Agenda di Balik Konflik Rusia-Suriah

0
6 views

Smith Alhadar, Penasihat Indonesian Society for Middle East Studies

Ilustrasi Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Rabu, 16/12 – 2015 ).

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Ketegangan hubungan Rusia dan Turki terus meningkat. Pada 30 November 2015, Presiden Rusia Vladimir Putin menggelar konferensi pers di sela Konferensi Perubahan Iklim di Paris, dengan menuduh penembakan pesawat tempur Rusia SU-24 oleh jet F-16 milik Turki dilakukan untuk melindungi dan mengamankan mata rantai penjualan minyak Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) ke Turki.

Penembakan pada 24 November itu terjadi di dekat perbatasan Suriah-Turki. Moskow berkeras bahwa SU-24 tidak melanggar wilayah udara Turki. Tapi Turki punya rekaman suara peringatan itu. Amerika Serikat juga punya data satelit yang menunjukkan bahwa pesawat Rusia itu memang telah melanggar wilayah udara Turki meski hanya 20 detik.

Kalau demikian, Turki berada dalam posisi point of no return dan harus menembak pesawat Rusia itu lantaran ini ketiga kalinya pesawat Rusia melanggar wilayah udara Turki sejak Rusia terjun langsung dalam perang di Suriah pada 30 Oktober lalu.

Tuduhan Putin di atas berdasarkan asumsi sebagai berikut. Pertama, Turki menolak ikut serta dalam koalisi Liga Arab-NATO memerangi ISIS sejak September tahun lalu. Turki baru bersedia bergabung setelah ISIS meledakkan bom di Kota Suruc, Turki, 20 Juli 2015.

Itu pun Turki hanya memberi izin AS menggunakan pangkalan udara Incirlik untuk menyerang sasaran-sasaran ISIS, sedangkan Ankara justru hanya berfokus pada perang melawan Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

Kedua, ISIS menjual sebagian besar produksi minyaknya di pasar gelap melalui wilayah Turki, selain Irak dan Iran. Namun tuduhan Putin bertentangan dengan kenyataan berikut. Pertama, pesawat-pesawat AS yang terbang dari Incirlik melakukan pengeboman ke target-target ekonomi ISIS.

Memang ada penjualan minyak ISIS ke wilayah Turki, tapi pembelinya adalah para sindikat yang tidak ada hubungannya dengan pemerintah Turki. Kedua, sekiranya ada bisnis dengan pemerintah Turki, tentu ISIS tidak akan melakukan pengeboman di Suruc dan bom kembar di Ankara pada 10 Oktober lalu yang menewaskan 112 orang.

Penjelasan yang lebih masuk akal, selain pelanggaran wilayah udara Turki, adalah kemarahan Turki atas gempuran pesawat-pesawat Rusia terhadap kelompok oposisi penentang rezim Bashar al-Assad, khususnya milisi Suriah keturunan Turki, yang didanai dan dipersenjatai oleh Turki.

Mereka bercokol di wilayah utara dan barat daya Suriah. Turki sengaja membantu milisi Turkmen itu untuk menyiapkan mereka membentuk negara berdaulat sendiri di wilayah Suriah utara, yang membentang dari Jarablus di timur hingga Azar di barat dengan memasukkan pula kantong-kantong Sunni di sebelah utara Provinsi Aleppo dan Idlib. Wilayah inilah yang ditetapkan sebagai zona aman yang dibentuk AS dan Turki.

Strategi Turki ini bertujuan membendung komunitas Kurdi mendapatkan akses ke pantai. Organisasi Kurdi di Suriah timur laut dan utara adalah Tentara Pertahanan Rakyat (YPD), yang merupakan musuh Turki. YPD ditengarai akan mendirikan negara merdeka sendiri buat etnis Kurdi di wilayah utara dan timur laut Suriah.

Kalau demikian, negara Kurdi yang akan berdiri ini tidak akan memiliki akses ke pantai (landlocked) karena dibendung oleh negara Turkmen yang direncanakan akan memiliki akses ke Laut Tengah melalui Provinsi Latakia di barat laut Suriah. Rusia, tanpa sensitivitas tinggi, menyerang milisi Turkmen yang sedang dipelihara Turki ini.

Tampaknya Moskow tidak berhenti dengan menerapkan sanksi pembatasan impor makanan Turki dan mengakhiri perjalanan bebas visa kedua negara, tapi juga menantang Turki di Suriah. Rusia kini menempatkan sistem pertahanan udara S-400 di Suriah, yang mampu mendeteksi dan menembakkan rudal ke sasaran musuh hanya dalam hitungan detik.

Langkah ini bertujuan menghadang pesawat Turki yang mungkin mendekati pesawat Rusia. Tindakan lain Rusia adalah mendukung PYD (Partai Uni Demokratik Kurdi), yang juga didukung AS. Agar tidak menonjolkan etnis, PYD bergabung dengan milisi lain di bawah payung Tentara Demokrasi Suriah (SDF).

SDF beroperasi di utara Suriah, selain untuk menghadang ISIS, juga menggempur milisi Turkmen. Sulit diprediksi apa yang akan terjadi bila Turki kembali menembak jatuh pesawat Rusia atau sebaliknya.

********

Kolom/Artikel Tempo.co