645 Penduduk Garut Terinsfeksi HIV/AIDS Telan Kerugian Rp1,152 Miliar

0
81 views
Denden Supresiana.
Denden Supresiana.

“Temuan Kasus Baru di Caringin Penyebaran Menjadi 37 Kecamatan”

Garut News ( Kamis, 03/01 – 2018 ).

Dari 645 penduduk Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang terinsfeksi HIV/AIDS hingga akhir Desember 2018, menelan kerugian ekonomi negara bersumber APBN sedikitnya mencapai Rp1,152 miliar.

 

Kerugian ekonomi Rp1,152 miliar tersebut, hanya memenuhi kebutuhan menjalani terapi obat ‘Antiretroviral” (ARV) terinfeksi HIV agar virus dibuat ngumpet atau tidur, yang setiap klien sistem pemberian perawatan menyerap biaya sekitar Rp1,5 juta/bulan.

Selama 2018 Terjadi Penambahan 42 Kasus Baru.

“Atau tak termasuk pemenuhan penanganan terinsfeksi HIV TB Paru, hepatitis C, dan AIDS kebutuhan biayanya lebih besar lagi,” ungkap Direktur Eksekutif  “Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia” (PKBI) kabupaten setempat, Ir Denden Supresiana.

Kepada Garut News di ruang kerjanya, Kamis ( 03/01 – 2018 ), dia katakan jika setiap provinsi di Indonesia ada 10 kabupaten/kota penduduknya terinsfeksi HIV/AIDS, maka dari 340 kabupaten/kota kerugian ekonominya bisa mencapai sedikitnya Rp1,7 triliun.

Dana sebesar itu sejatinya dapat digunakan membiayai sektor pembangunan lain yang lebih menyentuh kepentingan masyarakat, selain itu dipastikan ada kerugian pada bonus demografi, sebab yang terinsfeksi HIV/AIDS sebagian besar berusia produktif.

“Temuan Kasus Baru di Caringin Penyebaran Menjadi 37 Kecamatan”

Dikemukakan Denden Supresiana, ditemukannya satu kasus HIV di Kecamatan Caringan pada Desember 2018 silam, menjadikan bertambahnya wilayah sebaran menjadi 37 dari 42 kecamatan di Kabupaten Garut.

Dengan total kasus seluruhnya 392 AIDS, dan 253 HIV. Mereka terdiri 419 laki-laki (249 AIDS dan 170 HIV), serta 226 perempuan (143 AIDS dan 83 HIV). Sedangkan yang meninggal dunia karena kasus tersebut, hingga kini mencapai 181 kasus.

“Mereka yang sudah terafi ARV 394, estimasi ODHA Kemenkes 2015 mencapai 978,” ujar Direktur Eksekutif  PKBI itu.

Berdasar golongan umur meliputi usia kurang satu tahun ada tiga kasus ( Satu AIDS dan Dua HIV), usia 1 – 5 tahun terdapat 16 kasus (11 AIDS dan 5 HIV), 6 – 9 tahun 5 kasus (4 AIDS dan 1 HIV).

Disusul 10 – 24 tahun 43 kasus (23 AIDS dan 20 HIV), paling dominan 25 – 39 tahun 490 kasus (294 AIDS dan 196 HIV), 40 – 49 tahun 75 kasus (50 AIDS dan 25 HIV), 50 – 59 tahun 8 kasus (4 AIDS dan 4 HIV), serta usia tak diketahui 5 kasus AIDS.

Selanjutnya faktor resiko terdiri ‘Laki Seks Laki’ (LSL) 132 kasus (49 AIDS dan 83 HIV), Waria 23 kasus (15 AIDS dan 8 HIV), ‘Wanita Pekerja Seks’ (WPS) dua kasus AIDS, paling dominan IDU’s/Penasun 188 kasus (135 AIDS dan 53 HIV).

HRM (Pria Resiko Tinggi) 97 kasus (63 AIDS dan 34 HIV), Pasangan Resiko Tinggi Perempuan 148 kasus (94 AIDS dan 54 HIV), Pasangan Resiko Tinggi Laki-Laki 34 kasus (18 AIDS dan 16 HIV).

Perinatal/Anak 16 kasus (11 AIDS dan 5 HIV), serta tak terindentifikasi terdapat lima kasus AIDS.

Sedangkan sebaran paling banyak di wilayah Kecamatan Garut Kota ada 209 kasus (141 AIDS dan 68 HIV), disusul Kecamatan Tarogong Kidul 99 kasus (65 AIDS dan 34 HIV), kemudian peringkat ketika Kecamatan Tarogong Kaler 46 kasus (28 AIDS dan 18 HIV).

Peringkat berikutnya antara lain Kecamatan Karangpawitan, Pemeungpeuk, Kadungora, Cilawu, Wanaraja, Bayongbong, dan Kecamatan Leles. Menjadi 10 besar wilayah kecamatan penyebaran HIV/AIDS.

Selama ini PKBI juga menjalani LKB (Layanan Komprehensif Berkesinambungan) sebagaimana diemban Dinkes, namun pilar ‘sustainability’ (penjangkauan dan pendampingan) belum sepenuhnya diselenggarakan institusi teknis terkait.

********

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here