Air Kelapa

Garut News ( Ahad, 08/06 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Ada sesuatu yang menarik bila kekuasaan bermula dari cerita tentang kata dan air kelapa.

Kita menemukannya dalam dongeng Jawa tentang pendiri Kerajaan Mataram.

Tersebutlah pada suatu pagi Ki Ageng Giring, seorang peladang, memanjat pohon nyiur di halamannya untuk memetik sebutir kelapa.

Ia ingin membuat santan.

Tapi di pucuk pohon itu tiba-tiba terdengar suara: “Barang siapa yang meminum air kelapa yang kaupegang itu, akan ia turunkan anak-cucu yang berkuasa di kerajaan masa depan.”

Dengan gemetar Ki Ageng Giring memetik nyiur itu, meluncur turun, dan pulang.

Tapi hari masih pagi; ia belum haus.

Buah kelapa itu hanya ia lubangi untuk bisa direguk airnya nanti, lalu ia letakkan di para-para dapur.

Ia pun kembali ke kebun untuk mencangkul.

Tak disangka-sangka, tetangga dan sahabat karibnya, Ki Ageng Pemanahan, yang baru saja sibuk membersihkan semak-semak, mampir.

Karena haus tak tertahan, melihat nyiur yang sudah disiapkan di dapur itu, ia mengambilnya dan mereguk airnya.

Dan demikianlah jadinya: Ki Ageng Pemanahan adalah progenitor pendiri Kerajaan Mataram.

Anaknya, seorang pemuda cerdik dan pemberani, Sutawijaya, menjadi seorang prajurit yang makin lama makin dipercaya di Kerajaan Pajang.

Ia berhasil menewaskan Arya Penangsang, seorang bangsawan yang tak mau takluk.

Atas jasanya, Sutawijaya diberi gelar Panembahan Senapati dan sebentang wilayah.

Berangsur-angsur, daerah itu ia kembangkan jadi kerajaan yang disebutnya dengan nama “Mataram”, seperti kerajaan Jawa dari zaman keemasan sebelum Islam.

Ia memerintah dari 1584 sampai meninggal pada 1601.

Bagi saya, yang penting dalam cerita itu adalah sepatah kata dalam kalimat yang didengar Ki Ageng Giring: “Barang siapa…”.

Tak ada nama tertentu yang disebut.

Kekuasaan pada hakikatnya sebuah peruntungan yang terbuka.

Tak ada pintu tertutup bagi orang atau kaum tertentu.

Jika Ki Ageng Pema­nahan yang mendapatkan karunia itu, itu berarti asal-usul kekuasaan bermula pada nasib yang tak eksplisit dan sebuah kebetulan.

Kata-kata gaib dan air kelapa sebagai bagian awal cerita tentang kejayaan dan kejatuhan raja-raja Jawa agaknya untuk pengingat bahwa kekuasaan sekaligus mengandung misteri dan hal sehari-hari.

Dengan kata lain, tak ada fondasi yang kukuh kekal yang menentukan seseorang untuk berada di atas takhta atau di bawahnya.

Sumber legitimasi kekuasaan ibarat datang dari sebuah liang tambang tua yang kosong tapi penuh kabut.

Sejarah kekuasaan adalah sejarah kecemasan.

Itu sebabnya kekuasaan perlu punya aura, dan aura perlu mithos.

Harus ada sesuatu yang akan memberi alasan bahwa ia sah, bahwa ia patut diterima siapa saja kapan saja.

Itu berarti, dalam kecemasannya, kekuasaan tak bisa cuma sebuah monolog.

Ia butuh Liyan yang mengakuinya.

Dengan demikian sebenarnya ia mengakui bahwa ada pihak lain yang dianggap setara, atau lebih luhur, yang punya daya untuk memberi pengakuan atau menolaknya.

Di zaman demokrasi, Liyan itu “rakyat”: himpunan yang tak sepenuhnya dapat dihadirkan selain secara simbolis.

Di abad ke-16 itu, Liyan itu dilambangkan secara lain: seorang ratu gaib dari laut selatan.

Salah satu dongeng terkenal tentang Panembahan Senapati adalah hubungannya dengan Nyai Roro Kidul.

Dikisahkan, pada suatu saat putri alam gaib itu mendatangi Baginda.

Mereka bercintaan.

Tapi pada saat yang sama dikatakan juga bahwa Nyai Roro Kidul menyerah ke dalam wibawa sang penguasa Mataram: sor prabawa lan wong agung ngeksiganda.

Kekuasaan Senapati dan auranya, takhta, dan legitimasinya menjadi menguat dengan dongeng itu.

Tapi tampak: seorang penguasa harus berjuang secara rumit dan subtil buat memperoleh hegemoni.

Dongeng di atas bisa ditafsirkan untuk menggugat thesis bahwa perjuangan hegemoni sepenuhnya ditandai antagonisme.

Sebab yang terjadi adalah jalin-menjalin yang tegang antara persaingan dan pertalian.

Memang ada konflik yang tersamar, tapi hegemoni tak mungkin hanya dicapai dengan keris yang berdarah.

Kita tahu apa yang terjadi.

Kekuasaan penerus dinasti Mataram, Amangkurat I (1646-1677), praktis adalah titah yang berdarah.

Babad Tanah Jawi mengisahkan suasana kerajaan yang muram dan menakutkan yang segera disusul sebuah akhir yang dramatis.

Riwayat Kerajaan Mataram tamat ditutup pemberontakan Trunajaya.

Legitimasi hilang, hegemoni runtuh.

Para pendongeng kemudian berkisah, dalam perjalanan melarikan diri dari istananya, Amangkurat I mati karena meminum air kelapa yang beracun.

Mungkin ini juga sebuah tamsil: rasa haus akan kekuasaan di saat yang tepat akan berhasil; rasa haus kekuasaan di saat yang salah akan membuat binasa dan orang tak selalu tahu kapan saat yang salah itu.

Goenawan Mohamad

Related posts

Leave a Comment