Asketisme Politikus Islam

0
5 views

“Coba saja lihat, ada ketua partai memiliki mobil mewah sampai tiga, menggunakan jam tangan Rolex berharga puluhan juta rupiah,  berpakaian bak selebritas, berhobi ala para miliuner, dan lain sebagainya”

Arfanda Siregar,
Pengamat Politik dan Gerakan Islam

Garut News ( Kamis, 18/12 – 2014 ).

Ilustrasi. Inilah Sapi Tak Berjanggut. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Inilah Sapi Tak Berjanggut. (Foto : John Doddy Hidayat).

Sungguh lucu rasanya bahwa yang menjadi pelopor hidup sederhana (asketisme) justru berasal dari politikus partai nasionalis.

Sejak Joko Widodo (Jokowi) menjabat presiden, semua pejabat negara, baik menteri, pejabat setingkat menteri, maupun kepala daerah mendadak turut menganut asketisme.

Jokowi memang bersahaja. Jauh sebelum menjadi presiden pun beliau telah memelopori hidup sederhana.

Bekas Ketua Umum Muhammadiyah Buya Syafii Maarif pernah memuji sepatu yang dipakai alumnus UGM tersebut karena berharga 50 ribu perak.

Beberapa kali beliau tertangkap kamera wartawan sedang melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat ekonomi.

Tak salahlah daftar “The Leading Global Thinkers of 2013” memasukkannya sebagai tokoh Challenger atau tokoh reformis baru, berkat kesederhanaannya.

Terlepas dari validitas penilaian tersebut, tokoh partai Islam malah menjauh dari pengamalan salah satu ajaran Islam tersebut.

Padahal, asketisme merupakan bagian dari nilai Islam yang seharusnya melekat pada diri politikus Islam, apalagi setelah menjabat berbagai posisi penting di pucuk kekuasaan.

Coba saja lihat, ada ketua partai memiliki mobil mewah sampai tiga, menggunakan jam tangan Rolex berharga puluhan juta rupiah,  berpakaian bak selebritas, berhobi ala para miliuner, dan lain sebagainya.

Sungguh kontras dengan nilai asketisme yang seharusnya menjadi fatsun politik Islam. Mereka bukan tak memahami fatsun politik tersebut.

Toh, mayoritas politikus Islam berlatar belakang ilmu agama.

Mereka sangat paham bahwa zuhud berarti hidup sederhana, bersahaja, tidak berlebihan, dan jauh dari sikap hidup berfoya-foya.

Meskipun mampu untuk hidup mewah, glamor, dan berfoya-foya, itu tidak dilakukan karena hadirnya kesadaran bahwa sebagai pejabat negara memang mereka harus hidup sederhana dan prihatin di tengah mayoritas umat yang masih banyak berpredikat duafa.

Tidak justru sebaliknya, ketika menjadi ustad bersahaja, setelah menjadi pejabat berfoya-foya. Persis pepatah, “lupa kacang dengan kulitnya”.

Begitu banyak tokoh Islam yang zuhud dan seharusnya diteladani politikus Islam. Di kancah internasional, ada Nabi Muhammad SAW, Umar Bin Khatab, Umar Bin Abdul Aziz, dan Ahmadinejad yang termasyhur di mata dunia, justru karena berperilaku zuhud.

Dalam sejarah bangsa, para politikus Islam bisa mencari teladan dari sosok KH Agus Salim, M. Hatta, dan Natsir dalam menjalani dunia politik. Menurut Agus Salim, leiden is lijden (memimpin adalah menderita).

Fakta mengatakan bahwa hasil kontestasi politik Indonesia, partai Islam selalu kalah dari partai nasionalis.

Bahkan, sepanjang pilpres digelar, belum pernah satu pun politikus partai Islam yang mampu menyaingi tokoh nasionalis.

Politikus Islam selalu kalah pamor dibanding politikus nasionalis.

Mengapa hal itu terjadi? Karena politikus Islam tak mau mengamalkan hidup sederhana, asketisme, atau zuhud.

Nabi Muhammad pernah berpesan, “Zuhudlah terhadap dunia, maka kamu dicintai Allah. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, mereka akan mencintaimu.”

Ternyata wejangan tersebut malah dipraktekkan oleh tokoh nasionalis, seperti Jokowi. Sedangkan politikus Islam malah asyik dengan gemerlap kemewahan yang justru menjauhkannya dari hati rakyat Indonesia.

*******

Kolom/Artikel Tempo.co