Angsa Hitam Pemberantasan Korupsi

0
97 views

Andi Irawan, Peminat Telaah Ekonomi-Politik Indonesia

Ilustrasi. Sarang Burung Lebih Mudah Ditemukan Daripada Sarang Gembong Korupstor. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Sarang Burung Lebih Mudah Ditemukan Daripada Sarang Gembong Korupstor. (Foto : John Doddy Hidayat).

Sebelum Benua Australia ditemukan, orang yakin bahwa semua angsa di dunia berwarna putih. Adalah kemustahilan bahwa angsa ada yang berwarna hitam, sampai kemudian kemustahilan itu menjadi keniscayaan, bahwa benar ada angsa hitam.

Fenomena black swan (angsa hitam) dalam perspektif ilmu sosial adalah fenomena kelangkaan atau mendekati kemustahilan untuk hadir.

Angsa hitam adalah fenomena yang sangat langka. Dengan probabilitas yang kecil, tapi ketika muncul berdampak spektakuler, seraya mendorong semua pihak memberi tafsiran baru bagi fenomena tersebut (lihat Taleb, 2009).

Fenomena Jokowi dalam perspektif politik elektoral bisa dikategorikan sebagai black swan. Dalam kondisi politik Indonesia pada era Reformasi ini, semua orang percaya: menjadi RI-1 hampir mustahil bagi seorang dengan predikat sosial-ekonomi-politik seperti Jokowi pada saat itu.

Untuk masuk seleksi sebagai calon presiden saja, pastilah seseorang harus memiliki satu atau lebih dari kategori berikut: elite puncak, bahkan god father/mother partai politik, pengusaha kelas kakap, tokoh-tokoh puncak ormas-ormas besar republik seperti NU dan Muhammadiyah.

Diantara semua kategori itu tidak ada yang dimiliki Jokowi.

Masuknya Jokowi dalam bursa pemilihan presiden yang kemudian memenangi Pemilu 2014 menunjukkan fenomena black swan penting bagi pengembangan demokrasi Indonesia.

Mengapa? Karena bangsa ini mendapat pelajaran penting bahwa setiap anak bangsa yang bukan siapa-siapa; bukan orang nomor satu partai politik besar atau ormas besar, bukan pengusaha konglomerat atau kakap, bisa menjadi presiden selama yang bersangkutan dinilai oleh rakyat berkinerja sangat prima.

Tapi yang perlu diingat oleh Jokowi, ada fenomena black swan yang perlu dihadirkan bagi bangsa ini, yakni bangsa yang bersih dari korupsi.

Bersihnya negara dari korupsi bagi banyak orang hari ini adalah utopia. Pernyataan Lord Acton bahwa “power tends to corrupt” adalah sesuatu yang postulat bagi kita sebagai bangsa.

Kekuasaan juga adalah saringan yang paling efektif dalam membuktikan karakteristik kualitas kepemimpinan seseorang (kata Abraham Lincoln).

Hari ini, kehadiran seseorang pemimpin yang bisa berkontribusi signifikan dalam memberantas korupsi adalah fenomena black swan bagi bangsa ini.

Semua pemimpin yang pernah hadir menjadi pemimpin negeri pada era Reformasi ini selalu berjanji sebelum menjadi pemimpin puncak negara untuk menghilangkan korupsi.

Dan masalahnya sekali lagi, belum ada satu pun pemimpin yang bisa diakui oleh publik sebagai sosok yang berpihak total dan berada di garda depan dalam memberantas korupsi.

Fenomena penangkapan salah satu pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi dari kacamata publik yang bernalar sehat, sulit untuk tidak mengatakan bahwa tindakan tersebut adalah bentuk upaya pelemahan usaha pemberantasan korupsi di Indonesia.

Fenomena black swan ketika Jokowi menjadi presiden, untuk bisa menjadi pelajaran penting bagi pendidikan politik bangsa ini, menjadi kehilangan relevansinya jika ternyata kehadirannya sebagai RI-1 tidak bisa berkontribusi besar menghadirkan black swan (kemustahilan) yang sangat dibutuhkan bangsa kita saat ini, yakni negara yang bersih dari korupsi.
********

Kolom/Artikel Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here