30 Persen Penduduk Garut Buang Air Besar Sembarangan

0
84 views
Bertengger Di Bibir Sungai Cimanuk Garut.
“13 TB Meninggal, Terkendala Fasyankes Sangat Rendah, Status Gizi Akut dan Kronis”Esay/Fotografer : John Doddy HidayatGarut News ( Jum’at, 06/10 – 2017 ).

Bertengger Di Bibir Bantaran Sungai Cimanuk Garut.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinkes Kabupaten Garut, Eman Suherman menyatakan hingga kini masih terdapat 30 persen penduduk yang tersebar pada 292 Desa/Kelurahan di seluruh kabupatennya masih “Buang Air Besar Sembarangan” (BABS).

Lantaran dari 442 Desa/Kelurahan di kabupaten itu, baru terdapat 150 Desa/ Kelurahan di antaranya yang telah mendeklarasikan bebas BABS.

Sedangkan dari 292 Desa/Kelurahan tersebut, cakupannya yang bebas BABS mencapai 69 persen lebih, terdapat pula penduduk yang tak memiliki jamban atau septic tank, namun mereka ikut memanfaatkan jamban di rumah tetangga maupun milik saudaranya, kata dia Rabu lalu.

Sehingga katanya pula, bakal terus digalakan pelaksanaan program “Sanitasi Total Berbasis Masyarakat” (STBM), yakni di antaranya Stop BABS, mencuci tangan memakai sabun, dan mengelola sampah rumah tangga.Dikemukakan, Posyandu milik bersama, sampai sekarang pun “Kesehatan Ibu dan Anak” (KIA) cakupannya mencapai 90,91 persen, kegiatan gizi dan imnunisasi cakupannya 95 persen.Disusul kematian ibu saat bersalin pada 2016 mencapai 74 kasus didominbasi penyebab pendarahan, sedangkan di Cirebon hanya satu kasus.

Kemudian kematian ibu pada 2017 hingga Agustus lalu ada 34 kasus, antara lain di Puskesmas Cisurupan. Kematian Bayi selama 2016 mencapai 333 kasus, dan pada 2017 mencapai 205 kasus.

Karena itu diingatkan agar masyarakat menghindari proses pernikahan berusia muda, kondisi gizi di Kabupaten Garut pada 2011 – 2016 juga berstatus akut, dan kronis.

Dari sedikitnya 4.000 Posyandu di kabupaten ini, ada 263 Posyandu Mandiri sedangkan selebihnya didominasi Posyandu Madya.

Padahal keberadaan Posyandu, merupakan salah satu upaya menyelamatkan ibu dan anak, tandas Eman Suherman.

“13 TB Meninggal, Terkendala Fasyankes Sangat Rendah”

Berdasar penemuan kasus TB Baru BTA  (+) Case Detection Rate (CDR) Kabupaten Garut tahun 2012 – 2016, serta Situasi “Program Penanggulangan” (P2 TB) Dinkes kabupaten setempat tahun 2015-2016. Terdapat 52 kasus TB MDR (Multy Drug Resistant/kebal obat TB Ganda), ada 13 kasus meninggal dalam pengobatan.

Hingga kini intensitas kesadaran Penduduk Kabupaten Garut memelihara kesehatan diri dan lingkungan, sehingga tak “Buang Air Besar Sembarangan” atawa “Open Defecation Free” (BABS/ODF) dinilai masih memprihatinkan.

Masing-masing tiga kasus di Wilayah kerja Puskesmas Cilawu, satu kasus (Puskesmas Mekarwangi), dua kasus (Puskesmas Guntur), satu kasus (Puskesmas Haurpanggung), satu kasus (Puskesmas Siliwangi), satu kasus (Puskesmas Sukasenang), dua kasus (Puskesmas Limbangan), satu kasus (Puskesmas Kersamenak), serta satu kasus di Wilayah kerja Puskesmas Citeras.

Selain itu, Pengobatan TB pada Fasyankes Swasta tak menggunakan therapi DOTS yang memungkinkan terjadinya resistensi obat, kemudian tingginya mutasi SDM yang sudah pelatihan Strategi DOTS, beban kerja Wasor TB terlalu berat, jumlah Wasor TB di kab/kota rasionya tak seimbang dengan jumlah fasyankes yg harus dibina.Sedangkan kendala maupun masalah dihadapi selama ini, berupa “fasilitas pelayanan kesehatan” (Fasyankes) RS DOTs masih sangat rendah.

Disusul kendala komitmen pimpinan/manajemen RS belum optimal, dukungan dana daerah rendah, masih tergantung dana hibah (BLN), dukungan LP/LS, organisasi profesi di kabupaten/ kota belum optimal, serta kendala Jejaring Internal dan eksternal belum dilaksanakan dengan baik (rujukan pasien pindah dan pelacakan pasien mangkir).

Karena itu, upaya dilakukan Dinkes Provinsi Jabar dalam pengendalian program P2 TB meliputi pelibatan semua lini organisasi profesi (RS pemerintah dan swasta, dokter praktek swasta, workplace, Lapas, PPTI, PDPI, PAPDI, IDI, IAI).
Ekspansi DOTs secara terus menerus dan berkesinambungan ke RS, klinik/BP, dan DPS, disusul peningkatan dan ketersediaan SDM yang kompeten dalam pengendalian TB.

Diperlukannya penambahan petugas TB (Wasor TB Kab/Kota), penguatan regulasi untuk menjamin mobilisasi dan kontribusi pendanaan daerah dalam pengendalian TB (peran dan tanggungjawab) melalui advokasi, juga penguatan jejaring internal dan eksternal, serta meningkatkan sistem surveilans, sistem RR.

Terdapat 21 kasus masih dalam fase pengobatan, antara lain satu kasus di Wilayah kerja Puskesmas Citeras, lima kasus (Puskesmas Siliwangi), dua kasus (Puskesmas Haurpanggung), dua kasus (Puskesmas Cempaka), satu kasus (Puskesmas Leuwigoong), satu kasus (Puskesmas Lembang).

Dalam pada itu pula, terdapat lima kasus default (gagal) masing-masing satu kasus di Wilayah kerja Puskesmas Siliwangi, satu kasus (Puskesmas Cisurupan), satu kasus (Puskesmas Pameungpeuk), satu kasus (Puskesmas Cibatu), serta satu kasus di Wilayah kerja Puskesmas Pembangunan.

Selanjutnya satu kasus di Wilayah kerja Puskesmas Bojongloa, satu kasus (Puskesmas Pakuwon), satu kasus (Puskesmas Guntur), satu kasus (Puskesmas Sukamulya), satu kasus (Puskesmas Malangbong), satu kasus (Puskesmas Banjarwangi), satu kasus (Puskesmas Pasundan), satu kasus (Puskesmas Cibatu), satu kasus (Puskesmas Cibiuk), serta 13 kasus selesai pengobatan dan dinyatakan SEMBUH.
Upaya penanganan yang telah dilakukan, memfasilitasi Suspek TB MDR ke Rumah Sakit Rujukan TB MDR RSHS Bandung. Juga serah terima obat dan serah terima pasien dengan Rumah Sakit Rujukan TB MDR RSHS Bandung. Follow Up Pasien TB MDR ke Rumah Sakit Rujukan TB MDR RSHS Bandung.

Penemuan kasus di setiap seluruh Puskesmas pada 2015-2016, masing-masing 2015 terdapat 11.121 Suspek, 1.540 BTA Positip, 56,47 CDR, dengan 2.559 kasus TB.

Sedangkan pada 2016 ada 13.931 Suspek, 1.423 BTA Positip, 52,18 CDR, dengan 2.685 kasus TB.

Kondisi CDR (tingkat penemuan kasus TB Baru BTA Positip (+) 2012 (69,47), 2013 (62,77), 2014 (61,77), 2015 (56,47), serta kondisi CDR pada 2016 (52,18) dengan target 80 persen.

Sedangkan hasil pengobatan penderita TB Baru BTA Positip “Succes Rate” Kabupaten Garut 2011-2015, terdiri 2011 (93,91), 2012 (94,17), 2013 (92,28), 2014 (88,86), serta pada 2015 (89,42). kemudian target 90 persen.

Disusul hasil pengobatan penderita TB Baru BTA Positip Kesembuhan (Cure Rate) kabupaten Garut 2011-2015, masing-masing 2011 (87,53), 2012 (87,17), 2013 (81,01), 2014 (80,11), serta pada 2015 (83,25) sedangkan target 85 persen.

 

********