4.805 Penduduk Garut Gangguan Jiwa Tertinggi Jabar

0
64 views

Garut News ( Jum’at, 28/11 – 2014 ).

Foto : John Doddy Hidayat.
Foto : John Doddy Hidayat.

Diagendakan mulai 2015 mendatang, Puskesmas di Kabupaten Garut, Jawa Barat, bakal  memiliki jasa layanan bagi pasien “orang dengan gangguan jiwa” (ODGJ).

Sebagai upaya menanggulangi tingginya kasus pasien gangguan jiwa di kabupaten tersebut. Bahkan RSUD dr Slamet juga akan dilengkapi minimal satu unit rurang perawatan khusus pasien ODGJ.

Wakil Bupati Helmi Budiman katakan, dalam jangka pendek setidaknya 65 puskesmas memiliki jasa layanan itu.

“Sedangkan rumah sakit kudu memiliki satu ruang perawatan gangguan jiwa,” ungkap Helmi pada rapat kerja dengan Komisi D DPRD setempat, Jumat (28/11-2014).

Selain itu, katanya pelbagai langkah lain juga disiapkan. Termasuk pelatihan tenaga dokter dan perawat serta pengadaan obat-obatan. katanya pula.

Dia mengaku kaget kasus ODGJ di Garut lebih tinggi dibandingkan daerah lain di Provinsi Jawa Barat. Padahal Garut memiliki banyak potensi lokal bisa menekan kemungkinan munculnya kasus gangguan jiwa.

“Mestinya, dengan potensi-potensi lokal ini, penyakit kejiwaan di Garut bisa ditekan. Inilah lebih penting. Bagaimana upaya preventif bisa dilakukan mencegah timbulnya kasus gangguan jiwa dengan pelbagai pendekatan. Termasuk pendekatan potensi lokal,” imbuhnya.

Kasus ODGJ di Garut paling menonjol terjadi di Kecamatan Kersamanah berjumlah 152, dan di Kecamatan Cibatu sekitar 56 ODJG.

Menurut Pakar Kejiwaan RSHS Bandung Teddy Hidayat, hingga kini soal kesehatan jiwa masih belum menjadi prioritas perhatian pemerintah.

Anggaran disediakan penanganan kasus kesehatan jiwa pun hanya satu persen dari total anggaran kesehatan.

Sehingga fasilitas layanan kesehatan jiwa tersedia sangat minim.

Saat ini, ungkap Teddy, hanya ada 33 rumah sakit jiwa di 27 provinsi. RSUD menyelenggarakan layanan kesehatan jiwa pun baru 248 dari 500 RSUD.

Dari sebanyak 9.500 Puskesmas yang ada, hanya sekitar 3.359 puskemas menyelenggarakan layanan kesehatan jiwa.

“Padahal tingginya kesenjangan pengobatan gangguan jiwa ini, menyebabkan terjadinya morbiditas mortalitas, kronik, disabilitas, pemasungan, gelsi, kekerasan, bunuh diri, dan kasus lain tak lebih hanya menjadi beban,” ungkap Teddy.

Dikemukakan, berdasar Laporan Hasil “Pemeriksaan Kesehatan Dasar” (Riskesdas) Kemenkes 2013, dari 45,5 juta penduduk Jabar, 72 ribu di antaranya mengalami gangguan jiwa.

Sedangkan jumlah penduduk Garut mengalami gangguan jiwa sekitar 4.805 dari total penduduk sekitar 3.003.004.

*******

Noel, Jdh.