Antrian Melelahkan Juga Kejengkelan Mendapatkan Dokumen Kependudukan

0
15 views
Antrian Panjang Melelahkan, Bahkan Kerap Menjengkelkan.
Banyak Pula Emak-emak Membawa Bayi, dan Balita Lengkap Dengan Bekal Makanan serta Minuman.

“Terpaksa Harus Keluar Masuk Gedung Disdukcapil”

Garut News ( Sabtu, 22/02 – 2020 ).

Foto berita Garut News akhir pekan ini, Sabtu (22/02-2020), memotret jerih payah penduduk Kabupaten Garut untuk bisa mendapatkan dokumen kependudukan.

Terutama ‘Kartu Tanda Penduduk’ (KTP), ‘Kartu Keluarga’ (KK), Akte Kelahiran, dan dokumen penting lainnya dari ‘Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil’ (Disdukcapil) kabupaten setempat.

Mereka berupaya dengan susah payah bergegas berdatangan dari pelosok setiap seluruh 42 wilayah kecamatan dengan 21 kelurahan, dan 421 desa meliputi sekitar 4.323 ‘Rukun Warga’ (RW) serta 15.608 ‘Rukun Tetangga’ (RT).

Menunggu, dan Terpaksa Harus Terus Menunggu.

Sehingga banyak di antara warga dari wilayah Selatan Garut, juga terpaksa membawa perbekalan bermalam di masjid maupun rumah kerabat, dan sanak-saudara. Lantaran menempuh perjalanan hingga mencapai sejauh ratusan kilometer.

Setibanya di Kota Garut, harus pula mengantri panjang guna mendapatkan nomor antrian sejak selepas shalat subuh, meski nomor antriannya dibagikan petugas mulai sekitar pukul 06.00 WIB.

Kemudian dilanjutkan menunggu pelayanan Disdukcapil yang dimulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB, petugas pun memanggil setiap pemohon sesuai dengan nonor antriannya masing-masing.

Tahap terakhir berupa proses pengambilan dokumen yang diperlukan, seperti KTP, KK, Akte Kelahiran dan sebagainya. Ternyata kerap menunggu kelarnya berlangsung hingga beberapa jam kemudian, maka banyak pemohon yang mengambil keesokan harinya.

Kerap Antri Berjejal-jejalan.

Kondisi tersebut, dapat diperparah jika dokumen yang telah tuntas diproses ternyata terdapat kesalahan pengetikan nama, alamat, dan lainnya. Maka terpaksa menjadikan keluar masuknya pemohon ke gedung Disdukcapil.

Seperti halnya nama alamat pada KK seharusnya Kampung ‘Panawuan’ diketik menjadi ‘Panauwan’, kesalahan ini harus diapdate yang juga memerlukan lamanya waktu menunggu.

Ironisnya, acap kesalahan ini terjadi berulang-ulang dua hingga tiga kali. Terpaksa mengurus KK pun memerlukan waktu dua sampai tiga hari, setelah itu bisa memproses pengurusan KTP yang harus kembali diawali dengan mengantri untuk mendapatkan nomor antrian.

Akibatnya, banyak pemohon dokumen kependudukan merasa jengah, kesal, malahan kecewa berat. Namun umumnya mereka tak berdaya selain harus ikhlas menjalani penantian tuntasnya proses pembuatan setiap dokumen kependudukan yang diperlukan.

“Ironisnya pula selama ini yang menjalani antrian panjang dan melelahkan tersebut, umumnya hanya kalangan masyarakat menengah kebawah. Nyaris tak pernah terlihat para ‘gegeden/pejabat penting’ Garut menjalani penderitaan ini,” ungkap sejumlah pemohon termasuk Dian dari Kampung Panawuan Tarogong Kidul Garut.

*******

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here