Anak-Menantu Trump ‘Berpesta’ di Atas Para Mayat Palestina

0
23 views
Ikhwanul Kiram Mashuri. (Foto: Republika/Daan).

Senin 21 May 2018 05:08 WIB
Red: Elba Damhuri

“Keputusan Trump membuat marah besar bangsa Palestina dan bangsa-bangsa lain”

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

Ikhwanul Kiram Mashuri. (Foto: Republika/Daan).

Sebuah foto ‘selfie’ menampakkkan Jared Kouchner dan isterinya Ivanka Trump serta Benjamin Netanyahu dan isterinya. Foto lain menggambarkan para warga Palestina yang berjatuhan terkena peluru militer Israel di perbatasan timur Jalur Gaza.

Ketika melihat kedua foto itu — dua foto yang sebenarnya satu rangkaian — mungkin tidak berlebihan bila editor sebuah situs web berita the Huffington Post memberi judul: ‘Mereka Berdansa di Atas Para Mayat Orang-orang Palestina’.

Kalau saya yang membuat judul, maka akan lebih fokus lagi, yaitu ‘Anak-menantu Trump Berpesta di Atas Para Mayat Palestina’.

Peristiwa itu terjadi tepat sepekan lalu (15/05/2018). Amerika Serikat (AS) yang diwakili oleh menantu Presiden Donald Trump, Jared Kouchner dan isterinya Ivanka Trump, datang ke Israel untuk menghadiri upacara — disusul dengan pesta — pemindahan Kedubes AS ke Jerusalem.

Di antara tamu undangan adalah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan isterinya. Selain menantu, Kouchner juga merupakan penasihat Gedung Putih dan utusan khusus Presiden Trump untuk Timur Tengah. Pemindahan Kedubes AS itu juga sekaligus untuk memperingati 70 tahun kemerdekaan Israel.

Di sisi lain, peringatan 70 tahun itu merupakan Yawm Nakbah bagi bangsa Palestina. Nakbah berarti petaka atau kehancuran. Petaka lantaran negara Israel merdeka didirikan di atas wilayah bangsa Palestina yang disokong penuh AS.

Jutaan warga Palestina terusir dari Tanah Airnya. Sejumlah 80 persen wilayah Palestina telah dijarah dan kini diakui Israel sebagai wilayahnya, termasuk Yerusalem Timur, ibu kota abadi Palestina. Bangsa Palestina kini tinggal di wilayah sisanya. Itu pun di bawah kepungan militer Israel.

Setiap tahun Yawm Nakbah diperingat bangsa Palestina dengan serangkaian aksi demonstrasi damai. Namun, aksi-aksi unjuk rasa kali ini lebih besar. Pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Jerusalem penyebabnya.

Keputusan Presiden Trump telah membuat marah besar bangsa Palestina dan bangsa-bangsa lain di banyak negara. Namun, seperti biasanya, Israel menghadapi aksi-aksi demo itu dengan senjata canggih yang mematikan.

Sebagai akibatnya, hanya dalam dua hari, Senin dan Selasa pekan lalu — bersamaan dengan pesta peresmian Kantor Kedubes AS yang baru di Jerusalem — sedikitnya 70 warga Palestina meninggal dunia terkena peluruh tajam, dan tak kurang dari tiga ribu lainnya terluka, berat dan ringan. Banyak dari mereka yang terjatuh dan terkena kawat berduri dan sengatan listrik di perbatasan timur Jalur Gaza-Israel itu.

Serangan biadab militer Israel dan pemindahan Kebubes AS itu bukan hanya telah melukai perasaan bangsa Palestina serta umat Islam dan Kristen di seluruh dunia, namun juga telah mengubur harapan penyelesaian damai dua negara. Yaitu, Palestina dan Israel sebagai dua negara merdeka yang hidup berdampingan secara damai, di mana masyarakat internasional telah menyepakati Jerusalem sebagai kunci penyelesaian.

Bukan hanya itu. Pengakuan Presiden Trump terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel juga telah mengubur berbagai keputusan sah internasional dan sejumlah resolusi Dewan Keamanan PBB. Berbagai keputusan dan resolusi itu telah menyerukan solusi dua negara, penarikan mundur Israel ke batas-batas negara sebelum Perang 1967, dan berdirinya Negara Palestina Merdeka dengan ibu kotanya al Quds as Syarqiyah alias Yerusalem Timur.

Anehnya, kendatipun masyarakat dunia telah tergoncang dengan kebiadaban tentara Israel dan mengecam tindakan brutal itu, menantu Presiden Trump dan juga penasihatnya, Jared Kouchner enteng saja mengatakan, ‘’Mereka yang menyebabkan kekerasan adalah bagian dari masalah, bukan solusi!’’ Ia merujuk pada aksi-aksi unjuk rasa ribuan warga Palestina yang memprotes pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem.

Yang lebih mengejutkan lagi adalah pernyataan Nikki Haley, Dubes AS untuk PBB. Dalam pidato di depan anggota Dewan Keamanan PBB, ia menolak hubungan apa pun antara kekerasan yang terjadi di perbatasan Gaza dengan pemindahaan Kedubes AS ke Yerusalem. Bahkan ia memuji militer Israel yang ia sebut telah ‘menahan diri’. ‘’Tidak ada satu negara di ruangan ini yang bisa menahan diri melebihi Israel,’’ katanya.

Tidak hanya itu. Haley bahkan menarik diri dan keluar dari pertemuan anggota Dewan Keamanan PBB, begitu delegasi Palestina menyampaikan sambutan.

Menurutnya, apa yang terjadi di Gaza — puluhan meninggal dunia dan ribuan lainnya terluka — tidak layak alias terlalu remeh untuk jadi bahasan sesi Dewan Keamanan PBB. Termasuk, lanjutnya, menyerukan pembentukan komisi independen untuk menyelediki penggunaan kekuatan senjata oleh Israel.

Presiden Trump tampaknya tidak peduli dengan berbagai pandangan yang memperingatkan agar tidak memindahkan Kedubes AS ke Yerusalem. Pemindahan Kedubes yang berarti pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel adalah pelanggaran terhadap hukum internasional, pelanggaran terhadap resolusi PBB, dan telah menyakit hati bukan saja warga Palestina, tapi juga umat Islam dan Kristen di seluruh dunia. Yang ia pedulikan adalah janji kampanyenya.

Karena itu, sulit dibayangkan Gedung Putih tidak mengetahui akan ada aksi dan reaksi terhadap keputusan Trump. Sangat mustahil mereka tidak memperhitungkan sikap warga Palestina. Hanya saja, mungkin mereka memperkirakan aksi dan reaksi itu hanya sesaat dan pengaruhnya terbatas. Sehingga, Trump bisa dengan tenang memindahkan Kedubesnya ke Yerusalem sebagaimana janjinya. Dengan keputusan itu ia berharap di pihak Israel juga ada beberapa konsesi untuk mencapai ‘kesepakatan abad ini’.

Hal itulah yang terus diungkapkan Trump dan diulang oleh para pembantunya, termasuk John Bolton, penasihat keamanan nasional barunya. Dalam sebuah wawancara ia mengatakan pemindahan kedutaan (Kedubes AS) tidak akan membawa perdamaian (langsung), tetapi akan membawanya lebih dekat.

Presiden Trump tampaknya juga meyakini para pemimpin Palestina akan bersedia kembali ke meja perundingan setelah bangun dari goncangan (melihat kenyataan), karena tidak ada alternatif lain bagi mereka. Ia juga percaya bahwa kendatipun banyak kritik dialamatkan kepadanya, akhirnya semua pihak akan mengetahui bahwa untuk menggerakkan proses perdamaian mereka memerlukan AS.

Kondisi bangsa Palestina kini memang sulit. Mereka harus menghadapi sikap ekstrem pemerintahan PM Netanyahu yang didukung penuh Presiden Trump. Berbagai pilihan sangat terbatas. Mereka tidak mungkin kembali berunding dengan Israel dengan kondisi berat sebelah, sementara Israel menerapkan hokum rimba dengan menguasai sebagian besar wilayah Palestina.

Untuk menghadapi sikap dari orang-orang seperti Netanyahu, Trump, dan para pendukung mereka, tidak ada cara lain kecuali masyarakat internasional harus bersatu. Diawali dengan persatuan internal Palestina, Hamas dengan Fatah. Disusul kemudian dengan persatuan di kalangan negara-negara Arab, Islam, Asia-Afrika, dan negara-negara lain antipenjajahan.

Misalnya, negara-negara Arab dan Islam ramai-ramai menarik duta besarnya dari Washington atau memboikot — dalam arti benar-benar boikot dan bukan basa-basi — semua produk AS dan Israel. Bisa dipastikan mereka akan kalang kabut.

Sayangnya, semua itu jauh dari kenyataan. Kita tidak mempunyai tokoh penggerak seperti Soekarno, Gamal Abdul Nasir, Jawaharlal Nehru, Raja Faisal bin Abdul Aziz, dan lainnya. Tokoh-tokoh yang bila mereka ‘batuk’, dunia pun tergoncang. Apalagi kalau berteriak.

*******

Republika.co.id