You are here
Badai Haiyan dan Perubahan Iklim ARTIKEL 

Badai Haiyan dan Perubahan Iklim

 Jalal, Aktivis Lingkar Studi CSR

Jakarta, Garut News ( Kamis, 14/11 ).

Ist.
Ist.

Yeb Sano, juru bicara delegasi Filipina dalam Konferensi Perubahan Iklim ke-19 (11-22 November 2013) di Warsawa, menangis ketika membawakan pidatonya pada hari pertama.

Ia terkenang kondisi saudara-saudara sebangsanya yang hidupnya porak-poranda dihajar badai Haiyan.

Ia meyakini bahwa apa yang terjadi itu merupakan dampak perubahan iklim.

Untuk itu, dia meminta agar delegasi negara-negara yang hadir dapat mengambil keputusan cerdas untuk membalik kecenderungan perubahan iklim supaya korban jiwa dan harta tak lagi semakin banyak.

Ia menambahkan satu hal lagi yang membuat semua peserta terhenyak turut menangis: dia bersumpah tak akan menyentuh makanan sama sekali hingga ada keputusan cerdas bisa dibuat oleh seluruh peserta konferensi.

Jelas, ini merupakan pembukaan konferensi perubahan iklim paling dramatis yang pernah ada.

Pertanyaan di banyak benak peserta konferensi tersebut, dan banyak orang lain, adalah apakah benar ada kaitan antara perubahan iklim dan badai yang muncul di berbagai belahan dunia.

Konsensus ilmiah soal hubungan keduanya tampak belum tercapai, tapi kecenderungan ke arah sana jelas sudah bisa dibaca.

Kerry Emanuel, salah seorang pakar badai tropis paling terkemuka di dunia, menulis di jurnal Nature Nomor 436/2005, bahwa data menunjukkan kecenderungan daya rusak yang semakin besar dari badai-badai yang muncul sejak pertengahan 1970-an.

Banyak studi sebelumnya, yang menyimpulkan tak ada hubungan antara badai dan perubahan iklim, sebetulnya disebabkan oleh hubungan di antara keduanya direduksi menjadi sekadar frekuensi.

Emanuel menggunakan ukuran yang berbeda, yaitu indeks daya rusak, yang menggabungkan antara durasi badai dan kecepatan angin.

Begitu ukuran tersebut dipergunakan, sangat jelas bahwa kerusakan akibat badai semakin tinggi, berkaitan dengan meningkatnya suhu air laut dan semakin banyaknya uap air dan hal-hal lainnya yang disebabkan oleh pemanasan global.

Studi Emanuel tersebut mendapatkan banyak sekali tanggapan, terutama tentangan.

Tapi kemudian sangat jelas bahwa data yang dipergunakannya solid, dan kesimpulannya sulit disangkal.

Ada memang penelitian yang menunjukkan bahwa sebetulnya frekuensi badai kecenderungannya malah sedikit menurun.

Tapi, ketika jumlah badai tersebut ditapis dengan kekuatan badai, segera terlihat bahwa badai-badai kecil hingga sedang (kategori 1-3) memang menurun, tapi badai-badai besar (kategori 4-5) jumlahnya meningkat.

Tetap saja, kerusakan yang ditimbulkannya memang semakin besar.

Kini, kecenderungan di kalangan pakar adalah menerima kesimpulan Emanuel.

Berselang 8 tahun, Emanuel kemudian menggegerkan jagat klimatologi lagi.

Melalui artikelnya di Proceedings of National Academy of Sciences edisi Juni 2013, dia memberikan ramalan yang mengerikan.

Bukan saja daya rusak badai akan semakin meningkat di masa mendatang, frekuensi badai juga diperkirakan akan meningkat di hampir seluruh lokasi di dunia.

Kekecualiannya hanyalah di kawasan Pasifik Barat Daya.

Ia menggunakan model-model paling canggih yang sekarang ada, dan sampai kepada kesimpulan itu.

Tentu saja kontroversi atas temuannya akan terjadi.

Para ilmuwan yang mengakui bahwa perubahan iklim memang terjadi, dengan sangat berhati-hati memeriksa data dan kesimpulan Emanuel.

Tapi para penentang adanya perubahan iklim sudah menuliskan artikel-artikel yang berisi penolakan.

Sayang, temuan Emanuel datang terlambat, sehingga tak bisa masuk dalam dokumen Climate Change 2013, The Physical Science Basis, atau yang lebih dikenal sebagai Fifth Assessment Report, yang dikeluarkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).

Kalau bisa masuk ke dalamnya, mungkin perundingan perubahan iklim yang didasari laporan tersebut akan lebih mudah menerima pendirian Yeb Sano, bukan sekadar bersimpati pada tangisannya.

Sebetulnya, seluruh perunding pada Konferensi Perubahan Iklim ini tak perlu diajak menangis atau diancam menyaksikan Yeb Sano menjadi kelaparan.

Jelas, akibat perubahan iklim, hingga sekarang kita semua telah menyaksikan jutaan tangisan dan penderitaan akibat kelaparan.

Dampak perubahan iklim berupa kekeringan dan banjir atau disebut oleh Joseph Romm, sekaligus menjadi tajuk bukunya, sebagai Hell and High Water (2006) di dunia ini sudah banyak dituliskan.

Kombinasi semakin parahnya kekeringan dan banjir adalah keamanan pangan yang menurun.

Itu semua sudah dijelaskan penyebabnya dalam laporan IPCC (2013) tersebut: aktivitas manusia.

Sudah dalam beberapa laporan IPCC kita baca bahwa perubahan iklim disumbang oleh penyebab antropogenik, tapi baru dalam laporan itu kita membaca pernyataan setegas “hampir dapat dipastikan (extremely likely) bahwa pengaruh manusia adalah penyebab dominan dari peningkatan suhu sejak pertengahan abad ke-20.”

Jelas, kita semua membutuhkan para delegasi yang sedang berunding itu untuk memanfaatkan pengetahuan terbaru menjadi tindakan, dengan mengambil keputusan penurunan emisi yang lebih besar dan mengikat.

Kita sangat membutuhkan penegakan janji penurunan emisi yang telah dan akan dibuat.

Atau, umat manusia akan terus dihajar oleh berbagai bencana yang semakin mengerikan.

Sumber : Kolom/artikel Tempo.co

Related posts

Leave a Comment