Amerika Pasca-Shutdown

by

Jakarta, Garut News ( Selasa, 05/11 ).

Ilustrasi. (Ist).
Ilustrasi. (Ist).
Banyak yang mengomentari peran kritis yang dimainkan enam senator wanita-Republik dan Demokrat-dalam upaya mencapai kompromi yang dibutuhkan untuk mengakhiri krisis.

SETELAH selama 16 hari museum-museum ditutup, gedung-gedung federal setengah kosong, jalan-jalan lengang, dan puluhan ribu pegawai dirumahkan, Washington sekarang sudah normal kembali.

Tapi, walaupun shutdown pemerintah Amerika Serikat, yang diprakarsai anggota-anggota Kongres dari Partai Republik yang berusaha memblokir legislasi layanan kesehatan usulan Presiden Barack Obama, itu sudah usai, ada tiga pelajaran berharga yang muncul dari shutdown ini.

Pertama, jika terjadi lagi krisis zona euro, AS tidak bisa tidak harus menutup mulut.

Bukankah tontonan shutdown yang dipamerkannya itu mengungkapkan patologi yang tidak kurang parahnya daripada patologi yang mewarnai negosiasi ekonomi dan politik yang berlangsung di Uni Eropa selama lima tahun terakhir?

Perilaku tidak bertanggung jawab yang mengancam kesehatan ekonomi global?

Betul. Sikap politik dan klaim aneh yang menutup setiap kemungkinan tercapainya kompromi?

Betul. Tindakan yang menyerempet bahaya dan pengambilan keputusan pada menit-menit terakhir yang membuat semua orang bertanya-tanya apakah kali ini kereta itu akan terjun ke dalam jurang?

Betul.

Tidak banyak negara pada tahun-tahun terakhir ini yang bebas dari tontonan gejolak politiknya di dalam negeri dibeberkan ke seluruh dunia.

Inggris baru saja dua musim panas yang lalu menyaksikan kerusuhan di London.

Pemogokan dan demonstrasi secara berkala melumpuhkan Paris.

Yunani menyaksikan bangkitnya partai fasis.

Kota Meksiko praktis lumpuh oleh demonstrasi guru yang menduduki lapangan sentral di kota itu.

Dan Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdoðan terpaksa menggunakan kekerasan, Juni lalu, untuk menghentikan protes mingguan terhadap cara-caranya yang semakin otokratis dalam menjalankan roda pemerintahan.

Di antara negara-negara non-demokrasi, Cina dilanda skandal Bo Xilai yang pantas melatarbelakangi suatu novel mengenai hubungan gelap, maraknya korupsi, pembunuhan, dan upaya dramatis seorang pejabat polisi mencari suaka di sebuah konsulat AS.

Dengan latar belakang ini, shutdown yang terjadi di AS itu tampak sedikit berbeda.

Ya, ia merupakan gejala disfungsi politik akibat politisasi demarkasi daerah pemilihan dan distorsi sistem pendanaan kampanye pemilihan.

Meski demikian, patut dicatat bahwa keseluruhan krisis itu berlangsung menurut aturan yang tercantum dalam konstitusi.

Sementara tenggat menaikkan pagu utang itu semakin dekat, Henry Aaron, seorang senior fellow pada Brookings Institution, mengemukakan bahwa konstitusi AS mengharuskan presiden “membelanjakan apa yang boleh dibelanjakan seperti yang diperintahkan Kongres, mengenakan pajak hanya seperti yang ditetapkan Kongres, dan meminjam uang tidak lebih dari yang ditetapkan Kongres”.

Ketiga aturan hukum ini semuanya tidak mungkin bisa dilakukan serempak jika Kongres menolak dinaikkannya pagu utang.

Tapi menaikkan pagu utang tanpa persetujuan Kongres, walaupun merupakan pelanggaran aturan hukum, merupakan pilihan yang terbaik.

Bahkan dihadapkan pada polarisasi politik yang lebih dalam daripada yang dihadapi AS selama beberapa dekade ini (dan kebencian yang kental di banyak daerah terhadap presiden pertama keturunan Afro-Amerika itu), rakyat Amerika dan politikus-politikus mereka memahami bahwa melanggar aturan-aturan itu berarti mengurai lem konstitusi yang mengikat rakyat bersama.

Pemahaman ini berarti bahwa obat penyembuh disfungsi yang terjadi sekarang ini terdapat di kotak suara, bukan di jalan-jalan raya.

Komitmen kolektif pada hukum yang mengatur kekuasaan politik inilah yang merupakan esensi demokrasi liberal.

Tapi rakyat Amerika tidak berada dalam suasana batin untuk merayakan sesuatu.

Kesimpulan kedua yang bisa diambil dari shutdown ini adalah nyaris lenyapnya rasa memenangi sesuatu.

Sikap menepuk dada digantikan oleh patriotisme yang lebih lunak, di mana warga awam menyaksikan kecenderungan tergerusnya janji diberikannya peluang yang sama, terutama kelemahan pada sistem layanan kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur negeri ini.

Kemarahan para anggota Partai Republik (seperti kemarahan pengunjuk rasa Occupy Wall Street) mencerminkan perasaan bahwa tidak satu pun langkah-kecuali langkah yang dramatis, bahkan revolusioner, yang bisa mengubah sistem yang ada sekarang.

Para pemilih yang pragmatis sekarang makin gemas melihat kelumpuhan politik dan ketidakmampuan lembaga-lembaga pemerintah merespons apa yang jelas dikehendaki mayoritas rakyat.

Di tengah berlangsungnya shutdown, peringkat (approval rating) Partai Republik anjlok turun sampai seperempat dari jumlah pemilih, terendah dalam sejarah.

Sementara peringkat (approval rating) Kongres secara keseluruhan anjlok turun sampai cuma 5 persen.

Pelajaran terakhir yang bisa dipetik dari shutdown ini adalah bahwa sistem politik apa pun bisa menarik manfaat dari keikutsertaan wanita yang lebih besar.

Banyak yang mengomentari peran kritis yang dimainkan enam senator wanita-Republik dan Demokrat-dalam upaya mencapai kompromi yang dibutuhkan untuk mengakhiri krisis.

Wanita-wanita ini telah bersatu di tengah jurang yang memisahkan partai-partai, sementara rekan-rekan separtai mereka terus terperosok ke dalam persaingan dan caci-maki.

Sama pentingnya, wanita-wanita ini merasakan-dan bertindak sesuai dengan-kewajiban moral suatu pemerintah yang sebenarnya.

Seperti dikatakan Senator Susan Collins, seorang anggota Partai Republik dari Negara Bagian Maine yang pertama mengemukakan garis besar kesepakatan dan membawanya ke depan Senat, shutdown itu ” telah melukai semua usaha kecil-menengah” di sekitar Taman Nasional Acadia di negara bagiannya, “Dan itu jelas keliru.”

Dunia harus mencatat, wanita tidak semestinya lebih baik daripada pria dalam menjalankan roda pemerataan.

Tapi mereka memiliki perspektif yang berbeda dan kebiasaan yang esensial untuk mengatasi kebuntuan yang tercipta oleh kepentingan mempertahankan ego pria.

Ia juga sering lebih fokus pada penderitaan sebenarnya yang dialami masyarakat daripada mempromosikan prinsip-prinsip yang muluk-muluk.

Mereka lebih suka kemajuan yang konkret daripada kemenangan yang abstrak.

Dari debat parlemen sampai negosiasi menuju perdamaian, bertambahnya keterwakilan wanita meningkatkan hasil yang berharga.

Pemerintah AS untuk saat ini sudah kembali bekerja.

Negosiasi anggaran yang riil yang bisa diterima semua pihak sudah mulai.

Dan penilaian bagaimana shutdown bakal mempengaruhi peruntungan Partai Republik dalam pemilihan paruh-waktu pada 2014 banyak dibicarakan.

Tapi perpecahan sosial dan ekonomi AS pada akhirnya bakal menemukan solusi politik, melalui pemilihan dan upaya jutaan rakyat Amerika untuk mewujudkan reformasi yang mendasar.

Di samping frustrasi dan rasa malu yang dialami selama beberapa pekan terakhir, shutdown itu sebenarnya bisa membawa akibat yang lebih buruk.

***** Sumber : Kolom/Artikel : Tempo.co