Teladan dari Sya’ban

0
9 views
Siraman Rohani Bagi Para Pengelola Ponpes/Kuttab Yadul 'Ulya Garut.

Hikmah 23 Mar 2021, 03:30 WIB

Siraman Rohani Bagi Para Pengelola Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya Garut.

“Sya’ban bukan menyesali dosa, melainkan menyesal karena merasa tidak optimal saat ibadah”

OLEH ADE ZAENUDIN

Alkisah, ada seorang sahabat Rasulullah SAW bernama Sya’ban RA. Beliau punya kebiasaan iktikaf di satu sudut masjid saat menunggu shalat berjamaah. Tempat spesial itu dipilih bukan karena nyaman untuk bersandar saat berzikir, melainkan karena tidak mau mengganggu dan terganggu orang lain.

Suatu saat Rasulullah SAW hendak shalat Subuh, dilihatnya tempat biasa Sya’ban iktikaf. Kosong. “Ke mana Sya’ban?” tanya Nabi Muhammad.

Tidak ada satu pun sahabat yang mengetahuinya. Nabi dan para sahabat akhirnya mengunjungi rumah Sya’ban dan bertemulah dengan istrinya. Setelah ditanya keberadaan Sya’ban, istrinya menjawab sambil berlinang air mata, “Beliau telah wafat tadi pagi.” Innalillahi wainnailaihi rajiun.

Kampus Peradaban Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya Garut.

Hanya kematian yang menyebabkan Sya’ban tidak shalat Subuh berjamaah. Beberapa saat kemudian, istri Sya’ban bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua. Menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dengan masing-masing teriakan disertai kalimat. Kami semua tidak paham apa maksudnya.”

Rasulullah bertanya, “Apa saja kalimat yang diucapkannya?”

Istrinya menjawab, “Aduh, mengapa lebih jauh. Aduh, mengapa tidak yang baru. Aduh, mengapa tidak semua.”

Santri Kuttab.

Nabi Muhammad SAW menjelaskan, saat Sya’ban sakaratul maut, Allah menayangkan perjalanan hidupnya, termasuk balasan dari perbuatan yang diperlihatkannya tersebut. Sya’ban melihat adegan kesehariannya pulang pergi ke masjid untuk berjamaah lima waktu.

Teriakan pertama, “Aduh, mengapa tidak lebih jauh?”, Sya’ban menyesal mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkannya lebih banyak dan surga yang didapatkannya lebih indah.

Teriakan kedua, “Aduh, mengapa tidak yang baru?”, Sya’ban menyesal jika dengan baju yang tidak bagus saja bisa mengantarkannya mendapat pahala yang begitu besar, bagaimana kalau mengenakan baju yang baru.

Teriakan ketiga, “Aduh, mengapa tidak semua?” Sya’ban menyesal seandainya ia berikan semua roti itu kepada pengemis, tentulah dia akan mendapatkan surga yang lebih indah.

Sya’ban bukan menyesali dosa, melainkan menyesal karena merasa tidak optimal saat ibadah. Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari kisah Sya’ban.

Pertama, pentingnya konsistensi dalam melakukan kebaikan. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW menyampaikan sesungguhnya amalan yang dicintai oleh Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.

Kedua, pentingnya menciptakan suasana nyaman dalam beribadah, nyaman buat kita serta nyaman buat orang lain. Boleh saja berzikir, tapi jangan sampai mengganggu kenyamanan orang lain. Apalagi pada waktu yang mestinya digunakan untuk istirahat.

Ketiga, pentingnya mempererat silaturahim melalui shalat berjamaah. Tengok kanan tengok kiri saat salam di pengujung shalat mengandung makna akan pentingnya memperhatikan saudara-saudara kita. Keempat, pentingnya optimalisasi dalam beribadah. Kelima, penyesalan selalu datang di akhir.

Semoga Allah SWT memberi kekuatan kepada kita semua untuk mampu berubah ke arah yang lebih baik sehingga di akhir nanti berkumpul dengan manusia-manusia terbaik pilihan Sang Khalik.

La haula walaa quwwata illaa billaah.

****

Republika.co.id/Ilustrasi Fotografer : Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here