Potensi Vegetasi Bambu Garut Belum Digarap Maksimal

0
32 views

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Selasa, 31/05 – 2016 ).

Berbahan Baku Bambu dari Bungbulang.
Berbahan Baku Bambu dari Bungbulang.

Siapapun mengetahui rumpun tanaman bambu. Lantaran bagi Penduduk Indonesia, tanaman bambu juga merupakan jenis tanaman yang mencirikan budaya etnis setempat.

Menyusul demikian kuatnya keakraban masyarakat terhadap pemanfaatan bambu untuk ragam kebutuhan. Mulai kebutuhan rumah tangga, pertanian, industri, perdagangan, hingga pada kegiatan konservasi lingkungan.

Tanaman konservasi memiliki nilai ekonomi prosfektif tersebut, hingga kini masih relatif mudah ditemukan di hampir setiap seluruh desa di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Bambu.
Bambu.

Tetapi ironis, potensi vegetasi berpotensi besar itu belum tergali dan terberdayakan maksimal. Bahkan sekadar survei potensi sebaran keseluruhan tanaman bambu pun belum pernah dilakukan oleh institusi teknis terkait.

Padahal, hampir seluruh bagian tanaman bambu bisa dimanfaatkan. Mulai dari akar, batang, hingga daun. Malahan sejak tanaman masih muda alias rebung hingga tua. Bahkan tanah sekitar rumpun bambu pun sangat bermanfaat bagi tempat persemaian aneka tanaman.

“Kita belum pernah survei potensi bambu keseluruhan. Padahal kita juga ingin. Survei bambu susah karena tumbuhnya sporadis. Padahal, semestinya memang ada survei potensi agar jelas pengembangannya. Masih banyak PR pemerintah dan swasta dalam memberdayakan masyarakat terkait potensi bambu ini,” ungkap Kabis Pemanfaatan Usaha Hasil Hutan pada Dishut kabupaten setempat, Dadang Wandara, Selasa (31/05-2016).

kata dia, meski sebaran bambu terdapat di semua kecamatan, sentra kerajinan bambu bisa dihitung jari. Ironisnya, tak ada satu pun daerah yang merupakan sentra budidaya penanaman bambu.

Dia mengklaim, upaya budidaya penanaman bambu pernah dilakukan namun pertumbuhannya lama serta hasilnya tak sebagus bambu tumbuh alami.

Berdasar data statistik pada Dishut Garut, total luas tanaman bambu di Garut mencapai sekitar 2.000 hektare. Bambu tersebut antara lain dimanfaatkan sebagai penunjang industri kerajinan sangkar burung, bahan baku kerajinan alat musik tradisional, alat rumah tangga, meubelair, konstruksi bangunan, penyangga tanaman pertanian, dan industri makanan.

Dikatakan, banyak daerah memiliki aktivitas kerajinan bambu. Namun kebanyakan merupakan industri rumahan. Sehingga selain hasil produksi relatif terbatas, keberadaan perajin juga banyak tak terlaporkan.

Terdapat juga sentra kerajinan sangkar burung di Kecamatan Selaawi, dan budidaya bambu hitam di Kecamatan Mekarmukti. Sedangkan di Kecamatan Bungbulang ada kerja sama dengan Saung Angklung Ujo untuk kebutuhan bahan baku angklung.

“Sayangnya, hasil produksinya tak sampai tahap finishing melainkan baru setengah jadi. Sebab finishing maupun pemasarannya dilakukan pengusaha lain di luar Garut. Lebih banyak lagi petani langsung menjual batangan bambunya. Tebang jual untuk bahan baku pembuatan pagar, ajir, atau bangunan,” ungkap Dadang.

Hingga kini, lanjutnya, baru industri pengolahan bambu di Desa Nanjung Jaya Kecamatan Kersamanah bisa terbilang lebih modern sebab serba mekanis, dengan produksi berupa sumpit, tusuk sate, dan tusuk gigi. Bahan baku dihabiskan berproduksi setiap hari mencapai sekitar 600-700 batang bambu besar.

“Hasil kerajinan setengah jadi ini jika diikemas, dan dikelola baik tentu nilai ekonominya lebih tinggi. Budidaya bambu juga bisa saja memunculkan nilai wisata terpadu. Pada sisi lain, mungkin sekarang vegetasi bambu banyak beralih menjadi kayu atau tanaman semusim karena terdesak pelbagai kebutuhan dan kepentingan,” kata Dadang.

********

( nz, jdh ).