Aksi Manusia Pilihan

0
71 views

E.H. Kartanegara, Wartawan

Garut News ( Kamis, 15/01 – 2015 ).

Ilustrasi. Fenomena Seekor Ular Terjerat Jebakan Lem Perekat Tikus. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Inilah Fenomena Seekor Ular Terjerat Jebakan Lem Perekat Tikus. (Foto : John Doddy Hidayat).

Ada sebaris doa yang aneh dari khalifah Umar bin Khattab yang dikutip Syu’bah Asa dalam Tafsir Ayat-ayat Sosial-Politik (2000).

Bila diterjemahkan secara bebas, bunyinya: “Allah, masukkan aku ke dalam golongan yang sedikit.”

Jika doa itu dipanjatkan dalam konteks demokrasi sejauh yang dipahami banyak orang sekarang, jelas, itu jenis doa yang sangat aneh, naif-kalau tidak, malah jadi bahan tertawaan.

Golongan yang sedikit (kelompok minoritas) dengan mudah pasti kalah oleh dominasi mayoritas. Tapi justru di situlah rahasia keanehan Sayidina Umar.

Benar, dia seorang pemimpin-dan tentu, banyak pula pengikutnya. Tapi, dalam kaitannya dengan doa di atas, Umar memohon kepada Tuhan-meminjam bahasa sosiologi-sebagai individu dalam kelompok kecil manusia (golongan yang sedikit).

Sebab, Syu’bah Asa menuliskan, memang begitulah janji Tuhan yang memberi kemenangan kepada golongan yang sedikit (QS 2 : 249).

Siapa mereka? Merujuk pada ayat itu, “merekalah orang-orang yang sabar”. Dalam tafsir sosial-politik Syu’bah Asa, mereka adalah orang-orang yang tahan uji, tabah, disiplin, dan bermutu.

Manusia pilihan, jenis manusia yang memang sejak awal “menyediakan diri” terhadap berbagai kemungkinan, kesulitan, ujian, dan tempaan yang bisa muncul tak terduga.

Logika ayat tersebut menyatakan, hanya manusia pilihan yang-tentu, jumlahnya sedikit-bisa mengalahkan golongan yang banyak (mayoritas), tapi-seperti bunyi salah satu hadis-“bagai buih di lautan, gampang lenyap”.

Bukankah dalam berbagai kasus memang banyak terjadi golongan mayoritas dikuasai manusia pilihan yang sedikit jumlahnya?

Manusia gerombolan, manusia beling, yang tak sebanding dengan manusia mutiara yang kilauannya bisa menggetarkan banyak orang?

Sekarang, setelah sekian puluh tahun kita mengalami masa kelam Orde Baru yang keji menghabisi manusia-manusia pilihan (kita tentu tak akan pernah lupa kasus Munir yang dilenyapkan), dalam bentuk, tindakan, dan derajat yang berbeda, kita mulai dapat menyaksikan aksi mereka yang tidak hanya menggetarkan, tapi juga menggentarkan banyak orang.

Dari perspektif ayat di atas, mereka layaknya bala tentara Thalut yang kecil jumlahnya, menghadapi kekuatan raksasa pasukan Jalut (Goliath).

Dalam sambungan ayat tersebut dituturkan, tentara Thalut menang-atas izin Tuhan. Bagi kita, masih terlalu dini mempersoalkan apakah aksi-aksi yang dilakukan manusia-manusia pilihan itu akan meraih kemenangan.

Kalah atau menang adalah akibat suatu tindakan yang diawali dengan niat.

Dari berbagai pemberitaan, sekarang kita dapat menyaksikan berbagai aksi manusia-manusia pilihan menggebrak “sarang penyamun”.

Dari para pemberani di KPK, para menteri, gubernur, sampai wali kota menghajar pos-pos birokrasi yang sejak dulu memang terkenal sebagai ladang subur korupsi.

Hanya pada era Reformasi dan kebebasan pers sekarang inilah kita bisa ikut menyaksikan betapa berat perang melawan banyak mafia, melibas ratusan pejabat korup, menteri yang berani menenggelamkan kapal-kapal pencuri ikan, dan membasmi berbagai praktek kejahatan lain yang luar biasa besar jumlahnya.

Dampak politik aksi-aksi itu bukan hanya menerbitkan harapan dan optimisme, tapi juga menguak kebenaran di republik ini: mana Thalut, mana Jalut.

******

Kolom/Artikel Tempo.co