Gerhana: Spiritualisasi dan Saintifikasi

0
34 views
Bulan purnama memasuki bayangan penumbra menjelang gerhana tampak di Pegunungan Alpen, Swiss. (Foto: Anthony Anex/AP).

Selasa 30 Januari 2018 05:05 WIB
Red: Elba Damhuri

“Gerhana baik bulan dan matahari terjadi tidak hanya alamiah tetapi juga ilmiah”

Bulan purnama memasuki bayangan penumbra menjelang gerhana tampak di Pegunungan Alpen, Swiss. (Foto: Anthony Anex/AP).

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Muhbib Abdul Wahab, Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah dan UMJ

Peristiwa gerhana, baik matahari maupun bulan, merupakan salah satu fenomena alam yang terjadi karena takdir kekuasaan dan kemahabesaran Allah SWT.

Pada Rabu malam, 31 Januari 2018 bertepatan dengan 14 Jumadil awal 1439 H, seluruh wilayah Indonesia akan mengalami gerhana bulan total (khusuf kulli). Gerhana bulan sebagian (khusuf juz’i) dimulai pada pukul 18.48 WIB. Sedangkan gerhana total mulai pada pukul 19.52 dan berakhir pada pukul 21.11 WIB.

Gerhana bulan terjadi karena posisi bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus yang sama, sehingga sinar matahari tidak dapat mencapai bulan karena terhalangi oleh bumi.

Gerhana bulan terjadi saat sebagian atau keseluruhan penampang (piringan) bulan tertutup bayangan bumi. Dalam merespons gerhana, Islam memberikan ajaran yang jelas dan multidimensi, yaitu spiritualisasi, saintifikasi, sekaligus demitologisasi.

Pada masa Nabi Muhammad SAW masih hidup, gerhana matahari pernah terjadi sebanyak tiga kali, sedangkan gerhana bulan terjadi lima kali. Dalam konteks ini, Nabi SAW mensyariatkan pelaksanaan shalat gerhana sebagai bentuk spiritualisasi.

Artinya, peristiwa gerhana dimaknai sebagai sarana dan media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui ibadah shalat khusuf.

Ini merupakan shalat sunah dua rakaat, dengan empat kali membaca surah al-Fatihah plus surat atau ayat-ayat yang panjang, empat kali rukuk yang lama, dan empat kali sujud, berzikir, berdoa, dan bersedekah.

Demitologisasi

Peristiwa gerhana bagi sebagian masyarakat kerap dikaitkan dengan mitos-mitos tertentu yang beredar luas dan dipercayai sebagian orang. Misalnya saja, sebagian masyarakat Cina mempercayai, gerhana terjadi karena seekor naga langit membanjiri sungai dengan darah, kemudian menelannya.

Sebagian masyarakat Jepang percaya gerhana terjadi karena ada racun yang disebarluaskan di muka bumi. Agar air tidak terkontaminasi racun, orang-orang menutupi sumur mereka.

Di sebagian masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, ada yang beranggapan, gerhana bulan terjadi karena Batara Kala atau raksasa jahat ‘memangsa’ bulan. Mereka kemudian memukul kentongan secara beramai-ramai saat terjadi gerhana untuk menakut-nakuti dan mengusir Batara Kala.

Mitos yang berkembang di kalangan masyarakat Arab saat itu, khususnya suku Quraisy adalah peristiwa gerhana bulan dikaitkan dengan adanya kematian atau kelahiran seseorang.

Saat terjadi gerhana, putra Nabi SAW yang bernama Ibrahim meninggal dunia, sehingga sebagian orang Arab mengaitkan gerhana bulan dengan kematian anak beliau. Padahal tidak ada korelasinya dengan kematian seseorang.

Dengan kata lain, peristiwa gerhana sarat dengan mitologi yang bertentangan dengan akidah Islam dan kontraproduktif. Mitos-mitos tersebut jelas tidak berdasar dan tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.

Karena itu, ketika menyampaikan orasi (khotbah) setelah selesai shalat gerhana, Nabi SAW menegaskan, “Sesungguhnya matahari dan bulan itu dua tanda dari banyak tanda kebesaran dan kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana matahari dan bulan bukan karena hidup atau matinya seseorang. Karena itu, apabila kalian melihatnya (gerhana), berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, laksanakanlah shalat gerhana, dan bersedekahlah.’’ (HR Muttafaq ‘alaih).

Penegasan Nabi SAW dalam hadis tersebut merupakan respons sekaligus pesan demitologisasi, yaitu negasi mitologi-mitologi yang tidak jelas asal usul dan sumbernya yang menghantui kepercayaan masyarakat. Demitologisasi dimaksudkan agar masyarakat Muslim melihat fenomena gerhana secara saintifik atau dengan pendekatan ilmiah.

Demitologisasi tersebut bertujuan membebaskan masyarakat dari pemikiran mistis (tafkir usthuri), pemikiran yang terbelenggu mitos-mitos tidak rasional dan ahistoris menuju pemikiran ilmiah, akademik, dan saintifik.

Saintifikasi dan spiritualisasi

Demitologisasi terhadap peristiwa gerhana sangat penting dilakukan agar umat beragama memiliki pemikiran kritis, ilmiah, dan modern, sehingga tidak terjebak dalam minda negatif yang penuh dengan unsur takhayul dan khurafat, musuh kemajuan sains dan teknologi.

Demitologi yang ditegaskan Nabi SAW tersebut mengharuskan umat Islam melakukan saintifikasi terhadap fenomena alam dengan melakukan observasi gerhana, riset, dan pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya astronomi.

Gerakan saintifikasi dan literasi merupakan elan vital dan roh kemajuan sains dan teknologi. Saintifikasi dalam sistem pendidikan Islam menghendaki keterbukaan minda dan pemikiran dengan menjadikan alam semesta sebagai ‘laboratorium besar’, untuk riset dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Gerhana sebagai salah satu ayat Allah yang ditunjukkan di alam raya ini tidak sekadar peristiwa alamiah, tetapi juga peristiwa ilmiah yang menarik diobservasi, dicermati, dan diteliti secara saintifik.

Anjuran shalat sunah gerhana yang diteladankan Nabi SAW juga mengandung pesan bahwa keagungan dan kekuasaan Allah SWT berupa gerhana bulan, mengharuskan umat memiliki paradigma holistik integratif dalam memaknai ayat semesta.

Paradigma holistik integratif terebut harus diwujudkan dengan “pengilmuan” (saintifikasi dan nalar ayat-ayat semesta) astronomi berbasis riset di satu segi dan di segi lain spiritualisasi peristiwa alam dengan shalat gerhana, memperbanyak zikir dan berdoa.

Integrasi saintifikasi dan spiritualisasi dalam mempelajari, meneliti, dan memaknai ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat Quraniyah merupakan kunci utama kemajuan pendidikan dan peradaban Islam.

Optimalisasi fungsi akal budi dan hati nurani dalam menalar dan memaknai ayat-ayat semesta serta ayat-ayat kitabiyah tidak hanya berfungsi demitologisasi, tetapi juga dapat mendinamisasi gerakan literasi ilmu dan aktualisasi spiritualitas umat serta bangsa.

Saintifikasi dan spiritualisasi kehidupan, pendidikan, keilmuan, dan pembangunan peradaban merupakan keniscayaan, apabila umat dan bangsa ini memiliki komitmen kuat dan perjuangan hebat demi masa depan berkemajuan, bermartabat, adil dan makmur, sejahtera lahir dan batin, bahagia dunia dan akhirat. Semoga!

********

Republika.co.id