Australia, Kawan atau Lawan?

0
8 views

– Hamid Alhadad, Mantan aktivis mahasiswa dan diplomat karier, pernah menjadi duta besar di Kamboja dan Aljazair.

Jakarta, Garut News ( Sabtu, 07/03 – 2015 ).

Ilustrasi. (Ist/Foto Repro : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Ist/Foto Repro : John Doddy Hidayat).

Mempunyai tetangga seperti Australia, Malaysia, atau Singapura dan lain-lain bukan merupakan pilihan Indonesia, melainkan keniscayaan yang demikian adanya.

Kebetulan Tuhan telah meletakkan posisi geografis Australia menjadi tetangga Indonesia.Uraian di bawah ini menceritakan pasang-surut hubungan kedua negara.

Dalam sejarahnya, saat perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda, kaum buruh pelabuhan di Kota Perth, Australia, memboikot muatan kapal-kapal Belanda sebagai pernyataan solidaritas mendukung kemerdekaan Indonesia.

Hal ini sangat dikenang dan diapresiasi oleh rakyat Indonesia dengan harapan kelak menjadi modal persahabatan sejati di antara kedua negara.

Saat perundingan dengan Belanda untuk mencapai kedaulatannya, Indonesia memilih Australia sebagai wakilnya dalam Komisi Tiga Negara (KTN) yang dibentuk oleh PBB untuk menyelesaikan pertikaian Indonesia-Belanda.

Entah apa alasannya saat Indonesia memperjuangkan kembalinya Irian Barat, Australia terlihat menentang.

Pada 1959, penulis, anggota delegasi mahasiswa pertama Indonesia, yang mengunjungi Australia atas undangan National Union of Australian University Students (NUAUS), selalu mendapat kritik: mengapa Indonesia masih menuntut Irian Barat yang etniknya berbeda dengan masyarakat Indonesia?

Kami mengatakan Indonesia bukan negara berdasarkan etnik atau kesukuan, melainkan nasionalisme yang tumbuh karena persamaan nasib selama penjajahan Belanda lebih dari 350 tahun.

Di wilayah Netherlands East India itulah, di mana Irian Barat salah satu bagiannya, berdiri “Indonesia” yang berdaulat.

Mungkin sejak itu Australia selalu berhati-hati terhadap tetangganya yang dianggap ekspansionis dengan penduduk miskin yang besar dan dengan segala potensi yang dipunyainya.

Australia diyakini selalu memantau secara intensif segala perkembangan di Indonesia, termasuk menyadap segala gerak-gerik dan tingkah laku diplomat Indonesia di Australia, termasuk demo-demo yang mendekati aksi teror yang ditujukan kepada kedutaan besar dan warga Indonesia selama konflik masalah Timor Timur.

Juga penyadapan terhadap gerak-gerik pimpinan Indonesia di tanah airnya melalui kedutaan Australia di Jakarta (ingat penyadapan terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan keluarganya).

Kita tentu juga ingat dukungan Australia kepada tuntutan Indonesia dalam forum internasional terhadap Timor Timur sebagai bagian dari Indonesia.

Bersama Amerika Serikat-karena takut atas perkembangan komunisme di Asia, khususnya Asia Tenggara-Australia mendukung tuntutan Indonesia yang antikomunisme.

Fretilin yang Marxis sangat menentang posisi Indonesia. Namun, setelah Uni Soviet dikalahkan dalam persaingan antar dua “superpower”, dengan alasan “pelanggaran hak asasi manusia” di Timor Timur, Australia dan Amerika menarik dukungannya-berakhir dengan kekalahan Indonesia dalam Referendum 30 Agustus 1999.

Dalam hubungan ekonomi dan pendidikan, hubungan Australia dan Indonesia cukup baik dan saling menguntungkan.

Banyak mahasiswa Indonesia belajar di sana, baik karena mendapat beasiswa maupun atas inisiatif sendiri.

Indonesia banyak mengimpor daging dan gandum dari Australia, sedangkan sekira 400 perusahaan Australia melakukan perniagaan di Indonesia, dari pertambangan sampai telekomunikasi.

Dalam bidang pariwisata, Australia telah menjadi sumber wisatawan bagi Indonesia, terutama yang berkunjung ke Bali.

Kini, dipicu keputusan eksekusi mati oleh pengadilan Indonesia terhadap dua warganya yang tertangkap menyelundupkan 8,5 kilogram heroin, Australia mengancam akan menghentikan kunjungan wisatawannya ke Bali dan mengungkit-ungkit bantuan kemanusiaan yang pernah diberikan sewaktu tsunami Aceh Desember 2004.

Tentu saja usaha Australia yang membela warganya yang melakukan kejahatan narkoba di Indonesia itu tidak dapat diterima.

Kejahatan narkoba itu setiap harinya telah membunuh sekitar 40–50 orang Indonesia dan menyebabkan jutaan lainnya menderita penyakit mental.

Demikianlah sebagian rentetan kejadian yang timbul-tenggelam antara dua negara yang bertetangga. Peristiwa yang mengusik hubungan Indonesia-Australia itu selalu dimulai dari tindakan Australia terlebih dulu, yang tampaknya selalu mencurigai Indonesia.

Indonesia sendiri menganggap Australia sebagai negara tetangga sahabat dekat yang maju dan berteknologi tinggi.

Indonesia selalu mengharapkan Australia dapat bekerja sama dan membantu ketertinggalan Indonesia. Mahasiswa Indonesia selalu mengalir belajar ke sana.

Dalam bidang keamanan strategis, Indonesia selalu menganggap bahwa letaknya sangat menguntungkan Australia: sebagai bumper bila ada serangan dari utara.

Indonesia sudah membuktikan hal ini dengan menahan membeludaknya jumlah pengungsi ilegal dari Timur Tengah yang akan membanjiri Australia.

Namun Australia sendiri tampaknya menganggap Indonesia sebagai ancaman dari utara karena jumlah penduduk miskin yang berjuta-juta di sebelah utara sewaktu-waktu bisa membanjiri Negeri Kanguru itu.

Inilah tampaknya, antara lain, yang menjadi momok Australia selama ini dalam menghadapi tetangganya di utara.

********

Kolom/Artikel Tempo.co