

“60 Persen Pengindap AIDS di Garut Penderita TB Paru”

Garut News ( Senin, 15/12 – 2014 ).

Rakor/Lobi Eksekutif Upaya Penanggulangan Tb Paru, Senin (15/12-2014).
Rakor/Lobi Eksekutif Upaya Penanggulangan Tb Paru, Bersama ‘Aisyiah. Senin (15/12-2014).

Asisten Perekonomian Setda Kabupaten Garut, Ir H. Eddy Muharam, M.Si menyatakan, bahaya laten Tuberkulosis, atawa Tb Paru hingga kini masih mengepung penduduk di kabupatennya.

Sehingga para penderita penyakit menular tersebut, kudu diselamatkan bahkan melalui ragam pendekatan kita bersama, masyarakat pun harus memiliki imunitas dari ancaman kematian lantaran Tuberkulosis itu, imbuh Eddy Muharam seusai memimpin Rakor membahas penanggulangan penyakit disebabkan kuman Myckrobacterium tuberkulosis ini.

Eddy Muharam.
Eddy Muharam.

Dikemukakan apresiasi positipnya terhadap pelaksanaan program penanggulangan Tb oleh ‘Aisyiah selama ini, dinilai sangat membantu Pemkab setempat.

Didesak pertanyaan Garut News mengenai sejauhmana peran setiap seluruh institusi teknis terkait Pemkab Garut, terutama pengalokasian anggaran membantu ‘Aisyiah menurunkan populasi penderita Tb?

Eddy Muharam katakan, selama ini direalisasikan melalui Dinas Kesehatan setempat, meski pengalokasian anggaran bagi Dinkes pun pada APBD 2015 masih di bawah sepuluh persen, padahal pengalokasian dana ini minimal sepuluh persen.

Ai Rustini, S.Ag.
Ai Rustini, S.Ag.

Kembali didesak pertanyaan kemungkinan bisa langsung khusus mengalokasikan dari APBD, dikemukakan Eddy Muharam tak mustahil dapat dilakukan yakni pada perubahan APBD 2015, katanya.

dr Malinda dari Dinkes setempat, antara lain mengemukakan Bidang Pengendalian Penyakit pada Dinkes Kabupaten Garut mendapat pagu anggaran bersumber APBD 2015 hanya 50 persen dari kebutuhan.

Sehingga hanya bisa membantu mobilitas trasfortasi pasien penderita “Multy Drug Resistent” (MDR), katanya pula.

Neni Rahmawati.
Neni Rahmawati.

Wasor Tb Neni Rahmawati juga dari Dinkes Garut katakan, hingga triwulan ketiga September 2014 terdapat temuan 1.208 penderita “Baksil Tahan Asam” (BTA) positip, 9.057 suspek penderita Tb paru, serta terdapat 20 penderita MDR.

Sebanyak 20 penderita MDR tersebut, lima di antaranya tewas, dua droft out (DO), dua sembuh, serta 11 penderita masih menjalani proses pengobatan, ungkap Neni Rahmawati.

Pengelola Program “Komite Penanggulangan AIDS” (KPA) Guntur Yana Hidayat mengingatkan, dari 297 pengindap AIDS di Kabupaten Garut, 60 persen di antaranya juga penderita Tb paru, sedangkan penderita HIV kini mencapai 105.

Guntur Yana Hidayat.
Guntur Yana Hidayat.

Dalam pada itu Ketua “Ikatan Dokter Indonesia” (IDI) kabupaten setempat, dr Yanto, Sp.KK antara lain berpendapat, upaya penanggulangan Tb paru hendaknya pula berbasiskan nilai-nilai adiluhung kearifan lokal masyarakat.

Di antaranya mengadopsi arsitek rumah sehat, juga perlunya menumbuhkan perilaku hidup sehat, lantaran tingginya kematian ibu saat bersalin juga sebagian besar penyumbangnya Tb paru.

“Kerugian Lantaran Tb Paru Capai Rp1,4 Miliar Setiap Tahun”

dr Yanto, Sp.KK
dr Yanto, Sp.KK

Agus Rahmat Nugraha dari Tim Peneliti Ansit Universitas Achmad Dahlan Yogyakarta dan STAIDA Muhammadiyah Garut menyatakan, temuan peneliti berdasar metode Daly menunjukkan, pemerintah juga masyarakat kudu mengeluarkan biaya Rp15,4 miliar per tahun untuk penanggulangan Tb ini.

Penyebab langsungnya Mycrobacterium tuberkulosis, sedangkan penyebab tak langsung hunian tak sehat dan rendahnya kesadaran perilaku sehat, dengan basis atawa akar permasalahannya berupa kesejahteraan rendah dan kebijakan anggaran pemerintah.

Bahkan di luar Kabupaten Garut, terdapat Pemerintah Daerah mengalokasikan khusus dari APBD bagi penanggulangan jenis penyakit menular penyebab kematian utama di Indonesia ini.

Agus Rahmat Nugraha.
Agus Rahmat Nugraha.

Produk analisis situasi Tb di Kabupaten Garut, merekomendasikan mendesak perlu program teknis memerbaiki kondisi lingkungan penduduk, agar memenuhi persyaratan hunian ideal.

Kemudian, perlu program edukasi kesehatan terkait Tb dengan melibatkan para pihak non pemerintah, kelompok adat, dan keagamaan.

Serta rekomendasi sangat diperluklannya “Political Will” berupa kebijakan anggaran.

Dikemukakan Agus Rahmat Nugraha, faktor pengaruhi pravelensi Tb di Kabupaten Garut, terdiri kondisi individu berupa pendidikan, perilaku, dan pemahaman.

Disusul kondisi lingkungan meliputi pencahayaan, kelembapan, serta suhu.

AKSM SR Jabar.
AKSM SR Jabar.

Kemudian kondisi layanan jasa kesehatan berupa kualitas SDM, dukungan dana, serta ketersediaan fasilitas, katanya.

Kepala SSR ‘Aisyiah, Ai Rustini, S.Ag detail mempresentasikan beragam upaya institusinya menjaring temuan, identivikasi juga proses penanggulangan, serta dibangunnya jalinan komunikasi serta koordinasi.

Antara lain menggandeng BKPM, Klinik Utama Yasifa, Yahintara, GFC, Pramuka, PKK, KPA-PKBI.

Pada seluruh rangkaian helatan Rakor serta lobi eksekutif penanggulangan TB paru itu, dihadiri Ketua Pengurus Daerah ‘Aisyiah Kabupaten Garut, Dra Yati Rd juga Koordinator Pelaksana Program Penanggulangan Tb ‘Aisyiah dr Sakinah Ginna R.

Fasilitator.
Fasilitator.

Dipandu fasilitator Susi Budiani, di antaranya dihadiri pula para pemanggu kewajiban dari Dinsosnakertrans, Lembaga Pemasyarakatan, Bappeda, Dinkes, Adkesra.

Sedangkan Distarkim dan Dinas Koperasi meski diundang namun tanpa alasan tak menghadirinya, padahal Dinas Koperasi berkepentingan bisa memberdayakan pelaku usaha kecil menengah dan mikro penderita Tb paru,.

Sedangkan Distarkim berkewajiban mewujudkan rumah atawa hunian yang layak dan sehat, ungkap Budiani, antara lain mnambahkan.

Menyusul di Kabupaten Garut masih terdapat sedikitnya 53 ribu “Rumah Tak Layak Huni” (RTH).

********

Esay/ Foto : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here