Aksesibilitas Garut Kurang Memadai Penyebab 58 Desa Tertinggal

0
26 views
Sangat Ironis, Sumber Daya Alam Melimpah. Namun Desanya Berstatus Tertinggal.
Ilustrasi. Belum Bisa Menjangkau ‘Asa’.

“Penghasil padi justeru mendominasi jumlah desa tertinggal”

Garut News ( Ahad, 08/03 – 2020 ).

Wakil Bupati dr H. Helmi Budiman sejak Oktober 2019 silam mengingatkan, faktor utama penyebab 58 desa di kabupatennya masih tertinggal lantaran kurang memadainya aksesibilitas. Terutama di wilayah selatan.

Karena itu, pihaknya senantiasa berupaya membuka aksesibilitas desa yang masih sulit dijangkau.

Program pembangunan jalan lintas antardesa antarkecamatan direalisasikan pada 2019 berlanjut hingga 2020. Perbaikan sarana prasarana pendidikan terutama sekolah dasar, juga layanan puskesmas pun terus dilakukan, ungkap dia.

“Faktor utamanya akses, maka dengan dibukanya infrastruktur. Nanti sumber daya alam sangat melimpah tersebut bisa bernilai lebih. Dan, untuk mengentaskan desa tertinggal pun dibutuhkan sumber daya manusia yang unggul,” katanya.

Meski masih belum diketahui, seberapa besar dampak dilakukan Pemkab setempat terhadap pengentasan desa-desa tertinggal, pada 2020 ini.

Pemerintah Pusat pun dikabarkan berusaha memercepat terbitnya Perpres mengenai status daerah tertinggal secara nasional sekarang. Akankah hasilnya bagi Garut se-optimistis Helmi?

Padahal Kabupaten Garut dikenal sebagai salah satu daerah lumbung padi di Jawa Barat, bahkan pemasok cadangan beras nasional dengan produksi padi selalu surplus setiap tahunnya.

Namun ironisnya, hingga kini banyak desa yang core bussines unggulannya sebagai penghasil padi justeru mendominasi jumlah desa tertinggal di kabupaten ini.

Berdasar Keputusan Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI) Nomor 201/2019 tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Nomor 30/2016 tentang Status Kemajuan dan Kemandirian Desa.

Menunjukan dari 421 desa di kabupaten itu, ada 58 desa di antaranya berstatus tertinggal, terdiri 44 desa berkeunggulan padi, disusul desa unggulan palawija, lima desa unggulan hortikultura.

Serta masing-masing satu desa unggulan penghasil cengkih, unggulan peternakan, dan berkeunggulan budidaya tanaman kehutanan.

“Sedangkan 58 desa tertinggal tersebut, tersebar pada 22 dari 42 kecamatan di kabupaten Garut”

Kemudian 294 desa lainnya berstatus desa berkembang, 68 desa terbilang maju, dan hanya satu desa berstatus mandiri. Yakni Desa Banjarsari di wilayah Kecamatan Bayongbong.

Malahan lebih memprihatinkannya lagi, beberapa desa tertinggal itu pernah mendapatkan bantuan Program Desa Mandiri/Peradaban, maupun bantuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat-Mandiri Perdesaan.

Dengan besaran pasokan dananya cukup besar. Antara lain Desa Pangrumasan Kecamatan Peundeuy, Tanjungjaya Banjarwangi, Desa Sirnagalih Bayongbong, dan Desa Pangeureunan Balubur Limbangan.

Ada pula desa tertinggal di Kawasan Strategis Kabupaten Perkotaan Garut. Di antaranya Desa Sukatani Kecamatan Cilawu, dan Desa Cibunar Kecamatan Tarogong Kidul.

********

Abisyamil, JDH/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here