Aparat BBKSDA Kesulitan Padamkan Kobaran Api Hutan Konservasi

0
27 views

Ilustrasi Fotografer : John Doddy Hidayat.

Garut News ( Selasa, 20/10 – 2015 ).

Hamparan Bara Api Dari Hutan Terbakar.
Hamparan Bara Api Dari Hutan Terbakar.

Aparat Seksi Konservasi Wilayah V Garut Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat kesulitan mengatasi kebakaran selama ini kerap meranggas kawasan hutan konservasi.

Khususnya kebakaran terjadi pada kawasan hutan Cagar Alam/Taman Wisata Alam (CA/TWA) Gunungapi Guntur dan CA/TWA Gunungapi Papandayan. Padahal kerugian akibat kebakaran tersebut tak ternilai harganya dan memerlukan waktu lama proses pemulihannya.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Garut, Toni Ramdhani juga mengaku kesulitan melakukan pemadaman kebakaran hutan hingga kini masih terjadi, seperti di kawasan CA Gunungapi Guntur.

lantaran selain lokasi terjal bahkan sulit dijangkau, diperparah pula angin bertiup kencang, dan sumber air pun susah diperoleh. Serta jumlah petugas, dan kelengkapan peralatan sangat terbatas.

Dikatakan, kobaran api sangat cepat meluas sebab kondisi vegetasi kering dan mudah terbakar. Mulai alang-alang, bamboo, kaliandra, dan ragam tanaman perdu hingga pinus.

“Untuk kawasan Gunung Guntur, kita hanya ada empat petugas, dibantu dua personel dari kantor. Petugas di kawasan Papandayan pun hanya enam. Peralatan tersedia pun sebatas alat pemadam kebakaran sederhana jet sweeter untuk pemadaman kebakaran skala kecil, berjumlah terbatas,” ungkap Toni, Selasa (20/10-2015).

Karena itu, jelasnya, ketika terjadi kebakaran berskala besar, pihaknya hanya bisa melakukan pemantauan guna mengantisipasi api melebar ke arah permukiman.

Dikemukakan, kerugian kebakaran pada kawasan konservasi itu merupakan kerusakan hutan memproduksi oksigen, sekaligus menimbulkan kerugian ekosistem. Sehingga kerugiannya tak bisa dinilai dengan hitungan material ataw nominal uang.

“Hitung saja berapa meter kubik oksigen dihasilkan satu pohon per hari? Kalau rusak, berapa kerugiannya? Itu baru satu pohon. Belum lagi jenis tumbuhan di bawahnya, satwa yang ada, serta dampak pencemaran akibat kebakaran. Berapa meter kubik pula air hujan yang hilang tak tersimpan akibat pohonnya rusak terbakar?” bebernya.

Pantauan lapangan menunjukan, kebakaran di hutan CA Gunungapi Guntur hingga Selasa petang masih terjadi. Kepulan asap tebal di kawasan puncak gunung sangat jelas terlihat dari jauh.

“Saya juga ngeri melihatnya,” ujar Toni.

Dijelaskan, kebakaran terjadi sejak Ahad (18/10-2015) di daerah Rafles itu terus melebar ke Blok Cilopang, Cigenjreng, Cikahuripan, dan Sanghyang Buruan.

Titik api terlihat mengarah ke barat ke kawasan Kamojang. Luas lahan terbakar diperkirakan mencapai 30-50 hektare.

Sedangkan kebakaran di kawasan CA Gunungapi Papandayan, kini relatif sudah padam. Hanya tinggal berupa bara terlokalisasi di puncak.

“Kebakaran di Papandayan sekarang ini kondisinya tinggal menyisakan bara pada tunggul kayu jemuju kering,” katanya.

*********

Noel, Jdh.