Angeline

0
79 views

Putu Setia

Garut News ( Ahad, 14/06 – 2015 ).

Ilustrasi. Anak Jalanan Garut. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Anak Jalanan Garut. (Foto: John Doddy Hidayat).

TAK ada satu pun koran di ruang tamu rumah Romo Imam. Ditaruh di mana? “Memang saya sembunyikan supaya tak dibaca anak-anak,” kata Romo.

Serius?

“Ya, koran hari ini tak cocok dibaca anak-anak. Tragedi Angeline memenuhi halaman. Foto gadis cilik yang cantik itu di dalam berita justru menyedihkan. Diperlakukan kasar oleh ibu angkatnya, kumal dan bau ketika ke sekolah, kurus kering layaknya orang kelaparan. Lalu dinyatakan hilang dan dicari ke mana-mana, ternyata kuburannya di pekarangan rumah. Otopsi jenazah menunjukkan dia disiksa sebelum dibunuh. Ada cerita bahkan dikubur masih dalam keadaan hidup. Duh, bagaimana kalau anak-anak membaca berita ini.”

Saya ikut sedih. “Saya juga bingung, Romo,” kata saya. “Angeline dibunuh pagi sekitar pukul sepuluh. Mayatnya baru ditanam pukul delapan malam. Sementara ibu angkatnya sore hari sudah mengumumkan Angeline hilang saat sedang bermain di halaman rumahnya. Lalu kakak tiri Angeline membuat halaman di Facebook mengabarkan kehilangan itu dengan mengunggah foto-foto Angeline yang riang gembira, mengesankan dia sangat disayang keluarga. Lazimnya kalau ada orang hilang, foto yang dipampang adalah foto yang terbaru. Ada apa semua ini? Kenapa secepat itu Angeline dinyatakan hilang, kok tidak dicari dulu di dalam rumah?”

“Sudahlah, tak usah diteruskan,” Romo memotong. “Sampeyan mantan wartawan sih, selalu curiga kalau ada hal-hal aneh larinya ke masalah konspirasi dan membangun alibi. Yang jelas, polisi menyebutkan ibu angkat Angeline tidak terlibat. Pelakunya tunggal, bekas pembantu di rumah itu. Titik.”

Karena Romo menyebut “titik” itu isyarat supaya saya diam. Padahal saya ingin mengatakan polisi terburu-buru dengan menyebutkan pelaku tunggal. Tiba-tiba Romo seperti bergumam: “Kenapa tragedi Angeline bisa terjadi di Bali?”

Karena Romo seperti menunggu jawaban, saya pun bicara.

“Kejadian begini bisa terjadi di mana-mana, terutama di lingkungan masyarakat eksklusif. Kawasan di mana Angeline berada itu permukiman baru, antar-tetangga bisa saling rikuh untuk berkenalan. Apalagi di rumah itu ada satpam, mana ada rumah tangga di Bali memiliki satpam. Ibu angkat Angeline di mata orang Bali pasti orang kaya, suaminya orang asing. Guru-guru Angeline yang sering kali memandikan gadis kecil ini karena kotor dan bau juga rikuh datang ke rumah ibu angkatnya. Padahal sesekali wali kelas Angeline mengantarkan anak ini pulang, cuma sampai di luar pagar rumah. Tak ada komunikasi antara guru dan orang tua murid. Di pedesaan tak ada istilah rikuh, guru biasa bertemu dengan orang tua murid. Ada ribut-ribut di sebuah rumah, tetangga pasti berdatangan.”

“Sampeyan mau ngomong apa?” tanya Romo nyeletuk. Saya katakan: “Permukiman baru di Bali yang warganya beragam etnis dan agama, sebaiknya belajar pada kearifan lokal, menyama-braya yang artinya menjaga silaturahmi antarwarga. Jangan menutup diri. Yang perlu dibenahi juga, aturan mengadopsi anak, cobalah tiru adat Bali. Mengangkat anak di Bali harus ada saksi adat dan ada ritual sehingga anak itu jelas dididik secara agama apa. Angeline lahir dari keluarga muslim, masih bayi diadopsi orang asing, di sekolah ikut pendidikan Hindu karena tak ada komunikasi dengan orang tua angkatnya. Guru dan teman-teman Angeline pun kini berdoa secara Hindu. Sudah pasti di Banyuwangi nanti jenazah Angeline akan dikubur dengan doa Islam.”

Romo memotong: “Lha, agama Angeline apa ya?” Saya jawab: “Tuhan Maha Besar. Tuhan tak akan mempertanyakan, anak sekecil itu pasti diberi surga.” Amin.

********

Tempo.co