Aceh Tumbuh tapi Rapuh

0
161 views

Garut News ( Rabu, 24/12 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Sepuluh tahun pasca-tsunami, Provinsi Aceh memerlihatkan perubahan luar biasa. Pembangunan infrastruktur, gedung, dan rumah baru cukup berhasil.

Hanya, pemerintah Aceh kini harus mulai memikirkan cara untuk memacu pertumbuhan ekonominya.

Rekonstruksi menghabiskan sumbangan dunia lebih dari Rp70 triliun itu membuat Aceh kembali rapi. Gedung-gedung dan rumah-rumah berderet rapi.

Jalan-jalan pun mulus. Sayangnya, pertumbuhan perekonomian di provinsi ini masih lambat sehingga tak bisa menyediakan banyak lapangan kerja.

Ekonomi Aceh hanya tumbuh sekitar 2,7 persen, jauh di bawah angka pertumbuhan nasional tahun ini diprediksi sekitar 5,1 persen.

Rendahnya pertumbuhan ekonomi tersebut,  sumbangan sektor minyak dan gas, juga pertambangan, terus menurun, bahkan negatif.

Jika sektor dulu menjadi andalan ini dikeluarkan dari hitungan, sebetulnya pertumbuhan Aceh lumayan, mencapai 4,18 persen.

Lantaran, sektor keuangan dan jasa tumbuh pesat, masing-masing menyentuh angka 6,5 persen dan 9,5 persen.

Dari sektor-sektor di luar migas dan tambang itulah Provinsi Aceh bisa memacu pertumbuhan ekonomi di masa mendatang.

Perdagangan dan perhotelan juga masih bisa digenjot sebab sektor ini hanya tumbuh sekitar 4,2 persen. Begitu pula pertanian, yang hanya tumbuh 2,2 persen.

Sektor-sektor menyerap banyak lapangan kerja ini perlu diperhatikan oleh pemerintah.

Penduduk Aceh selama ini memanfaatkan lapangan kerja tersedia dalam proses rekonstruksi. Pembangunan rumah, gedung, dan jalan-jalan memerlukan banyak tenaga kerja.

Begitu proses rekonstruksi selesai, lapangan kerja itu tidak lagi tersedia. Kini sebagian dari mereka membuka warung, kios, atau berdagang.

Tetapi sektor informal ini saja tidak cukup memacu pertumbuhan ekonomi Aceh.

Aceh sebaiknya pula mengundang investor dari luar, baik dari dalam maupun luar negeri. Upaya ini penting demi memercepat pembenahan di luar sektor tambang dan migas.

Soalnya, mengandalkan anggaran pemerintah daerah dan dana alokasi pemerintah pusat saja jelas tak cukup.

Investasi besar-besaran diperlukan mengembangkan sektor memiliki banyak potensi, mulai dari pertanian, perkebunan, perdagangan, perindustrian, hingga pariwisata.

Yang diperlukan sikap lebih terbuka dan ramah terhadap pemodal luar. Provinsi ini perlu memermudah perizinan sekaligus mengusahakan pasokan listrik.

Selain itu, pemerintah Aceh kudu bisa menjamin adanya suasana aman.

Rekonstruksi Aceh sukses setelah dilanda tsunami mahadahsyat bisa menjadi inspirasi bagi kita, terutama rakyat Aceh sendiri.

Segala impian bukanlah tak mungkin, asalkan kita berusaha dan membuka diri terhadap bantuan atawa kerja sama dengan pihak lain.

Dan, bukan mustahil, Aceh kembali menjadi provinsi makmur kendati tanpa rezeki minyak, dan tambang lagi.

**********

Opini Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here