Kesabaran Kolektif

0
28 views
Program Berbagi Sembako Jum'at Berkah (12/02-2021), Bersama Baitulmal Yadul 'Ulya Garut pada Yayasan Pendidikan Islam Miftahul Hidayah di Cinisti Kecamatan Bayongbong.

Hikmah 11 Feb 2021, 03:30 WIB

Program Berbagi Sembako Jum’at Berkah (12/02-2021), Bersama Baitulmal Yadul ‘Ulya Garut pada Yayasan Pendidikan Islam Miftahul Hidayah di Cinisti Kecamatan Bayongbong. Ust. Ahmad Awaludin, SPT (paling kiri) katakan kebutuhan mendesak perlunya segera membangun asrama santriwati.

“Salah satu ketahanan mental spiritual itu adalah kesabaran kolektif”

OLEH MUHBIB ABDUL WAHAB

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia dan Indonesia tampaknya belum mereda. Hal ini berarti bahwa jihad kolektif melawan Covid-19 dan aneka bencana lainnya menghendaki ketahanan mental spiritual yang tangguh.

Salah satu ketahanan mental spiritual itu adalah kesabaran kolektif. Mengapa kesabaran kolektif sangat penting, terutama dalam menghadapi situasi genting?

Miliki 200-an Santri/Santriwati.

Karena, kesabaran kolektif itu merupakan energi positif yang dahsyat berbasis prinsip kemaslahatan bersama. Kesabaran kolektif itu merupakan benteng pertahanan diri yang kokoh untuk tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan demi kebaikan semua.

Kesabaran kolektif itu harus menjadi mentalitas tangguh dalam menghadapi pandemi dengan dibarengi pendekatan diri kepada Allah melalui shalat, berdoa, dan bertawakal kepada-Nya.

Asrama Santri Putra.

Kesabaran kolektif itu sarat optimisme dan pertolongan Ilahi karena memang Allah selalu membersamai dan mencintai orang-orang yang sabar (QS al-Baqarah [2]: 153 dan 177, Ali Imran [3]: 146). 

Kesabaran kolektif itu dapat menghadirkan sikap dan berpikir positif, berbaik sangka kepada Allah sekaligus ridha terhadap ketentuan-Nya. Kesabaran kolektif mengantarkan manusia sebagai hamba yang “dimiliki”, bukan memiliki kehidupan ini.

“Orang-orang yang sabar itu apabila ditimpa musibah, mereka berkata bahwa ‘Sesungguhnya kami ini milik Allah dan kepada-Nyalah kami akan kembali’.” (QS al-Baqarah [2]: 156).

Kondisi Asrama Santriwati, Sehingga Kerap Banyak yang Tidur di Masjid.

Hasil riset David deSteno dan tim di Northeastern University terhadap 105 responden, menunjukkan bahwa orang sabar itu memiliki kebiasaan unik: ramah dan mudah bersyukur.

Disebutkan dalam jurnal Emotion, sikap terima kasih dan mudah bersyukur ternyata bisa membantu orang bersikap sabar. Orang yang ramah memiliki kesabaran lebih kuat dan mampu mengendalikan diri, tidak mudah marah, memiliki imunitas tubuh, dan daya juang tinggi.

Kesabaran kolektif itu diyakini kunci kemenangan karena orang sabar selalu optimistis dan pantang menyerah dalam menghadapi musibah. Orang sabar memiliki karakter positif, selalu mencari solusi, tidak berkeluh kesah selain kepada Allah. Kekuatan sabar membuatnya istiqamah beribadah personal dan sosial (QS ar-Ra’d [13]: 22).

Integrasi sabar dan shalat itu ditunjukkan oleh Allah sebagai jalan kemenangan dan penuh harapan untuk memperoleh pertolongan-Nya (QS al-Baqarah [2]: 153).

Oleh karena itu, jihad melawan Covid-19 tidak cukup dengan pendekatan klinis, medis, dan sosiologis, tetapi juga harus ditopang kesabaran kolektif, shalat, zikir, doa, istighfar, tobat, dan sedekah.

Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya Garut Dengan Salahsatu Program Unggulannya.

Dengan demikian, esensi kesabaran kolektif adalah berdisiplin positif, menahan diri dengan tidak menyalahi protokol kesehatan, membudayakan pola hidup sehat dan bersih, dan membugarkan iman dan imun tubuh.

Pada masa pandemi ini, kesabaran kolektif menjadi ujian bersama dengan menahan diri, membetahkan hati untuk menjaga diri agar tidak tertulari dan menulari, menjauhi kerumunan, menjaga jarak dengan sesama, tetap memakai masker, dan disiplin mencuci tangan.

Selain itu, kesabaran kolektif itu harus menjadi komitmen moral semua disertai niat yang tulus karena Allah semata.

******

Republika.co.id/Fotografer : Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here