Air

0
31 views
Warga menyaksikan lahar dingin yang mengalir di Sungai Yeh Sah, Rendang, Karangasem, Bali, Sabtu (2/12). Hujan deras di kawasan Gunung Agung menyebabkan lahar dingin kembali mengalir di sungai itu (Ilustrasi). (Hafidz Mubarak/Antara)

Rabu , 13 Desember 2017, 07:10 WIB

Red: Agus Yulianto

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Agus Fitriawan

Warga menyaksikan lahar dingin yang mengalir di Sungai Yeh Sah, Rendang, Karangasem, Bali, Sabtu (2/12). Hujan deras di kawasan Gunung Agung menyebabkan lahar dingin kembali mengalir di sungai itu (Ilustrasi). (Hafidz Mubarak/Antara).

Tidaklah Allah SWT menciptakan peristiwa atau kejadian sesuatu yang sia-sia. Manusia dianjurkan untuk merenung dan mengambil pelajaran dari berbagai macam peristiwa yang terjadi.

Bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi akibat intensitas hujan lebat, membawa satu pesan yang jelas bagi bangsa ini; berikan hak alam sebagaimana mestinya.

Banjir seakan menyuruh manusia mengintrospeksi diri agar bisa bersahabat dengan alam. Berikanlah lahan resapan yang semestinya. Biarkan pohon-pohon menghijau rindang menahan erosi.

Ketika kekuatan tangan manusia telah merusak alam (QS ar-Rum (30): 41), maka manusia tidak bisa berlari dari azab Allah yang pedih. Kita masih ingat kisah Kan’an putra Nabi Nuh AS. Ketika itu banjir bandang tengah melanda bumi.

Cimanuk Garut, Jawa Barat. (Foto: John Doddy Hidayat).

Di saat ayahnya menaiki kapal dan berlayar, ia memanggil anaknya untuk ikut bersama orang-orang saleh menaiki kapal. Namun, Kan’an menolaknya karena merasa sanggup akan sampai ke puncak gunung (QS Hud [11] :43).

Meskipun telah mencapai puncak gunung, Kan’an akhirnya ditelan banjir. Dan Kan’an pun tenggelam bersama keangkuhannya. Di tempat lain, Alquran menggambarkan betapa penduduk neraka kehausan dan meminta air kepada penduduk surga (QS al-‘Araf (7) :50).

Kisah di atas merupakan simbolisasi dari penduduk bumi yang keluar dari rel yang telah ditetapkan Allah. Bahwa siapa saja yang tidak lagi mematuhi ajaran Allah maka baginya siksa yang amat pedih.

Kini, saatnya kita menunjukkan sikap arif dan bijaksana terhadap air. Dia adalah bagian dari hidup kita. Tanpanya mustahil hidup ini bisa berlangsung. Ada banyak nilai yang telah tercipta berkat air. Kita semua pernah dimanjakan dengan keindahan air yang ada di akuarium atau kolam.

Beningnya air memberikan kesejukan dalam jiwa yang tengah gundah. Ketika penat datang menghampiri, air yang disiramkan adalah penyejuknya, hilanglah stres kita.

Lihatlah keagungan Allah dalam air. Betapa Dia Mahaagung dengan menjadikan air begitu indah untuk dinikmati. Bagaimana dia menciptakan air terjun yang tinggi, tempat kita bisa bermain di bawahnya.

Sejuk, dingin dan menyegarkan. Lalu Dia ciptakan laut dengan hamparan air yang tanpa batas, tampat kita bisa berlayar di atasnya untuk melihat keagungan-Nya yang lebih luas lagi.

Biarkan air mengalir di sungai. Jangan dikotori dengan sampah, agar ia bisa tetap melaju menyebarkan kesejukan bagi setiap mata yang memandangnya. Jangan pula kita tebang pohon dengan sembarangan karena itulah tempat air bersemayam.

Tanpa pohon, air akan menjelma menjadi bah yang bisa meluluhlantakkan lingkungan. Dengan demikian, marilah kita benahi hubungan kita yang tidak harmonis dengan alam. Kita jadikan alam sebagai mitra dalam berinteraksi dan meningkatkan kesejahteraan universal agar tercapai baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Semoga.

********

Republika.co.id