Angka Harapan Hidup Kabupaten Garut Sangat Rendah

Garut News ( Senin, 10/03 – 2014 ).

H. Saprudin, Pengelola TB Paru di Lingkungan Kerja Puskesmas DTP Tarogong, Concern Wujudkan Kualitas Kesehatan Masyarakat. (Foto: John Doddy Hidayat).
H. Saprudin, Pengelola TB Paru di Lingkungan Kerja Puskesmas DTP Tarogong, Concern Wujudkan Kualitas Kesehatan Masyarakat. (Foto: John Doddy Hidayat).

Dibandingkan capaian Provinsi Jawa Barat, “Angka Harapan Hidup” (AHH) masyarakat di Kabupaten Garut, sangat rendah.

Berdasar statistik daerah dirilis dari BPS, menunjukkan pada 2012 AHH masyarakat Kabupaten Garut mencapai 66,39 tahun.

Personil Puskesmas DTP Tarogong Penguat Tugas Administraif. (Foto: John Doddy Hidayat).
Personil Puskesmas DTP Tarogong Penguat Tugas Administraif. (Foto: John Doddy Hidayat).

Atawa terpaut 2,22 tahun di bawah angka provinsi telah mencapai 68,61 tahun, indikasi masih relatif rendahnya tingkat kesehatan di Kabupaten Garut secara makro.

Padahal derajat kesehatan masyarakat di suatu wilayah bisa digambarkan indikator angka harapan hidup.

Merupakan salah satu komponen IPM, juga merupakan ukuran kualitas hidup penduduk secara makro.

Sedangkan faktor langsung berdampak pada penurunan capaian AHH, banyaknya kasus-kasus kematian dini.

Tampak pada masih tingginya angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Garut pada 2012, dengan besaran AKB nya mencapai 49,95.

Sehingga selama satu tahun kasus kematian bayi atawa penduduk usia nol tahun, terjadi sekitar 50 kasus per 1.000 bayi lahir hidup.

Terjadi penurunan cukup signifikan pada besaran AKB 2012, jika dibandingkan besaran AKB periode 2008-2012.

Pada 2008, AKB di Kabupaten Garut mencapai angka 52,42.

Salah satu faktor penyebab tingginya AKB, masih tingginya proses kelahiran bayi ditolong tenaga non medis.

Lantaran selain berisiko pada kematian bayi, juga berisiko pada kematian ibu (AKI).

Persentase proses kelahiran ditolong tenaga non medis masih cukup tinggi, dan perkembangannya berfluktuatif periode 2007-2012.

Setelah mengalami penurunan pada 2011, pada 2012 meningkat kembali menjadi sebesar 35,14 persen.

Masih tingginya proses kelahiran ditolong non medis, salah satunya dikontribusi tingkat pengetahuan ibu relatif rendah.

Khususnya bidang kesehatan, kemungkinan lantaran banyaknya kasus-kasus perkawinan dini.

Selain tingginya AKB, dan AKI, resiko lainnya akibat rendahnya pengetahuan ibu berupa tingginya balita berstatus gizi kurang, dan buruk.

******

Sumber BPS Garut, JH.

Related posts