Avengers

0
28 views

Toriq Hadad
@thhadad

Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).

Tiba-tiba saya menemukan pahlawan. Dia bukan orang Istana, bukan pula tokoh partai, pimpinan ormas, olahragawan, apalagi pemuka kepolisian.

Saya ketemu jagoan-jagoan saya itu pekan lalu di sebuah mal di Jakarta Selatan. Mereka orang jauh, dari Amerika, bahkan ada yang berumah di Asgard–entah di galaksi sebelah mana tempat itu.

Terus terang, saya idolakan mereka–Captain America, Black Widow, dan Thor–karena anak saya yang kelas V SD sangat memuja mereka. Demi tiga karakter film The Avengers itu, saya sekeluarga rela antre dua setengah jam.

Kami bergabung dengan ratusan orang yang berbaris tertib. Tak ada yang memprotes ketika panitia meminta kami duduk lesehan di lantai berkarpet merah, menunggu para superhero itu.

Saya takjub, beberapa anak yang ditanya pembawa acara, tak seorang pun meleset menjawab warna baju Captain America atau palu godam Thor. Bahkan, anak-anak itu hafal betul kebiasaan para Avengers.

Begitu pembawa acara berteriak, “Avengers….”, anak-anak membalas riuh rendah: “Assemble” Ini kode para jagoan itu siap bertempur.

Begitu tampil di panggung, tiga bintang itu langsung disambut tepukan meriah. Padahal tiga hero tersebut hanya bergerak seadanya dan jauh dari mengesankan. Si Black Widow, yang wajahnya dingin dan kaku seperti patung lilin di museum Madame Tussauds, sekadar meliuk-liuk sambil menjulurkan kaki, atau menyilangkan tangan.

Lihatlah Thor: hanya menunjuk-nunjuk penonton di balkon atas atrium itu, lalu mengayun-ayunkan palu godamnya. Captain America, tokoh yang paling ditunggu, cuma menyeringai, meringis, sambil memamerkan tamengnya.

Tibalah saat yang dinanti-nanti: berfoto bersama. Di atas panggung, anak saya bersalaman dengan takzim. Saya bisikkan kepada Captain America, anak saya sudah menonton seri terbaru The Avengers: Age of Ultron.

Si Captain tersenyum bahagia, “dagangan”-nya sukses besar. Lalu kami berpotret. Setelah berbasa-basi beberapa detik, saling mengadu kepalan tangan, kami menuruni panggung.

Tak saya duga, di bawah panggung, anak saya berkomentar, “Pak, kita antre dua jam lebih ternyata hanya untuk ketemu jagoan KW.” Saya terperangah. Apa maksudnya?

Mereka bukan pemeran Avengers orisinal. Mereka bukanlah Chris Hemsworth (pemeran Thor), Chris Evans (Captain America), atau Scarlett Johansson (Black Widow). Anak saya terlihat kecewa. Saya cepat menenangkannya, “Sudahlah, yang penting kostumnya asli.”

Soal KW tadi ternyata benar. Ketika kami keliling mal, terlihat tiga pemeran hero tadi–dengan T-shirt seadanya–agaknya sedang mencari-cari tempat makan. Benar saja, mereka bukan pemeran asli. Tanpa baju “kebesaran”-nya, tak seorang pun berusaha berfoto bersama mereka atau sekadar menyapa mereka.

Rupanya “trik pemasaran” film Avengers ini diketahui banyak orang. Toh, orang ramai tak peduli. Berfoto bersama kostum Captain America cs saja sudah cukup menggembirakan, tak peduli siapa di balik kostum itu.

Di sini saya merasa sedih. Anak saya, juga anak-anak sebayanya, harus memilih pahlawan impor ketimbang pahlawan lokal. Ini bukan salah mereka. Buat mereka, Diponegoro, Bung Tomo, atau Rudy Hartono, itu masa lalu.

Sedangkan yang mereka pelajari dari masa kini adalah keriuhan, ribut politik, hujat-menghujat, gugat-menggugat, yang seakan tiada henti. Jangankan pahlawan, mencari negarawan saja sudah hampir mustahil di negeri ini.

Keributan Kepolisian vs KPK, gontok-gontokan PSSI, ricuh partai politik, hanya mendorong anak-anak kita mencari idola impor.

Dalam perjalanan pulang, anak saya berkata, “Pak, saya tak lagi mengidolakan Avengers KW itu.” Saya tersenyum, mengira dia sudah menemukan pahlawan dalam negerinya. Ternyata, katanya serius, “Kita mesti menemui Avengers yang asli di Amerika.”

*********

Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here