You are here
Asal-usul Lambang Swastika di Bendera Nazi SAINS 

Asal-usul Lambang Swastika di Bendera Nazi

Garut News, ( Kamis, 17/10 ).

Swastika/Wikipedia
Swastika/Wikipedia

Simbol paling terkenal dari masa Reich Ketiga masa Adolf Hitler adalah swastika.

Simbol ini tertera pada bendera merah dengan tanda swastika dalam lingkaran putih.

Ketiga warna dalam swastika, yaitu merah, putih, dan hitam, diambil dari warna dasar bendera Jerman, pertama kali dipakai sebagai lambang kekaisaran Jerman pada 1897.

Sekalipun sering diasosiasikan dengan rezim Nazi, simbol swastika eksis jauh sebelumnya di dunia.

Ia berasal dari bahasa Sanskerta, svastika, yang artinya “kondusif untuk kebaikan/kesejahteraan”.

Lambang seperti ini ditemukan pada keramik berasal dari empat abad sebelum Masehi di Persia/Iran, kemudian di Troy Yunani, Tibet, dan Jepang.

Orang Indian Amerika Utara seperti Suku Navajo juga mengenal lambang ini, bisa ditemukan pada pola kerajinan manik-manik mereka.

Orang Hindu di India banyak menggunakan simbol ini untuk menandai pintu, kitab, dan persembahan.

Mereka membedakan antara swastika berputar searah jarum jam dan sebaliknya.

Swastika putarannya searah jarum jam dianggap lambang gerakan matahari, di belahan bumi bagian utara tampak bergerak dari timur ke selatan, kemudian ke barat.

Sedangkan sebaliknya lebih melambangkan malam hari, Betara Kali menakutkan, serta untuk praktik sihir.

Pada swastika Jerman Nazi, arah geraknya seperti pada jarum dan simbol, kerap disebut hakenkruez, salib berkait.

Adalah seorang penyair, dan ideolog nasionalistik Jerman bernama Guide von List pada 1910 menyarankan pemakaian swastika untuk organisasi/gerakan anti-Yahudi.

Ketika Adolf Hitler membentuk Partai Sosialis Nasional (Nazi) 1919-1920, simbol rasial Jerman ini pun diadospinya.

Dan, setelah Nazi berkuasa, simbol sama diresmikan sebagai bendera nasional Jerman pada 15 September 1935.

Sekalipun berasal dari bahasa Sanskerta, Nazi mau menggunakanya lantaran bahasa tersebut, menurut teori mereka anut, termasuk dalam kelompok bahasa Indo-Eropa, bahkan merupakan tertua.

Kelompok bahasa ini, menurut ahli bahasa dari Jerman pada ke-19, Friedrich Max Muller, “memiliki sifat ke-Arya-an” sehingga Hitler, dan Nazi punya alasan kuat mengadopsinya.

(Angkasa/National Geographic Indonesia)/ Kompas.com

Related posts

Leave a Comment