Agent of Change

Idrus F. Shahab, idrus@tempo.co.id

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Namanya Vanessa Mae, 35 tahun.

Sembilan belas tahun silam, pemain biola bermata sipit, bertubuh langsing, dan berbibir sensual ini melangsungkan pemberontakan kecil-kecilan terhadap adat-istiadat musik klasik.

Sebagai solois, Vanessa lebih suka mengenakan setelan hot pant dan kaus singlet daripada gaun panjang anggun berwarna gelap.

Dalam konser-konsernya yang riuh-rendah, segenap sopan santun yang telah beratus tahun membentengi dunia musik klasik tak diberi tempat.

Bila berminat, para penonton, yang kebanyakan kaum muda, diperkenankan berjingkrak-jingkrak mengikuti beat disko yang mengalir dari drum set.

Dan manakala kesempatan untuk memainkan konserto atau sonata duo terbuka, misalnya, ia memilih berpasangan dengan gitar listrik, instrumen yang jadi belahan jiwa musik rock, ketimbang dengan piano atau gitar klasik.

Dengan caranya sendiri, Vanessa telah mengambil bagian dalam menghapuskan kesan angker yang selama ini meliputi dunia musik klasik.

Otomatis dengan meniupkan erotisisme ke tengah-tengah panggung, ia telah menempuh jalan yang telah berpuluh tahun dilakoni rekan-rekannya di dunia musik pop: seks bagian dari musik.

Dan perlahan-lahan, penggemarnya pun kerasukan pikiran jernih: tak ada ruginya berkenalan dengan karya J.S. Bach, Paganini, atau Mozart, yang kualitasnya rata-rata di atas kebanyakan musik pop.

Dengan sebab tak begitu jelas, selama ini musik klasik memang selalu tertarik untuk berpenampilan sangar.

Buah dari peradaban Barat yang telah bercokol sepanjang ratusan tahun ini punya segerobak aturan dingin, termasuk larangan bertepuk tangan di antara dua gerakan/bagian (movement).

Di samping itu, ada juga sederet istilah latin, seperti opus, alegro, kre­sendo-sesuatu yang pada akhirnya cuma menambah-nambah bingung dan takut peminat mula musik klasik.

Alhasil, di antara tetek-bengek kaku yang menguasai musik klasik, tiba-tiba kita dapati Vanessa yang bisa mengerling, memoles bibirnya dengan lipstik warna eksotis, menggeliat lemah dan pelan-pelan merebahkan tubuhnya.

Ada sejumlah imajinasi yang bisa terbang.

Tapi ada sejumlah pertanyaan yang belum terjawab: siapa sesungguhnya Vanessa Mae?

Adakah ia seorang agent of change yang hendak merobohkan keangkuhan musik klasik?

Atau sebuah kemasan dagang?

Atau keduanya sekaligus?

Di antara agent of change dan kemasan dagang memang terbentang perbedaan.

Seorang agent of change tak ambil peduli terhadap kemasan atau pencitraan; ia tak terobsesi oleh dirinya.

Ia sadar dirinya bukan pusat dunia, karena itu perhatiannya tertuju pada hal-hal penting di luar sana.

Ia kerap berjalan sendirian tanpa seorang kamerawan yang sigap menangkap setiap gesture yang paling mengesankan.

Ketika mengunjungi p­ermukiman padat ibu kota yang dikepung banjir, ia menunggu sampai rombongan para artis, birokrat, wartawan, dan-tentu saja-politikus berlalu.

Sulitnya, terutama di masa-masa yang penuh ketidakberdayaan dan kejumudan, pelaku pencitraan acap kali membubuhkan ciri agent of change pada dirinya.

Tiada jalan lain, kita harus pandai membedakan mana yang nyata dan mana yang sekadar fatamorgana.

Dan Vanessa?

Inilah potret dunia kini.

Selalu ada dua Vanessa: yang menggesek biola dengan penjiwaan penuh, dan yang bisa mengerling, menggeliat lemah, lalu pelan-pelan merebahkan tubuhnya.

***** Kolom/artikel Tempo.co

Related posts

Leave a Comment