Alat-alat Canggih Pencari Malaysia Airlines

Washington, Garut News ( Kamis, 27/03 – 2014 ).

Model kapal selam "Autonomous Underwater Vehicle" (AUV) `Abyss` di Helmholtz Centre Ocean di Kiel, Jerman, (24/3). Kapal selam tak berawak mampu menyelam sedalam 6.000 meter dan bertahan selama 22 jam ini akan diperbantukan mencari pesawat Malaysia Airlines MH370 di Samudra Hindia memiliki kedalaman sekitar 3.840 meter. REUTERS/Fabian Bimmer
Model kapal selam “Autonomous Underwater Vehicle” (AUV) `Abyss` di Helmholtz Centre Ocean di Kiel, Jerman, (24/3). Kapal selam tak berawak mampu menyelam sedalam 6.000 meter dan bertahan selama 22 jam ini akan diperbantukan mencari pesawat Malaysia Airlines MH370 di Samudra Hindia memiliki kedalaman sekitar 3.840 meter. REUTERS/Fabian Bimmer

Teknologi berperan penting mencari puing-puing Malaysia Airlines MH370 hilang sejak 8 Maret lalu.

Kapal dan pesawat diterjunkan dilengkapi radar, sonar, dan citra satelit.

Namun, masing-masing perangkat tersebut memiliki keterbatasan.

“Satelit pada dasarnya seperti kamera dalam ruang (dan) citra satelit tidak real-time secara umum,” kata ahli sonar Geg Charvat kepada CBS This Morning: Saturday.

Meskipun sonar pernah sangat membantu penemuan tempat bagian utama pesawat Air France 447 jatuh di Samudra Atltantik pada 2009 silam, Charvat katakan, penggunaan sonar memiliki rentang terbatas.

Sedangkan radar, katanya, bisa menunjukkan citra real time.

“(Dengan radar) dari pesawat kita bisa memindai citra real-time,” tutur Charvat.

Namun, cuaca bisa menjadi penghambat besar.

Apalagi Samudra Hindia terkenal anginnya kencang, gelombang besar, dan badai hebat.

Saat cuaca cerah, radar bisa mendeteksi kedua potongan puing MH370.

Sebaliknya, jika cuaca memburuk, puing akan sulit, bahkan tak bisa dideteksi.

Setelah puing-puing pesawat Malaysia Airlines diketahui, dan area pencarian lebih akurat didefinisikan, tantangan berikutnya menemukan reruntuhan di bawah air.

Tim berpacu waktu menemukan kotak hitam menggunakan detektor.

Lantaran, baterai kotak hitam hanya bertahan berkisar 30-40 hari.

Sebuah pendetektor kotak hitam, Towed Pinger Locator, dikirimkan Amerika Serikat membantu pencarian MH370.

Alat ini bisa melacak kotak hitam, bahkan jika si kotak sesungguhnya berwarna oranye tersebut berada di kedalaman 20 ribu kaki, atawa 6.000 meter.

Namun, jika detektor tak juga mengendus kotak hitam,  maka sebagai gantinya peneliti bisa menggunakan kendaraan bawah air otomatis (AUV) berbentuk kapal selam memetakan dasar laut.

Namun, menjalankan pola pencarian melalui laut bukanlah hal mudah.

Ini menjadi proses yang sangat melelahkan.

“Anggap saja seperti memotong rumput, dan kembali, dan kembali, dan mengumpulkan data selama 20 jam,” kata Paul Nelson, seorang manajer proyek di Phoenix International, mengatakan kepada CBS This Morning.

Jika pemetaan bawah laut berhasil mengungkap keberadaan MH370, tim mengoperasikan kendaraan bisa dioperasikan dari jarak jauh (ROV) mengangkut kotak hitam dan bagian pesawat lainnya.

“Penggunaan ROV satu-satunya cara mengangkat benda dari dasar laut, terutama jika kedalaman melebihi batas menyelam aman bagi orang,” ujar Robert Paddock, teknisi dan pilot ROV di Great Lakes WATER Institute, kepada CBS News dalam sebuah e-mail.

Namun, sampai tahap penggunaan ROV, dibutuhkan waktu berminggu-minggu mencari dan memetakan lokasi jatuhnya pesawat MH370.

Dr David Gallo dari Woods Hole Oceanographic Institution, terlibat pencarian Air France 447, mengatakan masih perlu memersempit area pencarian sebelum peneliti mulai menyisir dasar laut.

ANINGTIAS JATMIKA | CBS NEWS/Tempo.co

Related posts

Leave a Comment