Awan Kumulonimbus, Bagaimana Pemanasan Global Menantang Penerbangan Modern?

0
157 views

Garut News ( Selasa, 30/12 – 2014 ).

Citra cuaca MTSAT menunjukkan adanya awan tebal (warna merah) di sekitar lokasi AirAsia QZ8501 terakhir terdeteksi, antara Belitung Timur dan Kalimantan. (Lapan).
Citra cuaca MTSAT menunjukkan adanya awan tebal (warna merah) di sekitar lokasi AirAsia QZ8501 terakhir terdeteksi, antara Belitung Timur dan Kalimantan. (Lapan).

Awan kumulonimbus menghadang penerbangan AirAsia QZ8501 dari Surabaya ke Singapura pada Minggu (28/12/2014), diduga membuat pesawat harus berbelok ke kiri dan naik ke ketinggian 38.000 kaki.

Awan kumulonimbus yang oleh Direktur Utama AirNav Bambang Tjahjono disebut “musuh bersama penerbangan” itu jugalah yang kini menantang dunia penerbangan komersial yang relatif mapan dengan aturan terbangnya.

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Edvin Aldrian mengungkapkan bahwa awan kumulonimbus di wilayah tropis semacam Indonesia mengalami perubahan.

Edvin mengungkapkan bahwa perubahan itu terkait ukuran dan ketinggian awan berbahaya itu.
“Saya melihat bahwa pertumbuhan awan kumulonimbus itu sekarang makin besar dan makin tinggi,” katanya saat dihubungi Kompas.com, Senin (29/12/2014).

Edvin menyebut, perubahan pada awan kumulonimbus berhubungan dengan pemanasan global dan perubahan iklim.

Pemanasan global, yang di antaranya ditandai dengan anomali suhu muka laut serta anomali siklon tropis, mengintensifkan pembentukan awan kumulonimbus.

Edvin menuturkan, perubahan pada awan kumulonimbus menantang dunia penerbangan modern dengan aturan terbangnya.

Apakah aturan ketinggian terbang untuk pesawat yang dirancang saat ini masih relevan?

“Awan kumulonimbus yang lebih tinggi harus membuat penerbangan beradaptasi. Selama ini sudah ada aturan penerbangan domestik berapa, lintas benua berapa. Mungkin penerbangan harus pada ketinggian lebih tinggi lagi,” katanya.

Laporan penelitian tentang tren perubahan ukuran dan ketinggian awan kumulonimbus itu sebenarnya sudah disampaikan oleh para peneliti dunia.

Namun, kata Edvin, industri penerbangan belum menganggap serius.

Namun, pengamat penerbangan dari majalah Angkasa, Dudi Sudibyo, mengungkapkan bahwa terbang ketinggian lebih tinggi memunculkan tantangan baru pada soal teknologi pesawat terbang itu sendiri.

“Seperti yang terjadi pada AirAsia kemarin, ketinggian awan kumulonimbus itu 48.000 kaki. Dari situ memang harus menghindar karena pesawat komersial tidak bisa terbang melebihi 45.000 kaki,” katanya.

Terbang ke ketinggian lebih tinggi, kata Dudi, juga bakal menghadapkan pesawat pada masalah tekanan. Teknologi pesawat komersial saat ini sudah dirancang untuk terbang dengan batas tekanan tertentu.

Menurut Dudi, dalam kondisi dihadang awan kumulonimbus, satu-satunya cara adalah memang hanya menghindar, seperti permintaan pilot AirAsia QZ8501 kemarin yang meminta berbelok ke kiri.

Sementara itu, Zadrach Ledoufij Dupe, ahli meteorologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), mengkritisi hasil studi yang menyatakan bahwa awan kumulonimbus makin besar dan tinggi.

“Itu baru teori atau kualitatif atau memang sudah kuantitatif,” katanya. Ia juga meragukan tentang pemanasan global di Indonesia.

Menurut dia, masih sulit untuk mengonfirmasi terjadinya pemanasan global itu.

Sementara itu, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) memaparkan bahwa tren awan kumulonimbus yang lebih besar dan tinggi mungkin.

“Bukti-bukti cuaca menunjukkan kemungkinan itu,” ungkapnya.

“Suhu tinggi dan penguapan yang lebih cepat membuat awan kumulonimbus yang terbentuk lebih besar dan terdorong akan lebih tinggi,” ujarnya yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Pusat Sains Atmosfer di Lapan.

********

Editor : Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here