Memotret Jejak Kejayaan Juragan Jeruk Kampung Cijoho

0
28 views
Jejak Kejayaan Masa Silam di Kampung Cijoho.
Jejak Kejayaan Masa Silam di Kampung Cijoho.

“Masih Menghentak Banyak Kalangan” 

Garutnews ( Jum’at, 08/01 – 2021 ).

Esay/Fotografer : Abah John.

Kabupaten Garut, selain berjuluk “Swiss van Java” juga antara lain dikenal dengan potensi plasmanuftahnya “Domba Garut” (Aries Ovis), “Dodol Garut”, juga “Jeruk Garut” dengan jejak kejayaan “Juragan Jeruk” masa silamnya.

Kota Intan Garut berudara sejuk lantaran dikepung Gunungapi Guntur, Gunungapi Papandayan, dan Gunung Cikuray. Sempat dua kali disinggahi tokoh dunia di antaranya Charlie Chaplin pada 1927, dan 1932.

Memukau.

Jejak kejayaan masa lalunya masih bisa disaksikan di Kampung Cijoho Desa
Sindanglaya Kecamatan Karangpawitan. Bersemayam sejumlah “bangoenan tempo doeloe” rumah tinggal mencerminkan kejayaan masa silamnya.

Seiring perkembangan sejarah kota,  pada masa berawal di Kabupaten Balubur Limbangan dipimpin Bupati Adipati Adiwidjaja (1813-1831). Kemudian kabupaten beribukota di Suci dipindahkan ke Garut.

Berpelataran Luas Dengan Struktur Bangunan yang Inspiratif.

Berlanjut dengan didirikannya banyak bangunan fasiltas pemerintahan termasuk kantor bupati, stasiun kereta api, kantor pos, apotek, sekolah, hotel, pertokoan, pasar, serta kelengkapan fasilitas lainnya.

Bahkan pernah menjadi kota industri cukup besar. Berupa coklat ternama bermerek Ceres pabriknya sempat berada di Garut. Industri tenun pun bertebaran di pinggiran kota termasuk “Pabrik Tenun Garut” (PTG).

Bersikulasi Udara Sehat.

Didukung pula keberadaan jalur kereta api penghubung Kecamatan Cibatu dan Garut kemudian diperpanjang hingga Kecamatan Cikajang oleh “Staatsspoorwegen
Westerlijnen” (SS) diresmikan pada 14 Agustus 1889.

Pada lintasan tersebut ada sejumlah pemberhentian antara lain Pasirjengkol, Cimaragas,
Cipari, Cinunuk, Cibolerang, Cikole, Sadang, Cimurah, dan Pasir Uncal.

Masih Monumenal.

Pada 1940 pemberhentian Cipari berganti menjadi Stasiun Wanaraja. Jalurnya pun diperpanjang hingga Cikajang oleh perusahaan sama diresmikan 1930.

Melintasi  pemberhentian yakni Pamoyanan, Cirengit, Kamojang, Cibodas/Cioyod, Bayongbong, Cidatar, dan Cisurupan.

Menawan Kasat Mata.

Sehingga banyak sektor perekonomian penduduk mendapat penunjang kemudahan. Kendati pada 1982 kereta api tak lagi merayapi Cibatu hingga Cikajang. Total ditutup lantaran dinilai tak efektif dan tak bernilai ekonomis.

Sedangkan Kampung Cijoho berdekatan dengan Stasiun Wanaraja. Masih ditemukan sejumlah banguna ‘roemah toea’ termasuk yang sudah menjadi reruntuhannya.

Sehat dan Asri.

Namun yang masih utuh di antaranya bangunan rumah tinggal milik keluarga besar H. Zein sempat dikenal dengan sebutan “Belanda Hitam”. Dikaruniai anak masing-masing Odang, Omas, Oman, Obon, serta Ojen.

H. Zein, petani juga (Juragan Jeruk). Dengan rumah-rumah dihuni keluarga besarnya  menunjukkan bangunan mewah dibangun orang berkondisi sosial ekonomi sangat mapan.

Roemah Heubeul.

Berarsitektur mengadopsi struktur konstruksi Bergaya Eropa dipadukan arsitektur lokal. Umumnya berdinding bata berplester. Dinding bagian bawah dilapisi batu tempel. Bagian  pilaster dilapis granula sehingga terkesan seperti teraso.

Juga berdaun pintu dan jendela berupa jalusi berbahan kayu. Atap berbentuk limas
berpenutup genteng. Sepintas mengesankan gaya Indis. Selain rumah-rumah keluarga H. Zein, sebelah tengara masih Kampung Cijoho, ada beberapa runtuhan rumah berarsitektur mewah.

Konstruksi Bangunan yang Kokoh.

Rumah-rumah di Kampung ini dibangun berkat kejayaan “Jeruk Garut”. Dengan Stasiun Wanaraja sebagai salah satu titik penting distribusi pemasaran ke berbagai daerah.

Malahan produk komoditi itu, dihimpun dari pelbagai sentra produksi perkampungan. Pengirimannya melalui Stasiun Wanaraja pula.

Bersihkan Lingkungan.

Namun terpaksa berakhir 1982 akibat letusan Gunungapi Galunggung, kepekatan abu letusannya menimbun bahkan memorakporandakan perkebunan jeruk. Diperparah serangan dahsyat wabah “citrus vein phloem degeneration” (CVPD) disebabkan lybers bacteri aniaticum.

Bakteri meranggas tanaman jeruk tersebut, tak menular lewat tanah ataupun biji, melainkan melalui media serangga sejenis kutu loncat jeruk (diaphorina citry).

“Imah Gedongan”

Penularan penyakit ini melalui cairan daun berpenyakit yang terhisap serangga kemudian berpindah ke daun jeruk sehat.

Selama ini ragam upaya mengembalikan kejayaan masa silam itu kerap dilakukan dengan sentuhan teknologi pertanian, dan dilakukan penanaman kembali. Namun masih belum membuahkan hasil maksimal.

*******

Pelbagai Sumber.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here