Akhlak versus Intoleransi

Husein Ja’far Al Hadar,
Pendiri Cultural Islamic Academy Jakarta

Garut News ( Jum’at, 06/06 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Kasus penyegelan, penutupan, hingga penyerangan rumah ibadah kerap kali dilakukan oknum umat Islam di Indonesia terhadap umat minoritas di negeri ini, seperti Kristen dan Ahmadiyah.

Yang terbaru terjadi di Sleman, Yogyakarta.

Kasus serupa di negara lain, dengan umat Islam sebagai korbannya dalam posisinya sebagai umat minoritas, juga kerap terjadi.

Seperti Geert Wilders (politikus Belanda), yang dalam KTT Konservatif Barat di Amerika Serikat (AS) pernah menyampaikan agar AS melarang pembangunan masjid di Negeri Abang Sam.

Atau sebagian politikus Partai Republik di AS yang pernah menentang rencana pembangunan masjid di dekat Ground Zero, lokasi bekas WTC.

Artinya, penulis hendak menegaskan bahwa pada dasarnya ini tentang oknum yang berpikiran dan bersikap ekstremis serta logika eksklusif kalangan mayoritas beragama.

Di mana pun itu, dan apa pun agamanya.

Sebenarnya, pada tingkat ajaran, Islam justru menekankan tentang signifikansi penghormatan terhadap peribadahan setiap umat beragama.

Bahkan, dalam kondisi perang pun, peribadahan merupakan salah satu nilai yang patut dijunjung dan dihormati, sehingga selalu ada jeda untuk mempersilakan musuh beribadah saat waktunya tiba.

Sebab, Islam tak pernah memerangi umat lain karena ibadah atau imannya, melainkan karena sikapnya yang menyerang umat Islam.

Dan perang pun tetap dilancarkan dalam bingkai akhlak (etika).

Selain itu, menurut penulis, ibadah sebenarnya bukan perkara tempat ibadah.

Namun ibadah adalah aktualisasi keimanan.

Sedangkan iman sejati pada dasarnya terletak dalam hati.

Ia tak kan pernah bisa ditekan, dipaksa, diruntuhkan, apalagi dirampas.

Para oknum muslim itu mungkin tak sadar bahwa jika jemaah Ahmadiyah atau umat Kristen itu tak bisa menghampiri Tuhan dalam ibadahnya di rumah ibadah, mereka bisa melakukannya di mana saja dalam hati mereka.

Justru Tuhan yang akan “menghampiri” mereka dalam ketertindasannya, jika mereka dilarang menghampiri Tuhan melalui rumah ibadah.

Karena itu, sufi Jalaluddin Rumi mengingatkan bahwa Tuhan sejati tak “bersemayam” di rumah ibadah agama mana pun, melainkan dalam hati setiap hamba-Nya yang beriman.

Tentu sikap intoleransi itu patut dilawan.

Sebab, beragama, berkeyakinan, dan beribadah merupakan hak setiap warga negara yang diatur oleh undang-undang kita dan diagungkan oleh setiap agama, terlebih Islam.

Dan Tuhan pun telah memfirmankan agar hamba-Nya tak pernah takut.

Namun mereka juga patut sadar akan letak keimanan yang berada di hati itu.

Agar, seperti juga difirmankan Tuhan, mereka tidak pula bersedih.

Sebab, sesungguhnya Tuhan bersama mereka.

Pada akhirnya, seperti kata filsuf Muhammad Baqir Shadr, keimanan sekelompok umat bukan hanya bisa dilihat dari peribadahan mereka sendiri, tapi juga dari penghormatan mereka pada peribadahan umat beragama lain.

Sebab, sekali lagi, ibadah sejatinya adalah aktualisasi iman (akidah): bukan hanya dalam fiqih-syariah (peribadahan), tapi juga akhlak (penghormatan pada yang lain dan berbeda).

Ketiganya adalah integral dalam Islam.

Karena itu, seperti ditulis Jalaluddin Rakhmat (Dahulukan Akhlak di Atas Fikih, 2007), Al-Quran selalu menjadikan keluhuran akhlak sebagai parameter kesuksesan ibadah. *

*******

Kolom/Artikel : Tempo.co

Related posts