Al-Ludd, 1948-2014-

by

Garut News ( Ahad, 03/08 – 2014 ).

Ilustrasi. Lembar Sejarah yang Tandus dan Gersang. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Lembar Sejarah yang Tandus dan Gersang. (Foto : John Doddy Hidayat).

Sejarah yang brutal, sengsara, dan tak berujung itu mungkin dimulai di sebuah kota kecil Palestina, 15 kilometer di tenggara Tel Aviv.

Orang Arab menyebutnya al-Ludd, orang Yahudi menyebutnya Lod.

Sebelum zaman diguncang Perang Dunia II, di kota itu penduduk Arab hidup tenang berdampingan dengan para pemukim Yahudi yang datang sejak 1903.

Di lembah al-Ludd, seorang Yahudi pendatang mendirikan sebuah pabrik sabun dari minyak zaitun; yang lain sebuah rumah yatim piatu korban pengusiran paksa di Eropa Timur.

Tak ada yang benar-benar berhasil.

Tapi kemudian, pada 1927, datang Siegfried Lehmann.

Mantan dokter tentara Jerman itu lahir di Berlin pada 1892 dari keluarga Yahudi yang kaya dan dermawan.

Pada 1917, ia mendirikan rumah penampungan bagi yatim piatu Yahudi di Kota Kovnia, Lituania.

Tapi keadaan memburuk; di sini pun orang Yahudi dimusuhi.

Ia memutuskan pindah ke Palestina.

Seperti para pendahulunya, ia memilih lembah di atas al-Ludd.

Di sana ia dirikan sebuah “desa-pemuda”, dengan nama Ben Shemen.

Di situ para anak asuh dilatih beternak, berkebun, berladang anggur, sambil bersekolah.

Menjelang 1946, ada 500 murid dari umur 12 sampai dengan 18 yang tercatat di Ben Shemen: sebuah zona kecil Zionis yang damai yang tak disangka kelak akan bertaut dengan perang, pembantaian, dan pembuangan.

Pada mulanya, hubungan Lehmann dengan penduduk Arab di al-Ludd akrab.

Ketika gempa bumi menghancurkan sebagian kota dan menewaskan sejumlah penduduk, dokter Yahudi-Jerman itu datang merawat korban yang luka-luka.

Kliniknya terbuka bagi orang-orang Palestina.

Para pemuda Zionis membangun sebuah air mancur tempat penduduk kota bisa minum ketika hari terik.

Tiap akhir pekan, murid-murid Ben Shemen berkunjung ke dusun-dusun Arab di sekitar itu.

Di tiap festival desa-pemuda, pemain musik dan penari masyarakat Arab diundang serta.

Tapi suasana seperti gambar di kartu pos yang cantik itu tak bertahan.

Di tahun-tahun itu dunia digedor pelbagai hal.

Timur Tengah berubah jadi sebuah tragedi dengan peta baru.

Sehabis Perang Dunia II, negara-negara pemenang mengesahkan sebuah tempat bagi sisa-sisa orang Yahudi yang hendak dihabisi Hitler.

Inggris melepaskan posisinya sebagai pengampu wilayah Palestina, dan bagi kaum Zionis yang berjuang buat kemerdekaan bangsa Yahudi, itulah negeri yang dijanjikan Tuhan dan sejarah.

Pada 14 Mei 1948, David Ben-Gurion memaklumkan berdirinya Negara Israel di wilayah it wilayah yang mereka anggap diwariskan buat mereka tapi yang berabad-abad lamanya dihuni orang Arab.

Tak ayal, tentara Arab dari sekitar pun menyerbu.

Mereka gagal.

Bahkan sebaliknya yang terjadi: Israel memperluas kekuasaannya.

Di awal Juli, Operasi Larlar diluncurkan untuk merebut beberapa wilayah di Palestina, termasuk al-Ludd.

Ari Shavit, yang baru-baru ini menerbitkan bukunya, My Promised Land: The Triumph and Tragedy of Israel, pernah mengisahkan apa yang terjadi di al-Ludd dalam majalah The New Yorker, 21 Oktober 2013.

Ia menulis sebuah catatan sejarah, tapi juga perenungan kembali dengan beberapa pertanyaan besar yang tak terjawab.

Pada 11 Juli 1948, tentara Israel, dengan dibantu batalion yang dipimpin Moshe Dayan lengkap dengan sebuah kendaraan berlapis baja yang dipasangi kanon menyerbu al-Ludd, disertai para pemuda yang telah dilatih perang dari Ben Shemen.

Kota itu dicoba dipertahankan para milisi Arab.

Tapi dalam 47 menit, belasan orang Arab tewas, termasuk perempuan, orang tua, dan anak-anak.

Di pihak Israel, sembilan orang mati.

Malam itu juga posisi-posisi kunci di pusat kota direbut.

Penduduk Palestina, dalam jumlah ribuan, dipaksa masuk ke masjid utama.

Ketika beberapa orang Arab mencoba melawan dengan menembaki tentara Israel dari dekat sebuah masjid kecil, balasan datang tak tanggung-tanggung.

Granat dilontarkan ke rumah-rumah.

Masjid kecil itu ditembak dengan peluru antitank.

“Dalam 30 menit, dua ratus lima puluh orang Palestina tewas,” tulis Shavit.

“Zionisme telah melakukan pembantaian di al-Ludd.”

Dan itu bukan akhir cerita.

Setelah kota diduduki, Yitzhak Rabin, perwira operasi, meneruskan keputusan Ben-Gurion dalam sebuah instruksi tertulis: “Penduduk al-Ludd harus diusir secepatnya, tanpa memandang umur.”

Menjelang malam, sekitar 35 ribu orang Arab Palestina berduyun-duyun meninggalkan kota kelahiran mereka dalam barisan yang amat panjang menuju timur.

Tak pernah bisa kembali.

Ari Shavit menuliskan adegan itu dengan nada sedih.

Ia tahu kekejaman telah terjadi terhadap orang Palestina yang tak berdosa dan tak berdaya itu orang-orang usiran abad ke-20, seperti bangsa Yahudi, orang-orang usiran abad ke-6 sebelum Masehi.

Tapi ia tak mengutuk.

Wartawan harian Haaretz itu tak sanggup mengutuk para pemimpin Israel yang memerintahkan kesewenang-wenangan di al-Ludd.

“Tanpa mereka,” tulisnya, “aku tak akan pernah dilahirkan. Mereka melakukan kerja yang keji itu yang memungkinkan bangsaku, rakyatku, anak-anakku, dan diriku hidup.”

Shavit lahir di Rehovot, 20 kilometer dari Tel Aviv, sembilan tahun setelah Negara Israel berdiri.

Ada yang jujur dalam pernyataannya: ia mengaku tak berdaya di tengah pilihan-pilihan moral yang sulit.

Ia ingat Mula Cohen, komandan tentara yang mengawasi pengusiran orang-orang Palestina di senja itu.

Shavit mewawancarai orang ini seperempat abad setelah kejadian di al-Ludd.

Cohen bercerita bagaimana ia menyaksikan orang-orang Palestina yang diusir itu, tua-muda, berjalan makin lama makin jauh, memanggul barang, sampai tak tahan lagi dan membuang apa yang ingin mereka simpan dalam pengasingan.

Cohen seorang prajurit yang berasal dari Ben Shemen; ia telah memperoleh didikan dokter Lehmann yang mengenal baik orang-orang Palestina itu.

Meskipun tak merasa bersalah, ia merasa ada yang menekan di hatinya.

Ia saksikan pembunuhan, penjarahan, rasa marah, dendam.

Ia saksikan rombongan orang Arab yang dihalau.

Di hadapan semua itu ia merasa “pendidikan humanis” yang didapatkannya di Ben Shemen runtuh.

Ia merasa ada sesuatu yang luar biasa besar yang tak dapat dihadapinya, sesuatu yang bahkan tak dapat dimengerti.

Pada akhirnya, orang memang bisa bertopang pada sejenis pragmatisme: apa saja yang bisa menghasilkan yang baik, itulah yang harus dinilai.

“Perang memang tak manusiawi,” kata Shmarya Gutman, dulu perwira yang ditugasi jadi gubernur militer Israel setelah al-Ludd diduduki.

“Tapi perang bisa memecahkan soal-soal yang tak terpecahkan di masa damai.”

Shavit tak mengatakan demikian dan mungkin sebab itu ia tak bisa lepas dari dilema yang berkecamuk dalam dirinya.

Ia tak bisa “mencuci tangan”-nya dari Zionisme.

Ia tak bisa mengingkari kebutuhan orang Yahudi untuk memiliki tanah air mereka sendiri.

Akhirnya seperti Cohen, ia merasa berbenturan dengan sesuatu yang demikian besar yang tak dapat ia hadapi.

Tapi dengan demikian ia mengelakkan pertanyaan-pertanyaan lain.

Ia memang berbeda dari banyak orang Israel yang selamanya menyangkal bahwa riwayat Israel bukan cuma cerita peradaban, tapi juga barbarisme.

Bagaimanapun, ada yang masih kurang.

Shavit tak bertanya lebih jauh: haruskah al-Ludd bernasib demikian?

Tak adakah jalan lain?

Ia menyimpulkan penaklukan al-Ludd dan pengusiran penduduk kota itu “bukan sebuah kebetulan”.

“Kejadian-kejadian itu merupakan satu fase yang menentukan dalam revolusi Zionis,” tulisnya.

Di al-Ludd pasukan Yahudi praktis meletakkan batu awal Negara Israel sebab kota itu strategis, sebab dari sana bandara internasional yang menghubungkan republik baru itu dengan bantuan dari dunia luar bisa diganggu.

Tapi haruskah sebuah negara berdiri dengan menghalau 35 ribu orang yang tak dikehendaki dan mereka tak dikehendaki karena mereka dianggap ancaman, dan mereka dianggap ancaman hanya karena mereka bukan sekaum, berbeda label dan identifikasi?

Perang memecahkan soal-soal yang tak terpecahkan dalam masa damai, kata Gutman.

Dan kekejaman di al-Ludd itu, kata Shavit, memungkinkan sebuah bangsa memperoleh tempat berlindung di mana generasi-generasi tumbuh, juga anak-anak muda yang menampik melanjutkan kekejaman.

Tapi pragmatisme demi-sebuah-masyarakat-baru seperti ini bisa jadi dalih siapa sajadari Pol Pot sampai dengan para jenderal yang menghabisi ratusan nyawa di Bosnia.

Siapkah Israel, dan Amerika Serikat, melihat yang terjadi di Palestina dengan ukuran yang sama?

Sampai hari ini, Israel dengan susah payah mencoba menjawab, atau menampik, pertanyaan seperti itu.

Sampai hari ini, sejarah yang brutal itu seperti tak berujung.

Mungkin itu sebabnya Shavit menutup tulisannya dengan satu paragraf panjang yang muram:

Dari titik tertinggi desa-pemuda Ben Shemen, aku memandang ke lembah al-Ludd. Kulihat kota dan menara tinggi masjid besar. Kulihat rerimbun pohon-pohon zaitun yang punah, dusun Lehmann yang hilang. Dan aku renungkan tragedi yang dulu terjadi di sini. Empat puluh lima tahun setelah orang-orang Yahudi diusir paksa di Eropa, Zionisme tiba di lembah al-Ludd dan memulai malapetaka manusia. Empat puluh lima tahun setelah masuk ke lembah al-Ludd atas nama mereka yang kehilangan rumah, Zionisme mengusir barisan orang yang kehilangan rumah. Di bawah panas yang berat, menembus kabut debu, melintasi padang-padang kering yang kecokelatan, kulihat mereka bergerak ke timur. Begitu banyak tahun telah berlalu, tapi barisan itu tetap bergerak ke timur.

Gerak itu tak juga berhenti, mungkin tak akan berhenti.

Sampai hari ini, seperti yang bisa disaksikan di Gaza, orang Palestina terus-menerus dibantai, terus-menerus melawan, terus-menerus diabaikan dunia.

Sejarah memang tak pernah menjanjikan penutup yang bahagia bagi semua orang; juga tak ada happy ending yang jadi akhir selama-lamanya.

Tapi sejarah juga terdiri atas tindakan yang tak henti-hentinya membangkang, menuntut: al-Ludd, kata lain dari kesewenang-wenangan, tak boleh terjadi lagi.

Goenawan Mohamad/ Tempo.co