Atut dan Fashion

by

Dianing Widya, Novelis dan Pegiat Sosial

Garut News ( Jum’at, 06/12 ).

Ilustrasi, Fashion (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi, Fashion (Foto : John Doddy Hidayat).

Beberapa waktu lalu, Tempo menurunkan laporan yang memperlihatkan bagaimana Gubernur Banten Atut Chosiyah bisa menghabiskan uang ratusan juta rupiah untuk membeli pakaian dan aksesori.

Atut pernah membelanjakan uang Rp 430 juta di butik Hermes di Tokyo, Jepang, pada Februari 2012.

Pada kesempatan yang sama, Atut juga berbelanja senilai Rp 100 juta di toko Daikokuya.

Tentu saja yang dibeli Atut tak sekadar pakaian, tapi citra (imaji) dari pakaian itu.

Ia tidak sedang berhadapan dengan kebutuhan (need), melainkan keinginan (desire).

Jika kebutuhan dibatasi oleh fungsi, keinginan akan dibatasi oleh uang.

Jadi, fashion-pakaian, busana, aksesori, hingga kendaraan tunggangan-tak sekadar benda mati.

Lebih dari itu, fashion merupakan pernyataan diri.

Berpakaian adalah  cara menyampaikan identitas diri kepada orang lain, yakni  statement kelas dan status.

Umberto Eco, filsuf dan novelis berkebangsaan Italia, menyatakan busana adalah mesin komunikasi.

Dengan kata lain, busana adalah sistem simbol.

Ia mengatakan lebih banyak hal yang terlihat daripada benda itu sendiri.

Dalam konteks kekuasaan, ia menjadi pembatas antara “kalian” (kawula dan bawahan) dan “aku” (penguasa).

“Kalian” tidak boleh lebih tinggi atau hebat daripada “aku”.

Atut sadar betul bahwa sebagai gubernur, ia harus berbeda dengan rakyat biasa melalui pakaiannya.

Dengan berpakaian serba wah dan mahal, ia tampak mendominasi dalam setiap penampilannya.

Dan orang-orang yang didominasi pun memaklumi posisinya.

Atut adalah penguasa, maka ia pantas mengenakan busana mewah, mahal, dan wah.

Fashion pun menjadi alat untuk mendongkrak citra dan mempertegas posisinya di depan khalayak ramai.

Fashion sendiri berkaitan erat dengan kekuasaan.

Berasal dari bahasa latin, factio, yang artinya membuat atau melakukan.

Dari kata factio inilah diperoleh kata faksi, yang bermakna politik.

Karena itu, arti asli atau akar dari kata fashion adalah kegiatan seseorang dalam “membuat sesuatu” atau “melakukan sesuatu”.

Malcomn Barnard (2009:59) mengatakan fashion bukan hanya cara mengkomunikasikan identitas, tapi juga sebuah upaya mendominasi dalam suatu tatanan sosial.

Jadi, menurut dosen di Universitas Derby, Inggris, ini, fashion adalah bagian dari proses yang dilakukan seseorang atau kelompok sosial dalam membangun, menopang, dan memproduksi posisi kekuasaan.

Meski dalam hubungan ini busana sesungguhnya menunjukkan kelas pendapatan, dalam konteks seorang birokrat, hal ini menjadi serba samar untuk didefinisikan.

Orang susah membedakan mana fasilitas kebirokrasian dan mana properti pribadi.

Apalagi, pejabat mendapat kemudahan-kemudahan lantaran jabatannya, seperti pakaian, rumah, mobil, dan berbagai fasilitas lainnya.

Karena itu, fashion bagi seorang elite kekuasaan sulit digolongkan dalam produksi citra kekayaan atau pendapatan.

Ia lebih tepat sebagai pembeda identitas antara rakyat, bawahan, dan pimpinan.

Apalagi, dalam konteks Atut, ia memang tidak lagi membutuhkan penegasan citra kaya karena ia datang dari keluarga kaya.

Jadi, yang lebih muncul adalah simbol kepercayaan diri dan perangkat untuk mendominasi orang lain. *

**** Sumber : Kolom/artikel Tempo.co