Baasyir, Pemred Obor Rakyat: Bersyukurlah Pak Ahok?

0
28 views
Massa pendukung Ahok berkumpul di seberang Markas Brimob Polri Kelapa Dua Depok Jawa Barat, Kamis (24/1). Foto: Republika/Umar Mukhtar.

Kamis 24 Jan 2019 11:56 WIB
Red: Muhammad Subarkah

Massa pendukung Ahok berkumpul di seberang Markas Brimob Polri Kelapa Dua Depok Jawa Barat, Kamis (24/1). Foto: Republika/Umar Mukhtar.

“Semua perlu mengucapkan selamat karena menjadi penghuni penjara memang tak enak”

Oleh; Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Hari ini hari tentu menjadi hari membahagiakan dari Basuki Tjahaja Purnama yang akrab dipanggil Ahok. Mantan gubernur DKI ini telah usai menjalani hari-hari panjangnya setelah terkena vonis pidana penodaan agama.

Para pendukung dan penggemar fanatiknya pun bergembira. Puluhan pendukung Ahok siap menjemput kebebasannya sambil melakukan orasi dan bernyanyi Indonesia Raya di depan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Kamis (24/1).

Para pendukung yang sebagian besar mengenakan baju kotak-kotak merah ini menjemput Ahok yang hari ini bebas setelah menjalani hukumannya selama satu tahun delapan bulan 15 hari di Rumah Tahanan (Rutan) Mako Brimob.

Selain bernyanyi, mereka juga meneriakkan yel-yel ungkapan kegembiraan atas bebasnya Ahok. Suasana di depan Mako Brimob juga dipenuhi ratusan wartawan yang ingin mengabadikan kebebasan mantan gubernur DKI Jakarta ini.

Sejumlah warga berbaur dengan wartawan menunggu keluarnya Ahok di depan pintu utama Mako Brimob, Depok, Kamis (24/1). Polisi sibuk mengatur arus lalu lintas agar tak macet. Aparat keamanan menjaga kawasan itu dengan ketat untuk menghindari hal-hal negatif.

Apa pasal? Semua tahu, dibalik yang bergembira hari ini, masih juga ada yang emosi bahkan kecewa. Bedanya cuma cara mereka mengepresi dari model diam saja, menggerutu, hingga memberikan ‘pasemon’ (sindirian).

Itu karena Ahok terkena hukum atas kasus sensitif, yakni terjerat hukum dan dihukum penjara dalam perkara penodaan agama setelah video pidatonya di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016. Ahok dipermasalahkan setelah menyebut adanya pihak yang menggunakan Alquran Surah Al Maidah 51 untuk membohongi. Hal ini memicu serangkaian aksi besar dari organisasi massa Islam.

Mantan penghuni Lapas Cipinang dan Pemred Obor Rakyat Setiyardi, misalnya memberikan pesan bernada ’pasemon’ tersebut. Dan itu dilakukan sembari tertawa-tawa mencandai nasib buruk dirinya. ’’Bersyukurlah, Pak Ahok’’ kata Setiyardi ringan.

Menurut Setiyardi kembali menghirup udara bebas setelah ke luar dari pejara memang anugerah besar dan wajib disyukuri. Dan dia pun mengaku secara terbuka bila memang nasib Ahok jauh lebih beruntung dari pada dirinya.

‘’Ya tak seperti sayalah yang dijebloskan ke Penjara Cipinang di tengah malam. Tanpa pemberitahuan apapun sebelumnya. Ahok sungguh beruntung, tak masuk Penjara Cipinang yang diisi 4000-an napi, padahal kapasitas sesungguhnya hanya 880 saja,’’ujarnya.

Bukan hanya seperti itu, lanjut Seiyardi, nasib Ahok juga tak seburuk dirinya yang ditangkap di ruang publik, di Stasiun Gambir, dan difitnah sebagai buron. Padahal pihak jaksa rutin bertukar pesan di hand phone dengannya, dan menjadi teman media sosial. ‘’Padahal juga tak ada pemanggilan eksekusi. Padahal rumah saya persis di sebelah rumah Jaksa Agung Muda bidang Intelijen.”

“Maka, Ahok jelas tak seperti saya, yang merasakan sel Mapenaling Penjara Cipinang. Sel berisi 403 napi, dengan dua toilet bersama yang airnya saat itu hanya mengalir sejam pada tengah malam. Sel yang memaksa banyak nara pidana tidur bergantian karena tak cukup ruang,’’ ujar Setiardi melanjutkan ceritanya.

Jadi, menurut Setiyardi, memang benar-benar Ahok tak seperti dirinya yang akhirnya hanya sedikit ’beruntung’ mendapat jatah secuil tempat di blok kriminal yang sesak. Blok yang berisi pembunuh, perampok, pemerkosa dan orang gila. Yang airnya, entah mengapa, mati total selama tiga bulan. Yang memaksa saya pakai stok air mineral botol untuk sekadar cebok.

“Nah, apa pun itu Selamat menikmati kebebasan. 
Bersyukurlah, Pak Ahok,’’ tegasnya.

Uniknya, pada hari-hari ini juga ada kasus pembebasan narapidana yang menghebohkan. Kasus itu semua orang tahu yakni kasus pembebasan Ustaz Abu Bakar Baasyir. Meski sudah dikabarkan dan sempat dijamin oleh pengacara presiden akan bisa pulang dari penjara Gunung Sindhur, Bogor, Baasyir ternyata urung dibebaskan.

Padahal di pesantrennya di Ngruki Solo para santri dan aluminya sudah siap menyambutnya. Mereka pun telah mendirikan tenda, menyewa meja kursi, dan menyewa bus. Sambutan meriah sudah disiapkan. Acara prosesi dan segala pidato sambutan kedatangan sudah disusun.

Sayangnya, datangnya kebahagian itu urung. Tiba-tiba para elite pejabat negara membatalkannya. Alasannya, karena Baasyir tak mau menandatangi ikrar pengakuan setia pada Pancasila. Dan tak hanya pejabat dalam negeri yang ribut, pemimpin negara dan media asing juga senewen. Pasalnya, mereka tetap berkeyakinan Baasyir adalah inspirator segala aksi terorisme sehingga menjadi ‘most dangerous man in the wolrd’.

Atas citra diri Baasyir seperti itu tentu menjadi hal ruwet bila Ba’asyir bebas tanpa syarat seperti yang pernah para elite janjikan pekan silam. Apalagi situasi ini menjelang pelaksaan pemilihan presiden. Alhasil Baasyir tak seberuntung pelaku terpidana korupsi, Robert Tantular, yang menikmati bebas bersyarat.

Atau juga menikmati grasi layaknya terpidana otak pelaku pembunuhan seorang jurnalis di Bali yang kini sudah ramai diprotes tersebut.

Maka, apa pun alasannya itu, maka kini terasa dan sangat berharga bila mengucapkan selamat kepada Ahok. Selamat menikmati udara bebas, sebab bagaimanapun hidup dalam penjara yang terkungkung itu tak enak. Ingat pepatah: Orang akan mengerti betapa berharga arti kebebasan bila dia berada dalam penjara!

********

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here