Alfred Wallace dan Kita

by

Dian R. Basuki, Peminat Masalah Sains

Garut News ( Ahad, 24/11 ).

Inilah, Burung Kasuari dari Manokwari Papua Barat. (Foto : John).
Inilah, Burung Kasuari dari Manokwari Papua Barat. (Foto : John).

Seabad yang lampau, di bulan November, Alfred Russel Wallace berpulang.

Namanya punya ikatan yang kuat dengan negeri ini, sekurang-kurangnya karena tiga alasan.

Pertama, Wallace melakukan penelitian alam selama bertahun-tahun di sebagian wilayah Nusantara.

Kedua, dari penelitian inilah Wallace memikirkan apa yang juga dipikirkan oleh Charles Darwin, yang kemudian melahirkan teori evolusi.

Ketiga, namanya terpatri hingga kini sebagai Garis Wallace–sebuah penghormatan atas keperintisannya dalam bidang zoogeografi.

Terilhami oleh kisah perjalanan Alexander von Humboldt, Charles Darwin, maupun William Henry Edwards ke rimba Amazon dan Galapagos, Wallace muda bertekad mengunjungi kawasan di Amerika Selatan itu.

Ini adalah wilayah impian para naturalis, dan, seperti dalam surat kepada sahabatnya, Henry Bates, Wallace bermaksud “mengumpulkan fakta-fakta untuk memecahkan asal-usul spesies”.

Bersama Bates, Wallace mendatangi wilayah itu berbekal pengalaman sebagai amateur entomologist.

Kendati dalam perjalanan pulang ke Inggris kapalnya terbakar di tengah lautan, yang melenyapkan sebagian besar catatan penelitiannya, Wallace mampu merampungkan enam tulisan akademis.

Salah satunya ialah On the Monkeys of the Amazon dan dua buah buku, Palm Trees of the Amazon and Their Uses dan Travels on the Amazon.

Karya-karya inilah yang membukakan pintu panggung intelektual Inggris bagi Wallace, dan namanya mulai dikenal oleh para naturalis masa itu.

Baginya, Amazon tak cukup.

Hindia Timur menjadi tujuan impian berikutnya.

Berangkat pada usia 31 tahun (1854), Wallace berada di Nusantara dalam waktu yang lama, hingga 1862.

Ia mengumpulkan lebih dari 125 ribu spesies hewan dan tanaman–sekitar 1.000 di antaranya merupakan spesies baru pada masa itu.

Catatan studinya diterbitkan sebagai The Malay Archipelago (1869)–dapat dikatakan ini merupakan catatan akademis yang sangat populer pada abad ke-19.

The Malay Archipelago dicetak berulang kali hingga menjelang akhir abad ke-20, dan kini orang bisa mengaksesnya di Proyek Gutenberg.

Wallace berperan sangat penting dalam mengabarkan kepada dunia betapa kaya kawasan Hindia Timur ini sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Naturalis yang lebih senior, seperti Darwin dan Charles Lyell, mulai merujuknya-pengakuan yang memperkuat posisinya di panggung intelektual Eropa.

Beragam spesies itu membuat Wallace memikirkan ulang pemikiran sebelumnya.

Dari kawasan Ternate, sebagai junior, Wallace mengirim surat dan esai mengenai evolusi alam kepada Darwin di London (1858).

Surat-surat dari Ternate ini membikin Darwin terhenyak dan menyadari keserupaan ide Wallace dengan gagasannya sendiri.

Darwin bergegas menerbitkan buku pentingnya, On the Origin of Species.

Meski sempat menulis joint-paper bersama Darwin tentang evolusi, nama Wallace lama tak disebut.

Namun momen historis ini mulai diungkap.

Sejarawan sains maupun para natural saintis mulai mengakui kontribusi penting Wallace terhadap perumusan gagasan evolusi dan seleksi alam.

Penghargaan terhadap ilmuwan yang rendah hati itu kini tersemat dalam atribusi yang lebih fair dan kian kerap dipakai, teori evolusi Darwin-Wallace.

Sebutan “evolusionis yang terlupakan” mulai surut.

Kontribusi Wallace sesungguhnya lebih dari itu.

Bertahun-tahun hidup di Hindia Timur membuatnya memikirkan keanehan lain yang mengusik: mengapa hewan-hewan di wilayah ini seperti terpilah-pilah secara geografis.

Menyusul terbitnya publikasi baru mengenai sistem klasifikasi, Wallace pun kian yakin bahwa hewan-hewan terdistribusi secara geografis.

Observasinya mengenai perbedaan zoologis pada selat yang sempit di wilayah Timur ini mendorongnya untuk mengajukan gagasan batas-batas zoogeografi.

Dua jilid buku The Geographical Distribution of Animals terbit pada 1876.

Boleh dikata, ini merupakan teks definitif mengenai zoogeografi yang tetap digunakan bahkan hingga seabad kemudian.

Pemikiran penting Wallace dalam buku ini dilanjutkan melalui karya berikutnya, Island Life (1880), yang mengukuhkan dirinya sebagai perintis zoogeografi.

Namanya diabadikan pada garis maya di Indonesia Timur, yang disebut Garis Wallace.

Di antara dua karya itu, Wallace menerbitkan Tropical Nature and Other Essays (1878).

Menyadari betapa kayanya Hindia Timur, ia memperingatkan bahaya penggundulan hutan dan erosi tanah di wilayah ini.

Dengan mengambil contoh pengalaman penanaman kopi di Sri Lanka dan Hindia, Wallace memperingatkan bahaya pembukaan lahan secara berlebihan di kawasan tropis, jauh sebelum orang-orang menyadari isu-isu lingkungan.

Ia rupanya sudah mencium aroma ancaman terhadap lingkungan sejak ia memperkenalkan kawasan itu kepada dunia luar.

Sebagai orang yang pernah putus sekolah dan berasal dari keluarga yang tidak menonjol secara sosial, sungguh hebat bahwa Wallace mampu meraih posisi intelektual yang terdepan pada masanya.

Wallace adalah orang besar yang tersembunyi oleh bayang-bayang Darwin.

Dan, seratus tahun setelah kematiannya, kita di sini mungkin juga tidak pernah mengingat betapa Wallace telah sanggup menyingkapkan rahasia alam yang digali dari bumi tempat kita hidup.

**** Sumber : Kolom/artikel Tempo.co