Selamat Datang Ramadlan

0
15 views
Bersama Melantunkan Ayat Suc i Al Qur'an Dengfan Khusu Menyambut Datangnya Ramadlan 1439 H/2018
Bersama Melantunkan Ayat Suci Al Qur’an Dengan Khusu Menyambut Datangnya Ramadlan 1439 H/2018

Selamat datang Ramadhan
Selamat datang Ramadhan

Selamat datang Ramadhan
Selamat datang Ramadhan

Menangkanlah rukun ketiga
Menangkanlah perang yang besar
Menangkanlah jihad yang akbar

Berhimpunlah di Padang Do’a
Tarawih, zikir dan itiqaf
Petik bunga-bunga ibadah

Bertaburan nikmat karunia Illahi
Sepanjang bulan Ramadhan
dan Malam Seribu Bulan

Marhaban ya Ramadhan
Marhaban, Marhaban, Ramadhan
Marhaban ya Ramadhan
Marhaban, Marhaban, Ramadhan

Bergemalah suara takbir
Bersahutan di malam akhir
Menyambut jiwa-jiwa yang fitri

(Lirik Lagu dari BIMBO)

********

Marhaban ya Ramadhan (Selamat datang Ramadhan), kita menyambutnya dengan lapang penuh kegembiraan; tidak dengan menggerutu dan menganggap kehadirannya “mengganggu ketenangan’ atau suasana nyaman kita.

Marhaban ya Ramadhan, kita ucapkan untuk bulan suci itu, karena mengharapkan agar jiwa raga diasah, dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah SWT.

Memaknai Keluruhan Nilai Berpuasa Ramadlan.

Ada gunung tinggi harus ditelusuri guna menemui-Nya itulah nafsu. Di gunung itu ada lereng curam, belukar lebat, bahkan banyak perampok mengancam, serta iblis merayu, agar perjalanan tidak dilanjutkan. Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan.

Tetapi, apabila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu, akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan. tampak tempat-tempat indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jemih untuk melepaskan dahaga. Dan jika perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya, Allah SWT. Demikian kurang lebih perjalanan itu dilukiskan dalam buku Madarii As-Salikin.

Penduduk Perum Citra Jaya Sentosa Garut, Menyambut Datangnya Ramadlan.

Tentu kita perlu memersiapkan bekal guna menelusuri jalan itu. Tahukah Anda apakah bekal itu? Benih-benih kebajikan yang harus kita tabur di lahan jiwa kita. Tekad yang membaja untuk memerangi nafsu. Agar kita mampu menghidupkan malam Rarnadhan dengan shalat dan tadarus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama, bangsa dan negara. Semoga kita berhasil dan untuk itu mari kita buka lembaran Al-Quran untuk dipelajari bagaimana tuntunannya.

Puasa Menurut Al-Quran

Al-Quran menggunakan kata shiyam delapan kali, kesemuanya dalam arti puasa menurut pengertian hukum syariat. Al-Quran juga menggunakan kata shaum, tetapi maknanya menahan diri untuk tidak berbicara: Sesungguhnya Aku bernazar puasa (shauman), maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang manusian pun (QS Maryam [19]: 26).

Demikian ucapan Maryam a.s. yang diajarkan malaikat Jibril ketika ada memertanyakan tentang kelahiran anaknya (Isa a.s.). Kata ini juga terdapat masing-masing sekali dalam bentuk perintah berpuasa di bulan Ramadhan. Sekali dalam bentuk kata kerja menyatakan “berpuasa adalah baik untuk kamu”, dan sekali menunjuk kepada pelaku- pelaku puasa pria dan wanita. yaitu ash-shaimin wash-shaimat.

H. Agus Mahin.

Kata-kata yang beraneka bentuk itu, kesemuanya terambil dari akar kata sama sha-wa-ma dari segi bahasa maknanya berkisar pada “menahan” dan “berhenti” atau “tidak bergerak”. Kuda yang berhenti berjalan dinamai faras shaim. Manusia yang berupaya menahan diri dari satu aktivitas-apa pun aktivitas itu dinamai shaim (berpuasa).

Pengertian kebahasaan ini, dipersempit maknanya oleh hukum syariat, sehingga shiyam hanya digunakan untuk “menahan diri dari makan, minum, dan upaya mengeluarkan sperma dari terbitnya fajar hingga terbenarnnya matahari”.

Ketua RW. 14 Kelurahan Jayawaras.

Kaum sufi, merujuk ke hakikat dan tujuan puasa, menambahkan kegiatan yang harus dibatasi selama melakukan puasa. lni mencakup pembatasan atas seluruh anggota tubuh bahkan hati dan pikiran dari melakukan segala macam dosa.

Betapa pun, shiyam atau shaum-bagi manusia-pada hakikatnya menahan atau mengendalikan diri. Karena itu pula puasa dipersamakan dengan sikap sabar, dari segi pengertian bahasa (keduanya berarti menahan diri) maupun esensi kesabaran dan puasa.

Hadits qudsi menyatakan antara lain, “Puasa untuk-Ku, dan Aku yang memberinya ganjaran” dipersamakan oleh banyak ulama dengan firman-Nya dalam surat Az-Zumar (39): 10.

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”

Orang sabar yang dimaksud di sini adalah orang yang berpuasa.

Dalam rangkaian ayat-ayat yang berbicara tentang puasa, Allah menjelaskan bahwa Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan. Dan pada ayat lain dinyatakannya bahwa Al-Quran pada malarn Qadar,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada Lailat Al-Qadr.”

Ini berarti bahwa di bulan Ramadhan terdapat malam Qadar yang menurut Al-Quran lebih baik dari seribu bulan. Para malaikat dan Ruh (Jibril) silih berganti turun seizin Tuhan dan kedamaian akan terasa hingga terbitnya fajar.

Dalam rangkaian ayat-ayat puasa Ramadhan disisipkan ayat mengandung pesan tentang kedekatan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya serta janji-Nya untuk mengabulkan siapa pun yang dengan tulus berdoa.

Dari hadits-hadits Nabi SAW diperoleh pula penjelasan tentang kestimewaan bulan suci ini. Namun seandainya tidak ada keistimewaan bagi Ramadhan kecuali Lailatul Al-Qadr, maka hal ini pada hakikatnya telah cukup untuk membahagiakan manusia.

********

Pelbagai Sumber,

Fotografer : John Doddy Hidayat.