Areal Pertanian Garut Menyusut Lantaran Didominasi Kehutanan/Perkebunan

0
48 views
Sekretaris Bappeda Kabupaten Garut.

Garut News ( Senin, 29/01 – 2018 ).

Sekretaris Bappeda Kabupaten Garut.

Areal pertanian tanaman pangan dan hortikultura di Kabupaten Garut, Jawa Barat, setiap tahunnya menyusut. Selain akibat alih fungsi lahan juga lantaran selama ini pun total luas lahan di kabupaten tersebut, didominasi kawasan kehutanan dan perkebunan.

“Lahan kawasan kehutanan dan perkebunan di kabupaten dihuni sekitar 2,6 juta penduduk ini mencapai 60 persen lebih, sedangkan sisanya merupakan lahan pertanian,” ungkap Sekretaris “Badan Perencanaan Daerah” (Bappeda) kabupaten setempat, A. Ismail.

Sehingga kepemilikan petani pada lahan pertaniannya sangat kecil, bahkan lebih banyak yang berprofesi sebagai buruh tani, ujarnya kepada Garut News di ruang kerjanya, Senin (29/01-2018).

Maka guna meningkatkan kesejahteraan mereka termasuk meningkatkan daya beli masyarakat, diperlukan kebersamaan meningkatkan produktivitas UMKM yang selama ini tahan banting terhadap terpaan krisis ekonomi.

Karena dengan meningkatnya produktivitas UMKM tersebut, bisa dipastikan senantiasa bisa memenuhi kebutuhan minimal masyarakat, imbuh A. Ismail.

Kepala Bidang Litbang pada Bappeda Kabupaten Garut, Agus Kurniawan.

Ungkapan senada disampaikan pula Kepala Bidang Litbang pada Bappeda Kabupaten Garut, Agus Kurniawan dan antara lain menyatakan, selain diperlukan ragam kebijakan yang melindungi petani.

Mayarakat petani pun hendaknya tidak konumtif, dalam artian membelanjakan keuangannya dengan memprioritaskan kebutuhan pokok mereka, sekaligus perlu ditingkatkannya gemar menabung.

Sedangkan kepadatan Kabupaten Garut pada 2020 mendatang bisa mencapai sekitar 861 penduduk setiap kilometer persegi. Sebab pada tahun tersebut diproyeksikan berjumlah 2.636.637 penduduk pada wilayah seluas 3.065,19 km2.

Berdasar proyeksi BPS kabupaten setempat, 2.636.637 jumlah penduduk itu. Mengalami penambahan 214.311 penduduk jika dibandingkan tahun 2010 silam kabupaten ini dihuni 2.422.326 penduduk.

Sedangkan proyeksi 2017 dihuni 2.588.839 penduduk atau sekitar 472.751 ‘kepala keluarga’ (KK), dengan 42 wilayah kecamatan.

Kemudian proyeksi pada selama 2018 ini terdapat 2.606.399 penduduk, namun dipastikan penyebarannya tak merata antara Wilayah Garut Tengah, Utara, serta wilayah Selatan Garut.

Penyebabnya antara lain, masih berlangsungnya kesenjangan maupun disparitas pada pelbagai bidang.

Sehingga kian mendesak segera dikemasnya ‘kepiawaian” konsepsi perencanaan pembangunan, yang bisa menyentuh pemenuhan kebutuhan pelbagai lapisan masyarakat, agar mereka banyak memiliki banyak akses bisa ‘meretas’ kehidupan sejahtera.

Meski produksi beras di Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada 2017 ini berlimpah atau surplus mencapai 291.047 ton sehingga sama sekali tak membutuhkan beras impor, namun kalangan petaninya banyak mengonsumsi beras program ‘beras keluarga sejahtera’ (rastra) yang sebelumnya disebut raskin. 

Karena 70 persen petani di kabupaten tersebut berkondisi ‘gurem’, yang diperparah rata-rata kepemilikan sawah hanya berkisar 0,02 hingga 0,03 hektar setiap ‘Kepala Keluarga’ (KK) petani.

Dari sekitar 48.152 hektare areal persawahan di kabupaten ini, rata-rata setiap hektar dimiliki empat hingga lima petani. Penyebab lainnya, terbentur masalah keterampilan pengelolaan sawah masih berkarakter konvensional, kualitas benih seadanya, serta pola tanam yang tak serentak, ungkap Kepala Seksi Serealia pada Dinas Pertanian kabupaten setempat, Dudung Sumirat.

“Mereka 70 persen di antaranya berkondisi gurem, namun rata-rata produktivitasnya tingkat Kabupaten Garut 6,8 ton Gabah Kering Giling (GKG) per hektare. Bahkan rata-rata provinsi tertinggi di Jabar sejak 2010 silam mencapai 6,5 ton GKG per hektar,” katanya.

Pada 48.152 hektare sawah di Kabupaten Garut yang dimiliki sekitar 240.760 KK petani itu, terdapat sedikitnya 168.532 KK petani gurem atau 70 persen, mereka menghidupi sedikitnya 842.660 anggota keluarga.

Itu pun setelah kehilangan hasil pascapanen hingga mencapai 14 persen, padahal idealnya kehilangan hasil berkisar 11 hingga 12 persen. “Hasil panen tahun ini menggembirakan, sebab relatif aman dari hama serangan tikus,” katanya pula.

Sehingga setiap panen tiba, produksi beras umumnya berkualitas premium itu mereka jual, sedangkan pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari banyak mengonsumsi ‘rastra’.

Berdasar telisik Garut News menunjukan, pagu rastra kabupaten ini pada 2017 mencapai 30.936.600 kilogram (kg) untuk 171.870 ‘Keluarga Penerima Manfaat’ (KPM) tersebar pada 442 desa/kelurahan di 42 wilayah kecamatan.

Totalitas rastra tersaluran kepada para KPM di seluruh desa/kelurahan di kabupaten setempat, hingga September silam mencapai sekitar 18.273.555 kg.

“Ngosrek”

Selain terdapat 70 persen petani gurem, banyak pula buruh tani termasuk yang berkegiatan “ngosrek”.

Menyusul banyak pemilik sawah yang hingga kini masih memanen padi, maka penduduk miskin di kabupaten setempat terutama kaum ibu berusia senja setiap harinya melakukan ‘ngosrek”.

Ngosrek berupa kegiatan membersihkan kembali batang padi bekas dipanen, yang dinilai masih menyisakan bulirnya.

Padahal tumpukan bekas batang padi tersebut, telah dibuang pemiliknya sebab dinilai tak berguna, meski kemudian dijadikan bahan baku campuran pupuk organik saat pengolahan tanah menjelang dilakukan penanaman kembali.

Sedangkan bagi kaum duafa, justru masih bisa dilakukan ngosrek untuk memungut sisa bulir padi yang dibersihkannya.

Mereka bisa terus-menerus selama sepekan bahkan lebih melakukan ngosrek, dari satu areal ke areal lainnya yang telah dipanen.

Setelah bulir padi dikumpulkan, dan sebelum dimasukan ke dalam karung terlebih dahulu disortir agar sisa bulir padi yang masih hijau tak terbawa, juga sekaligus membersihkan dari kotoran tanah.

Bagi setiap penduduk miskin, hasil ngosrek ini dimanfaatkan memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, yang kerap mencukupi hingga masa panen pada tiga bulan mendatang.Bagi setiap penduduk

Malahan jika hasilnya berlebih, sebagian dijual untuk membeli lauk-pauk, kendati usaha ngosrek tersebut kerap mereka berpacu berebutan lahan dengan pengembala itik.

“Surplus Mencapai 291.047 ton Beras”Kepala UPTD Data dan Informasi pada Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Eti Suharyati mengatakan, sejak Januari hingga Desember 2017 luas tanam padi sawah terealisasi 100,28 persen atau 130.112 hektare.

Produksinya mencapai 901.963 ton GKG atau 565.801 ton beras, kemudian padi gogo dari luas tanam 23.148 hektare memproduksi 96.188 ton GKG atau 64.446 ton beras, maka total produksi 2017 mencapai 998.151 GKG atau 630.247 ton beras.

Sehingga produksi beras Kabupaten Garut 2017 mengalami surplus mencapai 291.047 ton beras, karena kebutuhan konsumsi seluruh masyarakat di kabupaten ini 339.200 ton beras.

Disusul dari 81.105 hektare luas tanam jagung bisa memproduksi 606.665 ton, ungkapnya.

Demikian pula produktivitas di wilayah Kecamatan Leles (45 hektare) bervarietas Mikongga dan Ciherang, serta di Kecamatan Pangatikan juga seluas (45 hektare) dengan varietas Ciherang, ujar Dudung Sumirat, menambahkan keterangannya.

Pada panen raya 70 hektare sawah di Desa Mekarbakti Kadungora, Ahad (14/01-2018) rata-rata produktivitasnya 7,7 ton GKG per hektare dengan varietas Sarinah.

********

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.