Aku Bangga Jadi Wong Ndeso

0
23 views
Salamun. (dok. Pribadi Salamun).

Rabu , 12 Juli 2017, 00:33 WIB

Red: Agus Yulianto

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Salamun *)

Salamun. (dok. Pribadi Salamun).
Salamun. (dok. Pribadi Salamun).

Dua indikator keberkahan rizki apakah yang berbentuk ilmu, kedudukan, kesehatan dan finansial ialah pertama ketika rizki itu bisa mendekatkan kita kepada Sang Khaliq Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa, kedua ialah memberikan manfaat baik untuk diri sendiri dan terutama bagi orang lain.

Karenanya, apapun yang diberikan Allah SWT kepada kita selalu ada alasan dan cara untuk mensyukuri nikmat Allah SWT tersebut apa pun itu.

Menjadi petani di desa, misalnya, merupakan karunia yang luar biasa. Jika orang kota mau berkeringat harus keluar biaya, beli alat kesehatan, misalnya, atau ketempat kebugaran segala macem, maka orang desa yang punya garapan berjarak tiga bahkan sampai lima kilometer.

Lantas, mereka berjalan kaki untuk menjangkaunya sudah mendapat benefit kesehatan, badan berkeringat makan dengan sambal, ikan asin dan lalapan saja sudah berasa nikmat sekali. Itu di antara karunia Allah SWT yang sesungguhnya harus disyukuri.

Agama mengajarkan dalam perkara ahirat kita harus melihat ke atas supaya kita tidak berpuas diri dengan amal ibadah kita. Sedangkan untuk urusan dunia kita harus menengok kebawah agar kita pandai bersyukur. Bahkan, tinggal di gubuk sekalipun juga harus disyukuri.

Banyak saudara kita di kota, misalnya, harus dikejar-kejar aparat ketertiban pemerintah karena menggunakan kolong jembatan sebagai hunian. Mirisnya lagi ketika untuk itu saja mereka harus membayar upeti kepada oknum tertentu misalnya, suatu ironi yang memprihatinkan.

Dalam hidup ini tidak terlalu penting menjadi apa atau mengukur kesuksesan seseorang dari jabatan dan materi, yang lebih penting ialah bisa memberi manfaat atau tidak. Pandangan materialisme inilah kemudian yang membuat banyak orang tersesat, berburu kesuksesan dengan segala cara untuk mengumpulkan harta benda yang terkadang kemudian menempuh segala upaya untuk mendapatkannya.

Yang kemudian memprihatinkan ialah ketika satu terhadap yang lain juga mengukur dan memberi penghormatan berdasarkan kepemilikan harta dan jabatan yang hanya sementara itu. Tidak sedikit yang membatasi pergaulannya kepada kalangan tertentu yang mereka anggap sederajat.

Baginda Rasulullah SAW memberikan pengajaran terindah tentang bagaimana berinteraksi dengan orang-orang miskin dan ndeso. Beliau menempatkan Bilal bin Rabah yang berlatar belakang budak kulit hitam sebagai sahabat karibnya, Abu Dzar al-Ghifari adalah Sahabat Rasulullah yang teguh dalam iman, banyak meriwayatkan hadits ialah dapat disebut sebagai yang paling miskin di dunia.

Menurut riwayat saking miskinnya sampai-sampai asetnya adalah hanya bejana untuk berwudhu dan kain penutup aurat untuk shalat. Rasulullah SAW Yang Agung sangat menghormati orang-orang miskin dan memerintahkan untuk menghormati dan memuliakan orang-orang yang dimiskinkan oleh sistem (mustadhafiin).

Luka karena senjata bisa diobati tapi luka di hati akibat perkataan seseorang kadang terbawa sampai mati, karenanya Rasulullah SAW berpesan “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata yang baik atau diam” (al-Hadits). Dengan demikian ucapan menjadi indikator keimanan seseorang.

Hari ini dunia sudah seperti kampung sempit sehingga ucapan kita di media sosial dapat didengar oleh siapa pun dan kapan pun di seluruh belahan jagad raya ini. Yang kemudian menjadi krusial ialah ketika ucapan seseorang mengandung ujaran kebencian (hate speech) yang sengaja dilontarkan untuk ‘menyerang’ orang lain apakah dalam konteks individual maupun komunal.

Apa yang diucapkan oleh Kaesang dalam Video blog pribadinya misalnya, menjadi sesuatu yang sangat menarik dan menyita perhatian penghuni jagad medsos. Dengan berbagai tanggapan, baik menggunakan bahasa yang halus sampai kasar hampir menghiasi laman medsos setiap saat.

“Mengadu-adu domba dan mengkafir-kafirkan, nggak mau menyalatkan padahal sesama Muslim karena perbedaan dalam memilih pemimpin, apaan coba, dasar ndeso”, demikian salah satu kalimat Kaesang yang dianggap mengandung kebencian.

Pernyataan ini kemudian dilaporkan oleh Muhammad Hidayat ke Polres Metro Bekasi dengan nomor LP/1049/K/VII/2017/SPKT Restro Bekasi Kota, 2 Juli 2017. (Republika Online, Kamis 6 Juli 2017).

Untuk memberikan edukasi dalam penegakan hukum akan lebih terhormat jika Kaesang menghadapi secara gentleman sekaligus belajar mempertanggungjawabkan atas apa yang dilakukan (diucapkan). Aparat kepolisian juga harus secara profesional menangani kasus ini sampai tuntas, jika tiba-tiba menghentikan proses penyelidikan dan penyidikan maka akan mempertaruhkan wibawa Lembaga Kepolisian.

Setidaknya agar para pejabat dan petinggi bangsa terutama sekali kerabatnya supaya lebih berhati-hati dalam berucap dan bertindak.

Dalam bahasa jawa penambahan huruf ‘n’ didepan kata benda dimaknai sebagai ‘melakukan suatu tindakan’ yang terkait dengan kata benda tersebut. Misalnya: ndoser berarti membuldoser, ndekor berarti membuat dekorasi, ndalang berarti melakukan pekerjaan sebagai dalang, ndegan berarti memakan dugan (kelapa muda), nah jika ndeso berarti berpikiran dan berprilaku ala orang deso, pertanyaannya ialah apa sesungguhnya aktivitas (prilaku) orang desa yang kemudian secara umum dipandang sebagai sesuatu yang kurang baik sehingga dijadikan kosa kata untuk moyoki (mengumpat)?

Apapun kata orang, kami akan tetap bangga sebagai wong ndeso karena kehidupan desa memberikan pelajaran bermasyarakat yang baik, kami terbiasa hidup bergotong royong, saling peduli kepada sesama (tetangga), saling menghargai, saling berbagi meski dengan semangkuk sayur atau makanan lainnya.

Mayoritas penduduk Bangsa Indonesia ada di desa, sumber kebutuhan bahan pokok ada di desa, karenanya akan lebih arif dan bijaksana jika siapapun anak Bangsa ini tidak menggunakan istilah ndeso dengan sembarangan untuk ungkapan ‘menganggap rendah’ pemikiran maupun tindakan orang lain baik dalam konteks individual maupun komunal. Karena semakin ndeso sejatinya orang akan semakin arif dan tulus menghadapi hidup dan kehidupan.

Saya kemudian ingat cerita seorang sahabat yang ikut comment di medsos dengan kata dan**k yang sebenarnya untuk menunjukkan keakraban kepada budayawan Sujiwo Tedjo, Beliau balas ‘sampeyan tidak etis menyebut itu karena tidak satu daerah dengan saya’, nah?. Artinya untuk mengungkapkan sesuatu juga ada waktu dan tempat yang tepat, tidak boleh asal apalagi bisa menyinggung bahkan menyakiti orang lain. Wallahu a’lam bish-shawab.

*) Mahasiswa Program Doktor UIN Raden Intan Lampung, Dosen STIT Pringsewu dan UML, tinggal di Gisting Permai sebuah desa di lereng gunung Tanggamus.

**********

Republika.co.id