Analisis Rekaman CCTV yang Semakin Maju

0
13 views

Oleh: Handoko Gani

Garut News ( Sabtu, 28/05 – 2016 ).

Analisis CCTV makin canggih. (IST).
Analisis CCTV makin canggih. (IST).

Seluruh situs berita online hari ini penuh dengan berita tentang Jessica Wongso, tersangka pembunuhan Mirna Salihin. Mulai dari daftar 37 barbuk (barang bukti) yang diserahkan Kepolisian kepada Kejaksaan hingga dokumentasi ekspresi Jessica di dalam proses perpindahan ke rutan Pondok Bambu.

Sejak terjadinya kasus ini hingga hari ini, entah berapa banyak pengamat yang membahas tentang kasus ini, termasuk tentang Jessica. Namun, mayoritas tidak memiliki CCTV. Hanya berdasarkan keterangan Jessica saat wawancara di sejumlah media, yang kemudian dipoles dengan teori psikologi dan kriminologi.

Padahal, setiap menit dan detik di dalam 9 CCTV di Kafe Olivier merupakan barbuk yang luar biasa penting sekali. Mulai dari kedatangan Jessica, duduk, kemudian ke Kitchen Bar, dipotret di Kitchen Bar, dan seterusnya hingga bersama-sama keluar menuju klinik dokter di mal tempat kejadian perkara.

Analisis CCTV tersebut bisa betul-betul detail, per detik, per ekspresi wajah dan sikap tubuh, per individu, dan dalam setiap CCTV yang menyoroti.

Saya tidak akan membahas mengenai 37 barbuk tersebut. Apalagi, CCTV di Kafe Olivier karena kode etik. Namun, saya akan membahas sedikit contoh penggunaan CCTV di dalam pengusutan kasus kriminal hingga kasus terorisme.

Kebanyakan orang menganggap CCTV hanya bisa menunjukkan rekaman kejadian. Bila tidak ada kejadian, tidak terekam oleh CCTV. Benarkah demikian?

Anggapan ini adalah anggapan yang tidak sepenuhnya benar karena sebetulnya CCTV bisa dipergunakan untuk menunjukkan jejak seseorang saat sebelum, sedang, dan setelah melakukan tindakan kejahatan.

Rekaman CCTV bisa digabungkan dengan ilmu deteksi kebohongan, baik ilmu deteksi kebohongan non verbal (teknik analisa ekspresi wajah dan sikap tubuh) ataupun ilmu deteksi kebohongan verbal (teknik analisa kata-kata dan gaya bicara), ilmu psikologi, dan ilmu kriminologi.

Di masa depan penegak hukum atau polisi anti huru-hara tidak perlu khawatir dalam menangani demonstrasi. Software Facial Recognition dan Facial Expression akan membantu penanganan demonstrasi agar tidak terprovokatif atau berkembang menjadi demonstrasi destruktif.

Proses kerjanya sederhana yaitu demonstrasi terekam dengan kamera CCTV yang bisa merekam jarak jauh dengan sangat jelas. Identitas pendemo segera dikenali dengan software Facial Recognition versi canggih dari software yang biasa Anda pergunakan untuk log-in ke dalam komputer ataupun smartphone.

Kemudian secara bersamaan ekspresi wajah pendemo akan dianalisis ala teknik Facial Expression. Setiap pendemo yang berpotensi menunjukkan emosi marah luar biasa dan mulai menunjukkan sikap tubuh yang destruktif segera bisa terdeteksi. Penegak hukum bisa buru-buru mengamankan jenis pendemo ini.

Seorang sahabat saya, founder Unipapua, memberikan saya bahan sharing luar biasa. Beliau menyatakan bahwa sepakbola Jerman telah menerapkan teknik analisis sikap tubuh kepada para pemain sepakbola.

Software ini mencatat pergerakan setiap pemain sepakbola dalam setiap pertandingan dan menjadikannya sebagai sebuah database BASELINES (karakteristik normal) sang pemain.

Misalnya, ketika dalam sebuah pertandingan, sang pemain terlihat tidak normal, antara lain: menendang tidak seakurat biasanya, bahkan terlihat tidak seagresif biasanya, ditambah kemudian ada dugaan pengaturan skor pertandingan, software ini bisa menjadi barbuk dalam sidang pengadilan terkait.

Cara Anda berjalan, ayunan kaki Anda, tekanan kaki pada lantai, kemiringan postur Anda saat berjalan, hingga kecepatan Anda berjalan merupakan salah satu jati diri Anda yang mungkin Anda tidak sadari.

Rekaman CCTV yang dianalisis dengan software facial recognition dan software analisis sikap tubuh, misalnya, bisa membantu penyidik untuk memastikan jati diri buronan yang dicari.

Anda mungkin mempertanyakan tentang suara, kata-kata, dan gaya bicara. Ekspresi wajah ataupun sikap tubuh perlu mempertimbangkan konteks percakapan dalam momen terkait. Anda tidak keliru bila memang sedang menganalisis verbal, baik dalam lingkup memahami makna tersirat sebuah percakapan ataupun memvalidasi jujur atau bohongnya seseorang dalam percakapan.

Di dunia barat sana, khususnya yang berbasis bahasa Inggris sebagai bahasa ibu, ada sebuah profesi yang tengah saya pelajari lebih dalam. Profesi ini disebut Forensic Lips Reader atau Forensic Speech Reader. Ahli di bidang ini adalah seseorang yang bisa menerjemahkan gerakan bibir seseorang sekalipun tidak mendengarkan suara/ kata-kata/ gaya bicara orang tersebut.

Bila CCTV belum bisa merekam percakapan dalam jarak jauh, software Forensic Lips Reader ini bisa menerjemahkan isi dialog seseorang, bila dipadukan dengan software Facial Recognition dan Facial Expression yang saya ceritakan di atas.

Canggih bukan? Anda masih mempertanyakan validitas?

Secara keilmuan, kebanyakan teknik analisis verbal dan non-verbal ini telah bertahun-tahun dibuktikan secara ilmiah dan diakui di dalam dunia psikologi, kriminologi, neurologi, hingga dunia penegakan hukum.

Tentu seiring zaman, teknologi ini bakal makin canggih dan makin mendekati kesempurnaan alias minus error dalam menganalisa manusia. Mirip film Eagle Eye atau Minority Report atau film sejenis lainnya.

Ya memang. Dunia sedang menuju “film” itu. Tantangan baru bagi penegak hukum.

Selamat kepada Bapak Irjen Ari Dono Sukmanto sebagai Kabareskrim yang baru! Nitip perbanyak CCTV dan perbaharui teknologi analisis manusia yang dimiliki Reskrim ya, Pak!

Sekali lagi, selamat menjalankan tugas. Semoga Indonesia makin jujur, makin aman, makin tentram, dan makin ramah anak-wanita-lansia-kaum pinggiran.

********

Editor : Tri Wahono/Kompas.com