Akses terhadap Buku

– Agus M. Irkham, Pegiat Literasi

Jakarta, Garut News ( Sabtu, 04/10 – 2014 ).

Ilustrasi. (John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (John Doddy Hidayat).

Festival Taman Bacaan Masyarakat di Kendari dihelat pada 17–21 September 2014. Perayaan literasi tersebut digagas bersamaan dengan puncak peringatan Hari Aksara Internasional ke-49.

Festival yang dibuka oleh Dr Wartanto, Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, itu dihadiri oleh 300 pengelola taman bacaan masyarakat (TBM) se-Indonesia.

Untuk menyemarakkan festival, diselenggarakan pula berbagai acara pendamping. Acara itu dimulai dari bedah buku, pelatihan menulis, peluncuran buku, jumpa penulis, hingga diskusi tentang masih terjadinya ketidakadilan akses masyarakat terhadap buku di wilayah Indonesia timur, seperti NTB, Maluku, Papua, dan Papua Barat.

Ketidakadilan akses buku tersebut tecermin dalam data jumlah perpustakaan, penerbit, dan TBM. Jumlah total perpustakaan di Indonesia ada 61.477.

Dari jumlah tersebut, mayoritas masih berada di Pulau Jawa, yakni 36.929 perpustakaan (60 persen), kemudian Kalimatan 3.031 perpustakaan (4,9 persen) dan Maluku-Papua hanya 246 perpustakaan (0,4 persen).

Dari jumlah total penerbit di Indonesia yang menjadi anggota Ikapi sebanyak 1.121 penerbit, Jawa menempati jumlah tertinggi dengan 1.004 penerbit (89,56 persen), Sulawesi dan Kalimantan masing-masing hanya 14 penerbit (1,24 persen). Bali, NTT, dan NTB 23 penerbit (2 persen).

Adapun Papua hanya memiliki 1 penerbit!

Sementara itu, jumlah TBM dari angka total 2.467 di wilayah Indonesia timur hanya ada 106 TBM, atau hanya 4 persen. Persentase terbesar (1.495 TBM) ada di Jawa.

Bagaimana benang ruwet persoalan ketidakadilan akses buku itu dapat diudar? Salah satu sebab terjadinya ketidakadilan akses buku di Indonesia timur adalah biaya pengiriman yang mahal.

Karena itu, tak mengherankan jika harga buku di Kupang, misalnya, bisa 30–40 persen di atas harga aslinya.

Bahkan, di Papua bisa 3–4 kali lipat dari harga semula.

Menyadari kondisi sulit tersebut, para pegiat literasi di tingkat lokal tergerak untuk mencari jalan keluar.

Salah satunya adalah komunitas blogger NTT yang bernama Flobamora Community (FC). Berdasarkan tuturan Dicky, salah satu anggota FC, kepada saya saat Festival TBM kemarin, mereka menggelindingkan pro-gram Buku bagi NTT.

Program ini menjadi salah satu wujud nyata Gerakan NTT Cinta Baca.

Ada dua kegiatan penting dalam program tersebut, pertama para anggota FC yang menetap di NTT mengumpulkan donasi (uang) dan titik-titik lokasi yang akan diberi buku.

Kedua, para anggota FC dan sukarelawan yang kebetulan adalah mahasiswa yang sedang berkuliah di Jawa berjejaring untuk mengumpulkan bantuan buku.

Buku yang terkumpul nantinya dikirim ke NTT dan biaya kirimnya dibayarkan lewat donasi yang berhasil dikumpulkan.

Melalui akun Twitter @bukubagiNTT, para sukarelawan yang sudah tersebar di Jakarta, Bandung, Yogya, Semarang, Bali, dan Surabaya menjalin komunikasi, mengajak seluruh masyarakat untuk ikut menyumbangkan buku.

Sampai September 2014, @bukubagiNTT sudah berhasil mengumpulkan ribuan eksemplar buku dan telah didistribusikan ke taman bacaan, perpustakaan sekolah, rumah baca, serta rumah belajar di Sumba, Rote Ndao, dan Flores Timur.

Langkah taktis yang dilakukan FC bisa menjadi sebuah jalan keluar alternatif untuk mengatasi ketidakadilan akses buku.

Dan seyogianya langkah ini didukung tidak saja oleh masyarakat secara individual, tapi juga industri perbukuan.

******

Kolom/Artikel : Tempo.co

Related posts

Leave a Comment