Babi Yar

Garut News ( Ahad, 01/06 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Pada 1961, Yevgeny Yevtushenko menulis sajak tentang orang-orang yang terbunuh di jurang panjang yang suram di timur laut Sungai Dnieper:

Akulah tiap orang tua

yang di sini

ditembak mati

Akulah tiap anak

yang di sini

ditembak mati

Dua puluh tahun sebelumnya, di jurang di Ukraina itu, di Babi Yar, hampir 34 ribu orang Yahudi-termasuk anak-anak, orang tua, perempuan-dibunuh pasukan Jerman hanya dalam waktu dua hari, 29-30 September 1941.

Yevtushenko bukan Yahudi; sajak itu, “Babi Yar”, menyatakan, “dalam diriku tak ada darah Yahudi.”

Tapi ia menggugat apa yang terjadi di tempat itu sebagai kebuasan yang sedang dilupakan-dan dengan demikian juga kebuasan lain di masa lalu yang tak diakui.

Penyair Rusia ini menuliskan sajaknya setelah Stalin mangkat dan orang bisa membacanya sebagai pengingat kekejaman yang pernah terjadi di masa lalunya sendiri-sebagaimana kita di Indonesia akan bisa membacanya dengan ingatan yang mirip.

Tentu, pembantaian Jerman terhadap orang Yahudi tak terbandingkan-karena tiap kekejaman sebenarnya tak bisa dibandingkan.

Seperti yang di Babi Yar itu.

Seorang sopir truk pasukan Jerman yang berada di tempat itu menceritakan kesaksiannya:

Setelah ditelanjangi, orang-orang Yahudi itu digiring ke dalam jurang, melalui dua atau tiga celah masuk.

Ketika mereka sampai di dasar, para petugas Schutzpolizei mendorong mereka agar berbaring di atas mayat orang-orang yang baru saja ditembak.

Semua terjadi dengan cepat.

Mayat itu berlapis-lapis.

Seorang polisi datang dan menembak leher tiap orang Yahudi di tempat ia terbaring dengan senapan semi-otomatis….

Begitu satu orang Yahudi tewas, si penembak akan berjalan melintasi tubuh orang mati itu untuk menembak korban yang lain.

Ini berlangsung tanpa henti, dan semua-laki-laki, perempuan, anak-anak-dihabisi.

Anak-anak dibaringkan dekat ibu mereka dan ditembak bersama-sama.

Tapi, dengan kekejaman yang membunuh hampir 34 ribu orang dalam dua hari, yang tak terbandingkan itu tetap memergoki kita dengan pertanyaan tentang manusia pada umumnya: sebuas itukah makhluk ini?

Dari sejarah Jerman, jawabnya bisa bermacam-macam.

Ada kebencian rasial kepada mereka yang berbeda, dan sejak sekian abad yang lalu yang berbeda itu berarti Yahudi.

Ada perasaan bangsa yang terhina dan rakyat yang menderita setelah kekalahan dalam Perang Dunia I, disertai kerinduan akan negara kuat, pemimpin yang kuat, dengan dendam yang berkobar.

Tapi, dengan sebab-musabab yang khas Jerman seperti itu, Hitler dan rezimnya tetap ingin diakui sebagai bagian dari sesuatu yang universal.

Sang Führer percaya bahwa kehidupan pada dasarnya bengis: “Hukum kehidupan di dunia,” kata Hitler dalam sebuah jamuan siang 10 Oktober 1941, “mengharuskan pembunuhan yang terus-menerus, agar mereka yang mutunya lebih baik bisa hidup.”

Yang merisaukan adalah bahwa pembunuhan memang terjadi di tempat lain, dilakukan bangsa lain-seakan-akan sejarah tak bisa berubah, manusia pada dasarnya bengis, dan Hitler membawakan tata normatif yang benar: “hukum”-nya layak sebagai hukum, bersifat kekal, dan berlaku di mana saja.

Tapi kita ingat: ia menyebut “kehidupan”.

Kehidupan berubah.

Beberapa kekejaman yang terjadi bukanlah sekadar versi baru dari thema yang itu-itu juga.

Hitler sendiri berada dalam zaman yang lain dari zaman Genghis Khan, misalnya, dengan ambisi dan hasrat yang lain dan cara-cara melaksanakan hasrat yang lain pula.

Maka ketika ia mengemukakan bahwa pembunuhan adalah “hukum kehidupan”, ia sesungguhnya mencoba menghalalkan kekejaman dan pembinasaan yang dirancang dan dilaksanakannya.

Ia seperti hendak mengatakan, “Aku tak bersalah, aku hanya menjalankan apa yang sudah ada dan akan ada terus dalam sejarah manusia.”

Yang tak diakuinya ialah bahwa ia perlu mengajukan apologi itu (atas nama “hukum kehidupan”) karena ada sesuatu yang lain, yang berada di luar “kehidupan” yang dilihatnya: ada suatu tata normatif yang berbeda, sesuatu yang belum ditaklukkannya.

Dan itulah yang kemudian terbukti.

Tata normatif Hitler tak bisa bertahan, bukan hanya karena ia kalah perang.

Sajak Yevtushenko menuturkan: bila kekejaman menemukan sekutunya di masa lain, di tempat lain, demikian juga sang korban.

Sang “aku” yang merasa senasib dengan mereka yang dibantai di jurang Babi Yar juga melihat dirinya di tempat pembunuhan yang jauh, di sebuah hari yang jauh:

Dan di sini, pada salib, aku mereka musnahkan dalam siksa,

Dan sisa paku itu di tubuhku masih ada

Dengan kata lain, kepada kekejaman baru akan selalu ada gugatan baru.

Juga orang-orang yang berkata “tidak” secara baru.

Goenawan Mohamad/ Tempo.co

Related posts

Leave a Comment