634 Penduduk Garut Terinsfeksi HIV/AIDS, Ditemukan 31 Kasus Baru

0
783 views
Ir Denden Supresiana.

Garut News ( Kamis, 11/10 – 2018 ).

Ir Denden Supresiana.

Sedikitnya 634 penduduk Kabupaten Garut, Jawa Barat, terinsfeksi HIV/AIDS terdiri 243 HIV, dan 391 AIDS Termasuk ditemukannya 31 kasus baru selama rentang waktu Januari hingga September 2018 lalu. Lantaran hingga 2017 silam terdapat 603 kasus HIV/AIDS.

“Dari 634 penduduk terinfeksi HIV/AIDS tersebut, 173 kasus di antaranya meninggal dunia,” ungkap Direktur Eksekutif “Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia” (PKBI) kabupaten setempat, Ir Denden Supresiana.

Perkembangan Kasus Terinsfeksi HIV/AIDS di Kabupaten Garut.

Kepada Garut News di ruang kerjanya, Kamis ( 11/10 – 2018 ), juga dikatakan sejak tiga tahun terakhir penyebab utamanya “Laki Seks Laki” (LSL), kemudian pasangan “Resiko Tinggi” (Resti) perempuan, serta disebabkan penasun atau penggunaan jarum suntik narkoba secara bersamaan.

Penyebab LSL mencapai 123 kasus yang cenderung dominan selama tiga tahun terakhir, sebelumnya akibat pasangan Resti perempuan 147 kasus.

Pengelola Program “Komisi Penanggulangan AIDS” (KPA) kabupaten setempat, Guntur Yana Hidayat.

Sedangkan kelompok usia yang terinsfeksi HIV/AIDS ini, mulai berusia dibawah satu tahun hingga 59 tahun, ungkap Denden Supresiana.

Diingatkannya pula, sangat diperlukannya pemahaman masyarakat secara menyeluruh dan benar tentang HIV/AIDS, serta “Insfeksi Menular Seksual” (IMS), termasuk dapat memahami bisa menular, dan bagaimana cara penularannya.

Karena itu, periksa kesehatan dini, jika terinsfeksi segera menempuh tindakan kuratif dan rehabilitatif untuk menjalani proses pengobatan, guna memenuhi target zero insfeksi baru, zero penularan akibat AIDS, serta zero stigma dan diskriminasi.

Diperlukan pula upaya instrosfeksi dengan memahami secara definisi keilmuan, seperti halnya LGBT bisa merupakan korban pola asuh keluarga yang keliru, korban pembiaran, serta indikasi korban regulasi. ********

“Inilah Perkembangan Sepuluh Tahun Terakhir”

Ilustrasi. (Repro. Fotografer : John Doddy Hidayat).

Selama rentang waktu 2007 hingga 2017 sebanyak 603 penduduk di Kabupaten Garut, Jawa Barat, terinsfeksi HIV/AIDS, terdapat 78 di antaranya kasus baru berhasil ditemukan yang didominasi usia produktif, dengan 59 kasus di antaranya HIV Positif akibat LSL.

Dari temuan 78 kasus baru HIV/AIDS sejak Januari hingga Desember 2017 tersebut, juga terdapat 17 kasus AIDS. Serta 57 kasus IMS positif, dan tiga penderita meninggal dunia, ungkap Pengelola Program “Komisi Penanggulangan AIDS”(KPA) Kabupaten Garut, Guntur Yana Hidayat.

Dikemukakan, kini penularan HIV/ AIDS di kabupatennya mengalami pergeseran yang sebelumnya penularan melalui pengguna narkoba suntik terinfeksi HIV yang digunakan secara bersamaan.

“Sekarang penularan berubah melalui pasangan suami istri beresiko, serta kelompok ‘laki sex laki’ (LSL),” ungkap Guntur Yana Hidayat kepada Garut News, Jum’at ( 12/01 – 2018 ).

Lantaran HIV/AIDS merupakan fenomena “gunung es”, sehingga kasus terdata hanya cerminan sedikit kasus yang sebenarnya ada di masyarakat.

Karena itu, secara teoritis adanya satu kasus HIV dan AIDS yang terdeteksi, maka kasus yang sebenarnya ada di masyarakat bisa mencapai 100 kasus.

Kemudian berdasar jenis kelamin, kasus HIV didominasi laki-laki mencapai 59 kasus, kata dia.

“Tingginya angka kasus HIV positif pada laki-laki lebih didasarkan banyak penemuan kelompok LSL,” tandasnya.

Hasil tes HIV positif pun menunjukan, lebih didominasi jenis laki-laki (84%) pada umur produktif (usia 25-49 th).

Tingginya aktifitas seksual LSL disinyalir sebagai faktor transmisi virus HIV tersebut, ungkap Guntur Yana Hidayat pula.

Berdasar jenis kelamin, pada 2017 kasus HIV didominasi laki-laki sebanyak 59 kasus dan 19 kasus perempuan. Tingginya angka kasus HIV positif pada laki-laki lebih didasarkan banyak penemuan kelompok LSL.

Sehingga semakin kuat mengindikasikan merebak – maraknya perilaku “Lesbian, Gay, Biseksual, dan  Transgender” (LGBT) bisa kian mengancam warga  Kabupaten Garut, yang selama ini dikenal agamis.

Lantaran keberadaan LGBT di kabupaten tersebut juga ditengarai sangat mengkhawatirkan apalagi jika tak segera dilakukan penanggulangan, maka tak mustahil ke depan kabupaten kerap dijuluki kota santri dan gudangnya ulama berpopulasi sekitar 2.588.839 penduduk, bakal berubah menjadi lautan LGBT.

Pengelola Program KPA, Guntur Yana Hidayat mengingatkan, berdasar estimasi Kemenkes RI pada 2012 lalu pun, jumlah komunitas Gay di seluruh wilayahnya mencapai sekitar 12.000 penduduk, dan waria sekitar 135 orang.

Sedangkan hasil pemetaan KPA pada 2015 diketahui di Kabupaten Garut terdapat sekitar 109 hotspot atau tempat nongkrong komunitas Gay, dengan jumlah gay terdata sekitar 3.200 orang.

“Dari sekian banyak komunitas gay, dan waria itu, tercatat ada sebanyak 25 orang gay, dan 11 orang waria positif terinsfeksi HIV,“ ungkap Guntur.

Sedangkan keberadaan komunitas lesbi, hotspotnya belum diketahui. Lantaran KPA tak melakukan intervensi kepada komunitas lesbi, sebab belum ditemukan risiko penularan HIV/AIDS pada komunitas itu.

Sedangkan penyebab perilaku LGBT pada individu atau masyarakat dipastikan beragam. Di antaranya menyangkut pola hidup, pergaulan, kondisi ekonomi, dampak korban kekerasan semasa kecil, dan hormon bawaan sejak lahir.

Juga terutama didorong adanya skenario internasional mendukung eksisnya LGBT seperti melalui pengenalan cara berpacaran, rekruitmen pekerja, dan investasi.

Sehingga LGBT tak hanya bisa mengancam kehidupan pribadi dan sosial, melainkan pula kehidupan bernegara dan berbangsa. LGBT pun tak sekadar isu lokal melainkan internasional dengan ragam kepentingan.

Karena itu masalah LGBT tak bisa ditangani satu pihak melainkan menjadi tugas semua orang dengan pemerintah.

“Permasalahan LGBT tak bisa hanya ditanggulangi KPA, tetapi membutuhkan banyak mitra untuk menyosialisasikannya. Dengan beragam fasilitas serba canggih di zaman now, jika LGBT dibiarkan maka suatu saat, Garut bakal menjadi lautan LGBT,” imbuhnya pula kembali mengingatkan.

Hingga 2018 ini populasi Gay di Kabupaten Garut, bisa mencapai sekitar 6.000 an penduduk, sedangkan transgender (waria) yang aktif berkisar 80 hingga 112 orang.

Hotspotnya pun diperkirakan semakin menyebar pada 42 wilayah kecamatan, malahan hingga ke pelosok, yang didominasi usia produktif berkisar 25 hingga 30 tahun.

Upaya penanggulangan paling efektif, sedini mungkin dilakukan pencegahan sejak putra – putri Bangsa Indonesia di Kabupaten Garut ini masih berusia “Sekolah Dasar” (SD).

Diperoleh informasi, KPA Jawa Barat mencatat sekitar 44.677 orang termasuk populasi LSL tersebar pada 27 kota/kabupaten.

Dengan estimasi populasi LSL dicatat Kemenkes RI pada 2016 di Jabar sekitar 138.606 orang. ******** Pelbagai Sumber.

Perkembangan HIV/AIDS di Kabupaten Garut, Jawa Barat, selama sepuluh tahun terakhir menunjukan tren peningkatan, yang setiap tahun rata-rata ditemukan sedikitnya 58 kasus baru penduduk setempat terinsfeksi jenis penyakit tersebut.

Fenomena gunung es itu, berawal pada 2007 ada 21 Warga Garut terinsfeksi HIV/AIDS, kemudian menjadi 46 kasus pada 2008 atau terdapat 25 temuan kasus baru,  ungkap Guntur Yana Hidayat.

Disusul pada 2009 menjadi 82 kasus HIV/AIDS lantaran ditemukannya 36 kasus baru, selanjutnya 2010 ada 130 kasus HIV/AIDS dengan ditemukannya 48 kasus baru, sedangkan 2011 menjadi 152 kasus HIV/AIDS sebab ditemukan 22 kasus baru.

Pada 2012 juga terus bertambah menjadi 201 Penduduk Garut terinsfeksi HIV/AIDS dengan ditemukannya 49 kasus baru.

Temuan kasus baru terbanyak mencapai 149 sehingga pada 2013 terdapat 350 warga kabupaten Garut yang terinsfeksi HIV/AIDS.

Ditemukan pula 54 kasus baru yang menjadikan 2014 ada 404 penduduk terinsfeksi HIV/AIDS, disusul pada 2015 menjadi 438 kasus akibat penambahan 34 kasus baru.

Kemudian pada 2016 semakin membengkak jumlahnya menjadi 525 kasus HIV/AIDS karena terdapat penambahan temuan 87 kasus baru, selanjutnya pada 2017 silam terus bertambah pula menjadi 603 kasus HIV/AIDS dengan ditemukannya 78 kasus baru HIV/AIDS.

Juga terdapat 17 kasus AIDS, 57 IMS dan jumlah penderita meninggal sebanyak tiga orang. Sedangkan yang terapi ARV (Anti Retro Viral) 220 (RS TNI Guntur) dan 4 orang (BBKPM Garut).

********* Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.

26 Kalangan di Jabar Terinsfeksi 39.675 Kasus HIV/AIDS

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

“Keutuhan NKRI Terancam Penyalahgunaan Narkoba, dan HIV/AIDS”

Garut News ( Senin, 25/12 – 2017 ).

Oleh : John Doddy Hidayat

Sedikitnya terdapat 26 kalangan penduduk Provinsi Jawa Barat yang terinsfeksi 39.675 HIV/AIDS, dengan jumlah populasinya sejak 1989 hingga September 2017 mencapai 8.925 kasus AIDS, serta 30.770 kasus HIV.

Bahkan sejak Januari hingga September 2017, dari 1.973 anak Tes HIV terdapat 78 anak di antaranya HIV Positif, sehingga Positif Rate nya 0,03 persen.

Sedikitnya terdapat 26 kalangan penduduk Provinsi Jawa Barat yang terinsfeksi 39.675 HIV/AIDS, dengan jumlah populasinya sejak 1989 hingga September 2017 mencapai 8.925 kasus AIDS, serta 30.770 kasus HIV.

Ilustrasi. (Repro. Fotografer : John Doddy Hidayat).

Mereka terdiri 67,3 persen laki-laki, 32,2 persen perempuan, dan 0,35 persen masih belum diketahui.

Fenomena gunung es tersebut, diketahui berdasar data Dinkes Jabar menunjukan, dari 8.925 kasus AIDS ini terdiri kalangan Tidak Bekerja paling banyak terinsfeksi 1.814 kasus, Wiraswata (1.310 kasus), Ibu Rumah Tangga (1.167 kasus), Tidak Diketahui (1.157 kasus).

Kemudian TNP/Karyawan (1.154 kasus), Swasta (546 kasus), Wanita Pekerja Seks (509 kasus), Buruh (346 kasus), Mahasiswa/Siswa (256 kasus), Sopir (126 kasus), PNS (118 kasus), Narapidana (92 kasus), Petani (50 kasus), Lain-lain (14 kasus), TNI (30 kasus).

Sedangkan Tenaga Profesional/Non Medis terinsfeksi 29 kasus AIDS, Pedagang (23 kasus), Tenaga Non Profesional (22 kasus), Pelaut/ABK (21 kasus), TKI/TKW (19 kasus), Tenaga Profesional/Medis (16 kasus), Seniman (15 kasus), Pria Pekerja Seks (11 kasus).

Ilustrasi. (Repro. Fotografer : John Doddy Hidayat).

Selanjutnya Pemilik/Pengelola Salon terinsfeksi 11 kasus AIDS, Skurity/Satpam (10 kasus), serta Polri terinsfeksi lima kasus AIDS.

Mereka berusia produktif masing – masing berkisar 20 – 29 tahun (42,5 persen), serta berkisar 30 – 39 tahun (37,6 persen).

Dengan kelompok risikonya meliputi Nafza Suntik (37,4 persen), Tatto (0,1 persen), Transfusi Darah (0,2 persen), Heterosex (45,1 persen), Perinatal/Anak (3,9 persen), Bisex/Homosex (8,6 persen), serta Tak Diketahui (4,6 persen).

“Bisa Merontokan Ekonomi”

Orientasi seksual antara lain berupa homoseksual dan biseksual selain dapat merontokan kondisi ekonomi keluarga berisiko terinsfeksi HIV/AIDS, juga bakal banyak menyedot anggaran negara dalam proses pengadaan obat Antiretroviral (ARV), yang ternyata hanya bisa menekan laju perkembangbiakan HIV di dalam darah.

Lantaran orientasi seksual itu, sangat berisiko terinsfeksi HIV/AIDS. Menyusul homoseksual (Gay ; Laki-laki ke laki-laki, dan perempuan ke perempuan yang banyak di antaranya memiliki faktor resiko akibat penggunaan jarum suntik/penasun).

Kemudian biseksual (laki-laki ke perempuan dan laki-laki ke laki-laki, serta perempuan ke laki-laki dan perempuan ke perempuan).

Ilustrasi. (Fotografer: John Doddy Hidayat).

Sedangkan harga Obat ARV, pada Lini pertama Rp300.000 – Rp350.000 per bulan, disusul Lini kedua Rp1 juta – Rp1,2 juta per bulan, serta Lini ketiga 3.000 dollar AS (Rp 37,97 juta) per tahun.

Maka jika seorang ayah tertular HIV, kemudian sampai masa AIDS dan mengidap penyakit terkait HIV/AIDS: maka dampak yang dialami yaitu besarnya pengeluaran biaya pengobatan, serta perawatan.

Malahan pada kondisi kepala keluarga itu tidak bisa bekerja, dipastikan menjadikan istri beserta anak-anak dengan beratnya beban ekonomi keluarga, harus pula sekaligus mengurus ayah.

Karena itu pula, berpola hidup sehat termasuk tidak berperilaku yang berisiko terinsfeksi HIV/AIDS, merupakan upaya pencegahan lebih baik daripada pengobatan.

Orientasi seksual lainnya, heterokseks, Parafilia, Infantofilia, Paedofilia, Necrofilia, Bestialis, dan Fethihisme.

Sehingga Keutuhan NKRI juga bisa terancam penyalahgunaan peredaran gelap Narkoba, dan HIV/AIDS.

********

Sumber : Intisari presentasi pada pertemuan peningkatan kapasitas jurnalis dalam program “Pencegahan dan Penanggulangan HIV” (P2HIV) di Karang Setra Bandung, Kamis (21/12-2017).