40 Persen Ibu Hamil di Garut Anemia

0
221 views

Garut News ( Selasa, 10/03 – 2015 ).

Iwan Suhendar. (Foto : John Doddy Hidayat).
Iwan Suhendar. (Foto : John Doddy Hidayat).

Hingga kini, salah satu penyebab masih tingginya angka kematian ibu melahirkan (AKI) di Kabupaten Garut masih tingginya kasus pendarahan saat persalinan. Satunya akibat ibu hamil menderita anemia atawa kekurangan darah.

Dinkes kabupaten setempat mencatat, sekitar 40 persen ibu hamil diketahui menderita anemia. Sehingga memerlukan intervesi agar kondisinya sehat, dan tak mengalami kekurangan darah sewaktu melahirkan.

Kabid Kesehatan Keluarga Dinkes, Iwan Suhendar katakan, kasus kematian ibu melahirkan di Garut sepanjang 2014 mencapai 45 kasus.

Angka tersebut meningkat dibandingkan 2013 (37 kasus), katanya.

Angka kematian ibu melahirkan itu dinilai fluktuatif. Lantaran pada 2009 terdapat 43 kasus, kemudian turun menjadi 34 kasus pada 2010.

Naik lagi menjadi 45 kasus pada 2011, dan turun drastis pada 2012 menjadi 28 kasus. Pada 2013 kembali naik menjadi 37 kasus, dan 2014 juga naik menjadi 45 kasus, ungkap Iwan, Selasa (10/03-2015).

Dikemukakan, selain pendarahan, penyebab timbulnya kasus kematian ibu melahirkan terjadi eklamasi atawa hipertensi kehamilan, infeksi, dan lainnya.

Terdapat juga penyebab tak langsung, terlambat memutuskan, terlambat merujuk, dan terlambat penanganan atau 3T, serta terlalu banyak melahirkan, terlalu muda melahirkan, terlalu tua melahirkan, dan terlalu sering maupun pendek jarak melahirkan, atau 4T.

Maka, pemeriksaan kehamilan sangat penting agar bisa mengantisipasi hal-hal bisa menyulitkan persalinan.

Ibu hamil wajib memeriksakan kehamilannya minimal empat kali dalam satu kali kehamilan, imbuhnya.

Didesak pertanyaan penyebab banyaknya ibu hamil mengalami anemia, dia mengaku belum mengetahuinya.

Upaya mewaspadai tingginya kasus pendarahan sewaktu persalinan, Dinkes Garut pun melakukan beragam langkah intervensi, dan pencegahan.

Di antaranya menggelar program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dengan memasang stiker pada setiap rumah ibu hamil agar setiap orang memiliki kepedulian.

Pada stiker itu sendiri termuat identitas ibu hamil, tempat akan melahirkan, mobil akan disiapkan, serta siapa calon donor darah disiapkan.

Dilakukan juga deteksi dini kondisi kesehatan para calon ibu dengan melaksanakan survei terhadap remaja pelajar putri tingkat SMA pada 2014 lalu.

Hasilnya cukup mencengangkan. Sekitar 38% remaja putri diketahui menderita anemia. Nyaris sama dengan persentase ibu hamil penderita anemia.

Kita belum bisa menyimpulkan. Tetapi bisa jadi ini berkaitan banyaknya ibu hamil yang anemia. Hanya yang jelas, remaja putri ini kan calon ibu, dan kemungkinan ada pola makan salah sehingga mereka anemia.

Kebanyakan remaja sekarang menyukai fast food, kurang mengonsumsi makanan berzat besi banyak terkandung dalam sayuran hijau, tutur Iwan.

Selain anemia, kata Iwan, sekitar 13% ibu hamil di Garut juga diketahui kekurangan energi kronik (KEK). Ibu hamil mengalami kekurangan energi protein dalam waktu lama.

Kondisi itu diduga kuat mendorong tingginya kasus kematian bayi di Garut mencapai 217 kasus pada 2014.

Sebanyak 203 bayi berusia 0-1 tahun, dan 14 bayi lainnya berusia 0-28 hari.

Penyebab kematian bayi ini kebanyakan lantaran berat bayi lahir rendah. Artinya, bayi dilahirkan ibu tak sehat.

Bisa anemia, KEK, atawa ada penyakit penyerta menyebabkan terganggunya penyerapan asupan makanan.

Hanya, indikator paling mudah ibu hamil tak sehat bisa dilihat pada lingkar lengan atas kurang dari 28 centimeter, kata Iwan.

*******

Noel, Jdh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here