544 Korban Pergeseran Tanah Cisompet Garut Terabaikan

0
60 views
Sumpena (tengah) Beserta Korban Sekaligus Pengurus.

“Para Korban Sangat Lelah Bergumul Dengan Rawan Bencana”

Garut News ( Kamis, 07/12 – 2017 ).

Sumpena (Tengah) Beserta Korban Sekaligus Pengurus.

Sedikitnya 554 penduduk atau 171 kepala keluarga (KK) korban bencana pergeseran maupun pergerakan tanah di Desa Sindangsari Kecamatan Cisompet Garut, Jawa Barat, mengaku semakin kerap terabaikan. Bahkan kian mengesankan diabaikan.

Lantaran sejak terjadinya puncak bencana, 19 Februari 2016 tersebut hingga kini nyaris menjelang dua tahun peristiwa itu berlalu, ternyata masih belum jelasnya Pemkab Garut mulai merealisasikan relokasi seluruh korban ke lokasi aman, direkomendasikan PVMBG.

Demikian tandas dikemukakan Ketua Pengurus Posko Bencana ini, Sumpena serta disampaikan Ketua Kelompok Sindangsari 11, Supendi kepada Garut News, Kamis (07/12-2017).

Warga Kampung Selaawi Terpaksa Masih Menempati Rumah Berkondisi Nyaris Rubuh Lantaran Pergerakan Tanah.

Mereka katakan, selama ini terbentuk 17 kelompok masyarakat pada enam lingkungan RT pada tiga kampung dilanda bencana pergerakan tanah itu, masing-masing kelompok mengkoordinir pembangunan rumah korban di lokasi relokasi di Kampung Benjang.

Lokasi relokasi yang masih terletak di Desa Sindangsari ini, terhampar pada areal seluas 12.540 m2, dengan alokasi biaya pembebasan tanahnya bersumber APBD Garut bernilai sekitar Rp1,2 miliar.

Tetapi yang tuntas proses pelunasan pembebasan tanahnya sampai sekarang seluas 9.140 m2, sehingga tanah yang belum tuntas terlunasi mencapai 3.400 m2. Katanya mau dilunasi dengan sumber dana Perubahan APBD 2017 ini.

Sedangkan seluruh korban bencana saat ini semakin mendesak bisa segera direlokasi, meski nilai bantuan pengadaan “bahan bangunan rumah” (BBR) bersumber dana dari Kemensos RI hanya Rp10 juta untuk setiap unit rumah.

Padahal berdasar perhitungan kebutuhan biaya yang dirancang institusi teknis terkait mencapai Rp108 juta untuk setiap rumah tipe 36, ungkap Sumpena.

Karena itu, para korban sangat mengharapkan budi baik Pemkab Garut maupun Pemprov Jabar, bisa memberikan tambahan bantuan guna memenuhi kebutuhan pembangunan seluruh rumah korban bencana, imbuhnya.

Lantaran meski tersedia sarana pengungsian, antara lain dilengkapi dua unit MCK, dan satu masjid. Namun kini hanya bisa dihuni oleh 100 an KK pengungsi akibat berkondisi darurat, selebihnya para korban kembali ke lokasi bencana dengan kondisi semakin rawan pergerakan tanah, malahan banyak lokasi amblas.

Kepala Urusan Kantor Desa Sindangsari, Jajang Setiawan menyatakan sangat memprihatinkan kondisi yang kini dialami para korban bencana tersebut.

Mereka semakin sangat lelah bergumul dengan lingkungan rawan pergerakan tanah, juga diperparah ketidak sigapan yang dikesankan instritusi teknis terkait untuk segera merelokasikan para korban.

Apalagi jika berlangsung hujan deras, terutama di malam hari. Mereka merasa semakin dihantui ketakutan luar biasa, bisa terjadinya bencana susulan.

Saat inipun terdapat para akhli waris korban yang juga memprihatinkan kondisinya, menyusul ada 13 korban meninggal dunia akibat lanjut usia, serta disebabkan sakit.

Sedangkan lokasi bencana sejauh 60 km lebih dari arah selatan pusat Kota Garut, empat pengurus yang memproses rekomendasi untuk pencairan bantuan Kemensos RI ke Kantor Dinsos Garut pun, menelan ongkos transfortasi dan akomodasi mencapai Rp620 ribu.

Para korban bencana selama ini mendapat bantuan beras 19 kilogram setiap KK dari Dinsos Garut, namun pengirimannya hanya temporer.

*******

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.