Arti Seorang Ibu

0
9 views
Daan Yahya/Republika. (Asma Nadia).

Red: Maman Sudiaman

Daan Yahya/Republika. (Asma Nadia).
Daan Yahya/Republika. (Asma Nadia).

REPUBLIKA.CO.ID/Garut News ( Kamis ( 22/12 – 2016 ), Apa itu ibu? Kapan seseorang disebut ibu? Satu kata itu benarkah hanya sekadar sebutan pengganti untuk perempuan yang pernah melahirkan? Apakah ia sebenarnya berupa status? Atau sebuah pekerjaan?

Pertanyaan yang bermain di kepala saya menggulirkan rasa penasaran yang mendorong saya mencari tahu arti ibu lebih jauh. Jemari akhirnya mengetikkan kata “definisi ibu” dalam kolom sebuah mesin pencari di internet.

Perjuangan Ibu. (Fotografer : John Doddy Hidayat).
Perjuangan Mulia Ibu Mencari Nafkah. (Fotografer : John Doddy Hidayat).

Awalnya keluar definisi umum dari kamus-kamus, Ibu (kata benda): wanita yang telah melahirkan seseorang.

Untuk pengertian demikian saya jelas seorang ibu, begitu juga ibu-ibu lain yang melahirkan anak-anak mereka.

Tapi uniknya pencarian kemudian memunculkan penuturan yang lebih menarik dari ragam individu yang membuat definisi mereka tentang ibu.

Ibu (kata benda); Seorang yang memberikan waktu 24 jam sehari tanpa meminta bayaran.

Pada definisi lain: Ibu (kata benda); seseorang yang mencintai tanpa syarat, orang yang membangun karakter dan menyembuhkan hati yang luka, orang yang membuat dan menjaga memori indah, orang yang dicintai dengan penuh kasih dan kekaguman.

Bahkan ada satu definisi yang menyebut ibu sebagai kata kerja.

Ibu (kata kerja) mencintai, mengayomi, melindungi, mendidik, membimbing, memberi kenyamanan, memelihara, mendukung, merangkul, menghargai, menyemangati, dll.

Pandangan saya terus melompat dari satu kata kerja ke kata kerja lain yang terpampang di monitor, sambil diam-diam mulai bertanya pada diri sendiri.

Apakah saya sudah menjadi seorang ibu yang demikian? Sudahkah saya menjalankan tugas ibu sebagaimana mestinya?

Seorang bijak berkata,“You educate a man; you educate a man. You educate a woman; you educate a generation.”

Jika engkau mendidik seorang lelaki maka engkau mendidik seorang lelaki. Ketika kamu mendidik seorang perempuan, maka kamu mendidik satu generasi.

Kelihatan utopia, akan tetapi hal ini nyata dalam sejarah.

Presiden Amerika pertama, George Washington, menyatakan, “Ibu saya adalah orang yang paling indah. Apapun yang saya capai saat ini saya berhutang padanya. Segala kemampuan, intelektual, dan peran yang saya curahkan, semua berasal darinya.”

Washington kini dikenal sebagai peletak dasar Amerika dan cikal bakal perubahan dunia, salah satu pemimpin paling bijak dalam sejarah, menolak kesempatan menjadi pemimpin seumur hidup, berperan mengubah generasi. Dan semua bermula dari ibunya.

Selanjutnya saya mulai mencari arti ibu yang lebih luas melalui banyak kutipan menarik tentang ibu.

“Ibu adalah seseorang yang bisa mengambil tempat siapapun tetapi tempatnya tidak bisa tergantikan siapapun.”

“Saya percaya cinta pada pandangan pertama, karena saya jatuh cinta pada ibu saat mata pertama kali melihat.”

“Ketika engkau melihat ibu, engkau melihat cinta paling murni yang pernah ada.”

“Rumah adalah tempat di mana ibu berada.”

“Seorang ibu bisa mengerti sesuatu yang tidak dikatakan anaknya.”

“Tidak ada kata yang mampu menggambarkan kecintaan, kekuatan, kepahlawanan, dan kekayaan cinta seorang ibu.”

“Ibu adalah cinta yang tak terbatas dan tak pernah pudar.”

Luar biasa.

Semakin mencari, semakin membaca, semakin timbul banyak pertanyaan untuk diri sendiri, seberapa pantaskah saya menyandang predikat ibu. Tak hanya itu, kini yang terbayang bukan lagi diri sendiri. Melainkan potret perempuan berusia lebih dari setengah abad yang telah bersusah payah menjaga, mencintai, menemani, mendidik, dan membesarkan saya hingga meraih apa yang kini saya capai.

Seorang ibu. Saya memanggilnya Mami.

Perempuan terkasih yang menjadi penyejuk, curahan jiwa, dan cinta.

Saya mencintainya sepenuh hati, mensyukuri keberadaannya setiap hari, mengingat peran dan pesannya seumur hidup. Terus berdoa agar Allah memberi saya kemampuan menyempurnakan bakti dan cinta pada perempuan yang saya muliakan.

Pertanyaan terakhir yang kemudian tersisa adalah: apakah anak-anak yang saya lahirkan akan merasakan hal serupa, sebagaimana kuat perasaan saya terhadap ibunda?

Saya bukan ibu yang sempurna, betapa pun keras ikhtiar untuk mempersembahkan bentuk cinta terbaik bagi dua ananda saya. Berharap buah hati yang dihadirkan sanggup merasakan kasih, cinta dan sayang teramat besar dari perempuan yang setiap waktu memeluk dalam doa-doa, terlebih saat bayangan mereka tak tersapa mata.

Hal yang saya yakin menggayuti benak begitu banyak perempuan, sesama ibu -dalam definisi seluas-luasnya- di seluruh dunia ini.

Ibu adalah puisi yang tak terkatakan.

Selamat hari ibu. Selamat berjuang menghadirkan generasi mulia, dan menjemput kemuliaan yang Allah siapkan, sebagai balasan atas cinta dan ketulusan tanpa pamrih.

*********

Republika.co