Allah SWT Menyukai Orang Pendiam

0
11 views

Sabtu 29 Aug 2020 14:11 WIB
Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Ani Nursalikah

Berhijrah Ke Arah yang Lebih Baik.

“Orang pendiam adalah yang menjaga hatinya tetap rendah”

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Suatu waktu, Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka mengasingkan diri.” (HR. Muslim, no. 2965).

Dari hadist tersebut, Allah SWT diketahui sangat suka orang yang tidak diperhatikan, orang yang jarang terlihat, dan memperlihatkan diri. Orang-orang itu adalah siapa pun yang menjaga hatinya tetap rendah, tidak suka memperlihatkan kelebihannya serta orang yang tidak mengejar status sosial atau reputasi apa pun.

Kampus Peradaban Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya Garut.

Perhatian yang dimaksud merupakan kebalikan dari sifat yang umum. Perhatian itu bermakna, jika orang yang dimaksud adalah menghindari rasa riya, pamer dan keinginan diperhatikan atau dipuji atas perbuatan baik.

Mengutip About Islam, Jumat (28/8), orang yang tidak disadari itu adalah orang yang menarik dan yang paling dekat dengan Allah. Orang tersebut adalah orang pendiam yang melakukan kebaikan tanpa diketahui dan taat beribadah.

Lembah Yadul ‘Ulya Garut.

Pendiam yang dimaksud juga mencakup orang yang jarang disorot perhatiannya, tidak pamer ataupun menyombongkan diri.

Menurut Nabi Muhammad, orang-orang itu adalah lebih baik dari orang dengan sifat lainnya. Bahkan mereka mendapat posisi khusus di sisi Allah SWT. Rasulullah juga mengajarkan para sahabat melakukan kebiasaan baik itu.

Kampus Peradaban.

Sifat itu jelas sekali berbeda dengan orang yang memiliki sifat tak bermanfaat. Seperti, saat seseorang dzikir dan selalu mengingat Allah, namun dalam pertemuan dengan sesama selalu mengucapkan hal yang tidak bermanfaat dan berlaku jahil.

Dari hadist yang disebutkan di atas, dijelaskan jika seseorang itu memiliki kekayaan atau ketenaran, beragam jalan dan rasa penting akan diri mereka akan muncul.

Sehingga, mereka akan sulit menyadari lagi bagaimana cara terbaik menangani situasi dalam pertemuan. Hal itu berbeda dengan Rasulullah SAW dan para sahabat yang mencoba menghilangkan sifat tersebut.

Yadul ‘Ulya Garut.

Nabi Muhammad yang merupakan orang terkenal semasa hidup dan bahkan hingga sekarang, diketahui membiasakan diri dalam setiap pertemuan. Berbagai kisah menceritakan ketika ia memasuki sebuah pertemuan, dirinya akan memilih diam untuk waktu yang lama.

Sifat yang tidak mengutamakan ketenaran itu adalah hal yang diambilnya dan tidak memanfaatkan utusan Allah sebagai proyeksi setiap urusannya.

Hal serupa juga selalu ditekankan Utsman, salah seorang sahabat terkaya saat itu. Dirinya akan memposisikan diri sebagai orang yang ‘paling tidak penting’ dalam sebuah pertemuan dengan memilih diam.

******

Republika.co.id/Fotoberitaakhirpekanini/Fotografer : Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here