Asep Sudrajat Karniwa Serukan Jangan Hawatir MEA 2015

by

Garut News ( Ahad, 31/08 – 2014 ).

H. Asep Sudrajat Karniwa.
H. Asep Sudrajat Karniwa.

H. Asep Sudrajat Karniwa, pria berusia sekitar 46 tahun menyerukan jangan “menghawatirkan” pembentukan “Masyarakat Ekonomi ASEAN” (MEA) 2015.

Lantaran bukan proyek ”mercusuar” tanpa roadmap jelas, melainkan proyek telah lama disiapkan seluruh anggota ASEAN dengan visi kuat.

Pemilik PD. Lembu Jantan di Pasar Ciawitali Garut, Jawa Barat ini kepada Garut News, Ahad (31/08-2014), katakan justru pembentukan MEA 2015 justru sangat baik sebab ada persaingan se Asia.

Sehingga terpacu meningkatkan kualitas produksi, serta jasa layanan pemasaran beragam komoditi dengan harga semurah-murahnya.

Yana Mulyana.
Yana Mulyana.

Karena itu, para pelaku ekonomi riel khususnya penjual daging sapi potong diserukan pula jangan khawatir.

Sebab masyarakat kita, mayoritas Kaum Muslimin yang dipastikan cenderung mengonsumsi daging yang diyakininya “halal”, termasuk daging sapi potong yang proses penyembelihannya baik, dan sehat.

Meski sekalipun di pasaran banyak beredar daging sapi import, “Jadi jangan Takut MEA,” tandas Asep Sudrajat Karniwa.

Sedangkan pada Pemkab setempat disarankan, agar bisa mengalokasikan 30 persen kelebihan anggaran APBD, agar dimanfaatkan bagi upaya pengembangan pembibitan sapi, serta peternakan ayam petelur.

Kios Daging Sapi Potong, Milik Asep Sudrajat Karniwa.
Kios Daging Sapi Potong, Milik Asep Sudrajat Karniwa.

Ini, juga bisa dijadikan upaya atawa solusi menghadapi kenyataan jika terpisahnya kawasan Selatan Kabupaten Garut dari “inang” nya kabupaten sekarang.

Pada kalangan legislatif setempat, juga disarankan dapat meningkatkan pendapatan asli daerah, agar bisa meningkatkan dana subsidi bagi elemen lain yang semestinya kudu mendapatkan subsidi, imbuhnya.

Dikemukakan Asep Sudrajat Karniwa, jika terealisasi setiap desa di Kabupaten Garut mendapatkan dana bantuan Rp100 juta, maka total alokasi anggarannya mencapai lebih Rp40 miliar.

Diharapkan pula bisa disisihkan Rp10 juta dari setiap desa, sehingga bisa terkumpul dana sekitar Rp4 miliar lebih, atawa pada rentang waktu lima tahun mencapai sekitar Rp21,2 miliar.

asepya5Bisa dimanfaatkan 50 persen di antaranya sebagai saham peternakan sapi di dalam suatu kawasan milik bersama, dikelola personil profesional.

Sedangkan 50 pesen di antaranya bagi insentif masing-masing personil di desa/ kelurahan, kemudian peruntukan kawasan atau lokasi peternakan bisa dikerjasamakan dengan Perum Perhutani, lantaran banyak memiliki lahan tidur.

Maka, dengan pengembangan sedikitnya 1.767 ternak sapi masing-masing diperoleh dengan harga Rp12 juta, empat bulan kemudian dari 500 ekor sapi saja sedikitnya bisa menjual 20 ekor siap jual.

asep1Setiap pihak desa/kelurahan pun setiap bulannya bisa mendapatkan sedikitnya Rp2,5 juta, sedangkan keuntungan lainnya bisa dimanfaatkan perbaikan ruas jalan desa, sebab membaiknya lintasan ruas jalan desa juga dapat meningkatkan nilai jual atawa NJOP.

Sehingga jangan hawatir pula Selatan Garut memisahkan diri dari inangnya.

Pada bagian lain keterangannya, Asep Sudrajat Karniwa juga mengemukakan, pasar tradisional tak perlu dijadikan pasar modern.

Melainkan hendaknya bisa memertahankan fenomena pasar tradisinal dengan beragam “nilai adi luhung” kearifan lokalnya.

asepya6Sebab jika dibangun menjadi pasar modern, selain beban kredit para pelaku usahanya semakin membesar, juga beragam komoditi ditawarkan dipastikan bakal lebil mahal,.

Akibatnya tak ada jaminan bisa laku keras barang ditawarkan para pedagang.

Solusinya, daripada dijadikan pasar modern, lebih baik membenahi beragam infrastruktur pasar tradisional, termasuk lintasan jalan serta gorong-gorong.

Cara membangunnya mengikut sertakan kalangan sponsor, sehingga biaya rehabilitasi dikonvensasikan dengan ongkos promosi beberapa perusahaan sponsor.

Pemborong pun yang membangun pembenahan infrastruktur juga hendaknya berkualitas, agar lebih tahan lama.

Tak seperti selama ini, setiap hari ada penarikan retrebusi dari setiap pedagang di pasar, tetapi nyaris sejak sepuluh tahun terakhir kondisi infrastruktur pasar begini-begina saja.

Tak serta merta misalnya lintasan jalan seputar pasar menjadi di hotmix, katanya.

Penyelenggaraan “Otonomi Daerah” (OTDA), diperlukan bukti nyata kemandirian penyelenggaraan pemerintahan  bernuansakan “cor businis”.

Kenyataannya di Kabupaten Garut selama ini tak ada pasar sayur, dan tak ada pasar sapi.

Karena itu, Kabupaten Garut dinilai paling cocok bagi pengembangan sektor peternakan, perkebunan dan pertanian.

Termasuk potensi tembakau dari Garut dinilai pula sangat luar biasa volume dan kualitasnya, sehingga saatnya terdapat pabrik tembakau atawa rokok guna bisa didistribusikan ke Wilayah Priangan Timur.

Keseluruhan kreativitas dan inovatif kalangan penyelenggara pemerintahan di lingkungan Pemkab/Setda Garut hendaknya pula berbasiskan “System Multy Simbiosis” (SMS) sekaligus pula menjadi fenomena “Multiplier Effect”.

Dikatakan Asep Sudrajat Karniwa, saat ini sapi agar sulitb diperoleh untuk pedagang sapi potong, lantaran bandar sapi tak banyak mengeluarkan sapinya.

Menyusul rencana mereka melakukan penjualan menjelang Lebaran idul Adha, kalaupun ada yang menjual dengan harga timbang hidup bertengger pada kisaran Rp53 ribu, padahal biasanya Rp38 ribu per kilogram.

Akibatnya para pedagang sapi potong mulai banyak “kelabakan”, tetapi suka tak suka kudu membelinya.

Guna memenuhi kebutuhan pelanggan setiap hari, meski jika berdasar hitungan pedagang bakal rugi dengan harga pembelian Rp53 ribu timbang hidup.

Maka seharusnya pedagang sapi potong menjualnya dengan harga berkisar Rp105 ribu hingga Rp110 ribu per kilogram.

Tetapi kita tetap menjualnya pada kisaran Rp95 ribu per kilogram.

Karena itu, dinilai sangat pentingnya terdapat pengembangan ternak sapi di Kabupaten Garut berpola pengembangan potensi sumber dana dari setiap desa.

Demikian sumbang saran mengemuka dari pedagang daging di Ciawitali, H. Asep Sudrajat Karniwa.

******

Esay/ Foto : John Doddy Hidayat.