You are here
Bahaya Baru Amerika OPINI 

Bahaya Baru Amerika

Garut News, ( Senin, 07/10 ).

Ilustrasi. (Ist).
Ilustrasi. (Ist).

Amerika tak henti-hentinya menebar ancaman bagi perekonomian Indonesia.

Setelah bahaya kebijakan moneter berlalu, kini muncul persoalan baru.

Sejak Selasa lalu, pemerintah Amerika mati suri (shutdown) lantaran rancangan anggarannya ditolak Kongres.

Kegiatan pemerintahan praktis berhenti sebab tak ada lagi anggaran.

Presiden Barack Obama pun membatalkan keda­tangannya ke Bali untuk menghadiri KTT APEC.

Bukan hanya Obama pusing.

Penghentian sementara kegiatan pemerintah ini bisa berdampak besar terhadap negara lain, termasuk Indonesia.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menghitung, jika penghentian kegiatan pemerintahan ini berlangsung dua pekan, pertumbuhan ekonomi Amerika turun 0,5 persen.

Dan jika sebulan, bisa anjlok 1,4 persen.

Dampaknya segera terasa bagi Indonesia, ekonominya sedikit-banyak bergantung pada Amerika.

Negara adidaya itu masuk dalam tiga besar negara tujuan ekspor Indonesia, di bawah Cina dan Jepang.

Pangsa pasar Amerika kegiatan ekspor Indonesia cukup signifikan, hampir 10 persen.

Sebelum ekonomi Cina melejit, Amerika selalu menduduki posisi pertama di Indonesia.

Lesunya kegiatan Amerika sebelum masalah buntunya pembahasan anggaran sebetulnya terasa sejak krisis finansial melanda negara itu pada 2005, dan 2008.

Selama delapan bulan pertama tahun ini, Indonesia mengekspor hampir US$ 10 miliar ke Amerika, turun tujuh persen dibanding nilai dua tahun sebelumnya.

Investasi Amerika tahun lalu, sebesar US$ 1,24 miliar, juga turun nyaris 17 persen dibanding 2011.

Jika kebuntuan itu berlangsung lebih lama, perekonomian Amerika pasti semakin melambat.

Indonesia mesti bersiap-siap lantaran permintaan dari negara itu juga bakal menurun.

Kejadian pada 2009, setelah Amerika dihajar krisis, bisa kembali terulang.

Saat itu ekspor Indonesia ke Amerika hanya US$ 10,5 miliar, atawa jatuh lebih dari 12 persen.

Investasi diperkirakan juga tak sebesar tahun lalu.

Pilihan tak banyak, sebab nyaris semua negara menghadapi persoalan ekonomi.

Indonesia akan sulit mengandalkan ekspor, baik dari pasar tradisional seperti Cina, dan Jepang atawa pasar baru, lantaran ekspor Indonesia rata-rata turun.

Pada saat sama, impor justru terus naik.

Bahaya tak hanya lantaran ekonomi melambat, tetapi juga terhadap neraca transaksi berjalan, dan pada akhirnya terhadap nilai tukar rupiah.

Pada kondisi itu, Indonesia semestinya seperti peselancar mampu mengikuti alur ombak, bukan melawannya.

Artinya, inilah saat tepat bagi Indonesia melakukan konsolidasi.

Beragam perbaikan kudu dilakukan, antara lain di pelabuhan saat ini masih acak-adut dan mahal, biaya transportasi tinggi, serta pungutan liar tetap menghantui kalangan bisnis.

Persoalan perburuhan juga terus menjadi duri dalam daging sulit diselesaikan.

Semua itu diperlukan agar daya saing Indonesia bisa meningkat.

Dengan demikian, ketika ekonomi dunia, terutama Amerika dan Eropa, membaik, saat itu Indonesia jauh lebih siap berlari lebih kencang.

***** Opini/ Tempo.co

Related posts

Leave a Comment